Ekonom Ingatkan Risiko Konsentrasi DPK Bank Besar, Berpotensi Timbulkan Sistemik
Konsentrasi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tinggi pada bank-bank besar, khususnya KBMI IV, memicu kekhawatiran ekonom akan risiko konsentrasi DPK bank besar dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Ekonom terkemuka, Christiantoko dari NEXT Indonesia Center, baru-baru ini menyuarakan kekhawatirannya mengenai konsentrasi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang sangat tinggi pada bank-bank besar di Indonesia. Kondisi ini, menurutnya, dapat memicu risiko sistemik yang signifikan bagi stabilitas keuangan nasional.
Peringatan tersebut disampaikan di Jakarta, menyusul data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2025. Data menunjukkan bahwa empat bank kategori KBMI IV, yakni Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA, secara kolektif menguasai lebih dari separuh total DPK nasional.
Dominasi ini, meskipun mencerminkan kepercayaan publik, juga menuntut tata kelola yang sangat kuat. Tanpa pengawasan ketat, konsentrasi DPK yang masif ini berpotensi menimbulkan gejolak serius jika terjadi masalah pada salah satu institusi keuangan raksasa tersebut.
Dominasi Bank KBMI IV dan Potensi Risiko Sistemik
Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan tulang punggung operasional perbankan, berfungsi sebagai sumber pendanaan utama bagi penyaluran kredit dan menjaga likuiditas. Konsentrasi DPK yang signifikan pada segelintir bank besar menjadi sorotan utama dalam stabilitas sistem keuangan.
Berdasarkan laporan OJK per Juni 2025, empat bank raksasa yang masuk kategori KBMI IV, yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA, menguasai 53,44 persen dari total DPK nasional yang mencapai Rp9.329 triliun. Angka ini secara jelas menempatkan mereka sebagai pemain kunci dalam likuiditas perbankan.
Christiantoko menegaskan, "Angka tersebut menegaskan posisi mereka sebagai pemain dominan dalam likuiditas perbankan nasional. Namun konsentrasi terlalu tinggi pada bank-bank besar juga bisa menimbulkan risiko sistemik jika tidak disertai tata kelola yang kuat." Peringatan ini menyoroti perlunya pengawasan ketat terhadap bank-bank tersebut.
BCA Unggul dalam Penghimpunan Tabungan Masyarakat
Dalam segmen tabungan, Bank Central Asia (BCA) menunjukkan dominasinya yang kuat. Laporan triwulanan OJK per Juni 2025 mencatat bahwa BCA berhasil menghimpun tabungan senilai Rp587,5 triliun, menjadikannya pemimpin di kategori ini.
Capaian ini melampaui bank-bank pelat merah lainnya, seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan Rp554,7 triliun, Bank Mandiri Rp529,6 triliun, dan Bank Negara Indonesia (BNI) Rp265,1 triliun. Angka-angka ini menunjukkan preferensi masyarakat terhadap layanan BCA.
Christiantoko menilai bahwa pertumbuhan dana tabungan BCA mencerminkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin selektif. Mereka cenderung memilih bank dengan layanan digital yang stabil dan andal, didukung teknologi yang reliable untuk transaksi yang mudah dan aman.
Dominasi BRI dalam Deposito Berjangka Nasional
Berbeda dengan tabungan, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menunjukkan keunggulan signifikan dalam penghimpunan deposito berjangka. Per Juni 2025, BRI memimpin pasar dengan nilai deposito mencapai Rp506,1 triliun.
Dominasi BRI dalam deposito ini jauh meninggalkan pesaingnya di kategori KBMI IV. Bank Mandiri berada di posisi kedua dengan Rp314,8 triliun, diikuti BNI Rp243,8 triliun, dan BCA Rp192,9 triliun. Ini menunjukkan kekuatan BRI dalam menarik dana jangka panjang.
Menurut Christiantoko, kekuatan BRI didukung oleh basis nasabah yang luas dan loyal, termasuk segmen pensiunan, ASN, dan UMKM. Strategi penghimpunan dana mereka juga diperkuat oleh jaringan masif Agen BRILink serta produk deposito fleksibel berbasis digital (e-deposito).
Ia menambahkan, "Kekuatan BRI dalam menghimpun dana jangka panjang memberi ruang lebih besar untuk ekspansi kredit dan menjaga likuiditas. Namun, struktur pasar yang sangat terkonsentrasi juga menuntut pengawasan yang kuat agar risiko likuiditas dan stabilitas sistem tetap terkendali."
Mandiri Unggul di Giro, Melayani Segmen Korporasi
Bank Mandiri menonjol sebagai pemimpin pasar dalam penghimpunan dana giro. Pada Juni 2025, volume giro yang dikelola Mandiri mencapai Rp615,5 triliun. Capaian ini selaras dengan fokus bank tersebut yang selama ini menyasar nasabah korporat, segmen yang banyak menggunakan giro dalam bertransaksi.
Dalam kategori giro, BRI menempati posisi kedua dengan nilai Rp415,3 triliun, diikuti BCA dengan Rp382,5 triliun, dan BNI mencatat Rp376,8 triliun. Struktur ini memperlihatkan jarak yang cukup lebar antara Mandiri dan para pesaing terdekatnya dalam menarik transaksi korporasi dan institusi.
Dominasi Bank Mandiri di giro, BRI di deposito, dan BCA di tabungan secara jelas menunjukkan bagaimana masing-masing bank besar menguasai segmen utamanya. Peta ini sekaligus mencerminkan struktur DPK nasional yang semakin terpusat, menjadi indikator penting bagi stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews