Daftar Tokoh Dunia Selain Jokowi Gabung Dewan Penasihat Global Bloomberg New Economy
Presiden Jokowi terpilih sebagai anggota Dewan Penasihat Global Bloomberg New Economy, bergabung dengan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya.
Presiden Indonesia ketujuh, Joko Widodo (Jokowi), baru-baru ini terpilih sebagai anggota Dewan Penasihat Global Bloomberg New Economy. Inisiatif ini didirikan pada tahun 2018 untuk memfasilitasi dialog mengenai perubahan dalam peta ekonomi dunia. Jokowi bergabung dengan 21 anggota penasihat lainnya yang memiliki rekam jejak kepemimpinan di berbagai sektor.
Dewan penasihat ini dibentuk pada April 2025 dengan tujuan memberikan perspektif strategis dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Anggota dewan dipilih berdasarkan pengalaman dan pengaruh mereka dalam bidang bisnis, pemerintahan, dan institusi multilateral.
Beberapa tokoh kunci lainnya di Dewan Penasihat Global Bloomberg New Economy memiliki keahlian dan pengaruh yang signifikan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
Co-Ketua Dewan Penasihat
Gina Raimondo adalah mantan Menteri Perdagangan Amerika Serikat dan mantan Gubernur Rhode Island. Ia dikenal sebagai pengusaha dan pemodal ventura dengan pengalaman dalam menjembatani sektor publik dan swasta. Raimondo menyatakan, "Saat dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, kemajuan teknologi, dan krisis iklim, menemukan titik temu dan membangun kemakmuran global menjadi semakin penting."
Mario Draghi, mantan Perdana Menteri Italia dan mantan Presiden Bank Sentral Eropa, juga menjabat sebagai Co-Ketua. Draghi memiliki latar belakang yang kuat sebagai ekonom dan bankir investasi, serta pengalaman di pemerintahan dan institusi multilateral.
Gan Kim Yong, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, juga menjadi bagian dari dewan ini, membawa perspektif penting dari Asia Tenggara.
Anggota Dewan Penasihat Lainnya
Beberapa anggota lainnya yang juga memiliki pengaruh besar di Dewan Penasihat ini antara lain:
- Michael R. Bloomberg: Pendiri Bloomberg LP & Bloomberg Philanthropies, serta mantan Walikota New York City. Ia menyatakan, "Misi Bloomberg New Economy kini lebih relevan dari sebelumnya, mengingat banyaknya kekuatan yang mengubah ekonomi global."
- Noubar Afeyan: Salah satu pendiri Moderna dan CEO Flagship Pioneering, dengan fokus pada inovasi bioteknologi.
- Dawn Fitzpatrick: CEO & CIO Soros Fund Management, membawa keahlian dalam manajemen investasi global.
- Gita Gopinath: Ekonom di Harvard University dan Wakil Direktur Pelaksana Pertama IMF, dengan fokus pada kebijakan moneter.
- Merit Janow: Ketua Dewan Mastercard dan mantan Dekan SIPA Columbia University, berpengalaman dalam perdagangan internasional.
- Kai-Fu Lee: CEO 01.AI, berfokus pada kecerdasan buatan dan inovasi teknologi.
- Jorge Paulo Lemann: Pengusaha dan filantropis terkemuka, Ketua Lemann Foundation.
- Strive Masiyiwa: Pengusaha telekomunikasi dan pemimpin bisnis Afrika.
- Ravi Menon: Duta Besar untuk Aksi Iklim Pemerintah Singapura, fokus pada kebijakan iklim.
- Takeshi Niinami: Mantan Ketua & CEO Suntory Holdings, berpengalaman dalam kepemimpinan korporat.
- Eyal Ofer: Pengusaha dan investor di berbagai sektor.
- Charles Phillips: Managing Partner dan Co-Founder Recognize, berpengalaman di bidang teknologi.
- Suresh Prabhu: Mantan Menteri Perdagangan dan Industri India, berpengalaman dalam kebijakan perdagangan.
- Jing Qian: Co-Founder Center for China Analysis, fokus pada analisis Tiongkok.
- Steven Rattner: Ketua & CEO Willett Advisors LLC, pemodal dan penasihat keuangan.
- Marc Rowan: Co-Founder & CEO Apollo Global Management, pemimpin di industri manajemen aset alternatif.
- David Vélez: Co-Founder & CEO Nubank, inovator di sektor fintech.
- Josephine Wapakabulo: Pendiri & Managing Director TIG Africa, pemimpin bisnis dan teknologi di Afrika.
Apa Itu Bloomberg New Economy
Bloomberg New Economy adalah inisiatif global yang didirikan pada tahun 2018 untuk memfasilitasi dialog mengenai perubahan dalam peta ekonomi dunia. Forum ini muncul dari kesadaran bahwa kekuatan ekonomi global kini tidak lagi terpusat di wilayah Barat, tetapi telah bergeser ke arah Timur dan dari Utara ke Selatan.
Pergeseran ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti demografi, globalisasi, dan digitalisasi. Saat ini, negara-negara berkembang memiliki peran yang semakin signifikan dalam pertumbuhan ekonomi, di mana kesenjangan pembangunan semakin menyusut berkat akses yang lebih baik terhadap pendidikan, teknologi, perdagangan, dan investasi.
Bloomberg New Economy menjawab tantangan tersebut dengan menyelenggarakan forum internasional yang mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga aktivis. Sejak awal berdirinya, komunitas ini telah berkembang menjadi lebih dari 1.500 tokoh dari berbagai belahan dunia. Acara yang diselenggarakan oleh Bloomberg New Economy telah berlangsung di banyak kota besar di dunia, termasuk Singapura, Beijing, Marrakesh, dan Sao Paulo.
"Misi kami adalah menghadapi tantangan terbesar bagi kemakmuran global dan mendorong dialog menuju solusi," demikian tertulis dalam pernyataan resmi Bloomberg New Economy.