Investasi Jangka Panjang Sampoerna di Indonesia Capai Rp11 Triliun
Sampoerna paparkan strategi inovasi, kinerja, serta kontribusi ekonomi dalam Paparan Publik 2025. Laba kuartal III tercatat naik 25 persen year on year.
PT HM Sampoerna Tbk memaparkan strategi bisnis, capaian perusahaan, serta rencana inovasi dalam Paparan Publik 2025 yang digelar di IQOS Boutique SOL, Jakarta Selatan, Rabu (3/12).
Acara dimulai pukul 09.15 WIB dan dihadiri jajaran direksi, analis, investor, serta pemegang saham.
Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk, Ivan Cahyadi, menegaskan ketahanan perusahaan bersumber dari filosofi “tiga tangan” yang berfokus pada konsumen, karyawan, dan masyarakat.
“Sampoerna berawal dari UMKM, dari warung kecil pada tahun 1913. Tidak ada yang instan. Budaya inovasi membuat perusahaan ini terus tumbuh kuat hingga hari ini,” ujar Ivan.
Ia menyampaikan bahwa investasi jangka panjang Sampoerna di Indonesia telah mencapai Rp11 triliun, termasuk pembangunan fasilitas produk bebas asap pertama Philip Morris International di Asia Tenggara yang berlokasi di Indonesia.
Pangsa Pasar Menguat, Laba Kuartal III Naik 25 Persen
Direktur Sampoerna, Sharmen Karthigasu, memaparkan bahwa perusahaan mencatat peningkatan pangsa pasar sepanjang 2024–2025 meski industri hasil tembakau masih menghadapi tekanan.
“Kami fokus pada strategi harga dan produktivitas. Hasilnya, laba bersih kuartal III naik 25 persen year-on-year,” kata Sharmen.
Ia menambahkan bahwa penurunan laba bersih dalam sembilan bulan terakhir berhasil ditekan dari 36 persen menjadi 14 persen berkat efisiensi dan strategi komersial yang lebih terukur.
90 Ribu Tenaga Kerja, 19 Ribu Petani Bermitra
Sementara itu, Direktur Sampoerna Elvira Lianita menyoroti peran ekonomi perusahaan melalui kemitraan dengan 19.000 petani tembakau dan cengkeh serta penyerapan total 90.000 tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung.
Ia menyebut studi Universitas Airlangga yang mencatat efek ekonomi berganda 3,8 kali lipat dari keberadaan pabrik sigaret kretek tangan (SKT), mulai dari sektor transportasi hingga usaha rumah kos.
Elvira juga memaparkan program keberlanjutan perusahaan, antara lain penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah non-B3 hingga 99 persen, sertifikasi Alliance for Water Stewardship di seluruh pabrik, serta pembinaan komunitas SRC yang kini beranggotakan 250 ribu peritel.
“Program keberlanjutan bukan tren bagi kami. Ini komitmen selama 112 tahun, agar Sampoerna tumbuh besar bersama Indonesia,” tegas Elvira.
Reporter magang: Ahmad Subayu