Investor Pilih Rating Tinggi, Emiten di Bawah Single A Bakal Tersingkir?
Instrumen dengan peringkat di bawah single A menghadapi tantangan lebih besar untuk menarik minat pasar.
Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melihat preferensi investor di pasar surat utang korporasi kian mengerucut pada instrumen dengan peringkat tinggi.
Kepala Divisi Riset Pefindo, Suhindarto mengatakan, di tengah ketidakpastian global dan dinamika pasar keuangan, investor cenderung lebih selektif dengan mengutamakan keamanan investasi, sehingga obligasi berperingkat minimal single A menjadi pilihan utama.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menekan ruang gerak emiten dengan peringkat di bawahnya. Pefindo melihat adanya kecenderungan kuat bahwa aliran dana investor lebih banyak terserap ke instrumen dengan kualitas kredit yang lebih baik.
"Dari sisi investor kita melihat adanya preferensi investor terhadap peringkat single A ke atas yang mana ini akhirnya bisa berpotensi mendekat penerbitan dari instrumen-instrumen atau perusahaan-perusahaan yang memiliki peringkat di bawahnya," kata Suhindarto dalam Konferensi Pers Pefindo, Rabu (15/4).
Kendati demikian, ia mengungkapkan bahwa dalam situasi pasar yang dipengaruhi risiko eksternal seperti geopolitik dan fluktuasi nilai tukar, investor cenderung menghindari risiko yang lebih tinggi.
Hal ini membuat obligasi dengan peringkat single A ke atas menjadi lebih diminati karena dianggap memiliki risiko gagal bayar yang lebih rendah. Sebaliknya, instrumen dengan peringkat di bawah single A menghadapi tantangan lebih besar untuk menarik minat pasar.
Preferensi ini juga dipengaruhi oleh kebutuhan investor untuk menjaga kualitas portofolio, terutama di tengah potensi kenaikan yield yang dapat meningkatkan risiko harga pada obligasi.
Pasar Obligasi Jadi Alternatif di Tengah Lesunya Saham
Pefindo menyebut saat ini investor mulai melirik instrumen alternatif untuk mengoptimalkan imbal hasil. Salah satu yang mencuri perhatian adalah pasar surat utang korporasi yang dinilai menawarkan return lebih menarik dengan risiko yang relatif terukur.
Tren pergeseran minat investor ini sebagai salah satu faktor pendorong tetap solidnya penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026. Kondisi suku bunga yang masih terjaga rendah membuat investor semakin aktif mencari instrumen dengan yield lebih tinggi.
"Di tengah kondisi pasar saham yang kurang menunjukkan performa baik pasar surat utang korporasi ini menyediakan pilihan atau alternatif lain bagi investor untuk bisa menanamkan modalnya dengan imbal hasil yang cukup menarik," pungkas Suhindarto.