Jangan FOMO, Begini Cara Investasi Emas yang Benar Menurut Ekonom
Banyak negara menambah cadangan emas batangan sebagai strategi lindung nilai.
Suasana Butik Emas Antam di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, tampak lebih sibuk dari biasanya. Dalam beberapa hari terakhir, antrean masyarakat yang ingin membeli emas batangan semakin mengular. Minat tinggi terhadap logam mulia ini melonjak seiring kenaikan harga emas yang mencetak rekor terbaru.
Pada Sabtu (12/4), harga emas Antam kembali menanjak dan menyentuh angka tertinggi sepanjang masa di Rp1.904.000 per gram, naik Rp15.000 dari hari sebelumnya. Kenaikan ini menjadikan emas sebagai primadona investasi yang dianggap aman di tengah gejolak pasar global.
Namun di balik antusias masyarakat memborong emas, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengingatkan pentingnya kehati-hatian.
“Soal investasi emas, tipsnya ya, kalau ada uang lebih. Jangan ambil dari uang kebutuhan pokok. Gunakan uang dingin, sisa dari belanja bulanan,” ujar Bhima kepada merdeka.com, Senin (14/4).
Bhima menyarankan agar masyarakat membeli emas dalam gramasi kecil, di bawah 25 gram. Alasannya, emas dengan ukuran kecil lebih fleksibel untuk dicairkan ketika dibutuhkan dalam kondisi darurat.
“Kalau beli batangan kecil, lebih gampang diuangkan. Misalnya ada keperluan mendesak, jadi nggak perlu jual semuanya,” jelasnya.
Harga Emas Masih Akan Naik
Bhima memproyeksikan harga emas masih akan terus naik sepanjang tahun 2025. Ia bahkan menyebut harga logam mulia ini berpotensi mencapai Rp2,5 juta per gram di akhir tahun.
Kenaikan tajam ini dipicu oleh ketegangan global, khususnya kebijakan tarif impor baru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memicu gejolak di pasar keuangan.
“Kalau benar terjadi resesi global, harga emas akan melejit dan sangat kecil kemungkinan kembali ke harga sebelum 2025,” tegas Bhima.
Tak hanya faktor geopolitik, permintaan tinggi dari bank sentral berbagai negara juga menjadi penopang harga emas. Dalam menghadapi ketegangan dagang dan ketidakpastian global, banyak negara menambah cadangan emas batangan sebagai strategi lindung nilai.
“Permintaan dari bank sentral meningkat, pasokan emas jadi makin terbatas. Ini dorong harga naik, dan emas batangan cenderung stabil meski ekonomi memburuk,” pungkas Bhima.