Cadangan Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah, Pemerintah Siap Kirim Bantuan ke Palestina
Stok CBP saat ini mencapai 3,7 juta ton, melebihi kebutuhan nasional.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membuka peluang untuk mengalokasikan cadangan beras pemerintah (CBP) sebagai bantuan kemanusiaan ke Palestina. Hal ini memungkinkan karena stok CBP saat ini mencapai 3,7 juta ton, melebihi kebutuhan nasional.
“Misi-misi kemanusiaan, apakah di Afrika, Palestina, dan lainnya sedang kami hitung. Berapa dari cadangan pangan kita yang bisa dialokasikan,” ujar Sudaryono saat meninjau Sentra Penggilingan Padi (SPP) Karawang, Kamis (15/5).
Ia mengapresiasi penyerapan gabah petani yang berjalan baik selama musim panen dan berharap kinerja tersebut bisa dipertahankan hingga akhir tahun.
“Kita masih punya delapan bulan ke depan. Saya minta semua pihak menjaga momentum ini,” katanya.
Sudaryono juga mendorong petani untuk terus aktif menanam. Menurutnya, keberhasilan menjaga cadangan pangan bergantung pada produksi yang maksimal.
“Kementan pastikan penanaman terus berjalan. Kalau nanam banyak, panen juga banyak. Artinya, cadangan pangan kita lebih kuat,” jelasnya.
Rencana Ekspor Beras ke Malaysia
Di kesempatan yang sama, Wamentan menyampaikan bahwa Indonesia tengah menjajaki kerja sama ekspor beras ke Malaysia sebesar 2.000 ton per bulan.
“Kemarin dibahas sekitar 2 ribu ton per bulan. Tapi Malaysia kan juga punya banyak mitra, jadi perlu dirinci lebih lanjut,” jelasnya.
Namun hingga kini, belum ada kontrak resmi yang diteken antara kedua negara. Kementan juga masih menunggu arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
“Intinya, kalau presiden sudah beri perintah, maka kami siap,” tegas Sudaryono.
Dalam kunjungannya ke Karawang, Wamentan juga menegaskan arahan Presiden Prabowo agar Perum Bulog lebih fokus menyerap **gabah petani**, bukan membeli beras jadi dari pedagang.
“Kalau beli beras, Bulog enggak ketemu petani, tapi ketemunya sama pedagang. Arahan Presiden jelas: serap gabah langsung dari sawah,” kata Sudaryono.
Sebagai Ketua Dewan Pengawas Bulog, ia menyampaikan bahwa kebijakan ini untuk memastikan petani merasakan langsung manfaat keberadaan pemerintah, terutama soal harga jual pascapanen.
Bulog Perkuat Infrastruktur Penggilingan
Sudaryono juga memamerkan fasilitas penggilingan padi modern di SPP Karawang yang dilengkapi 10 unit mesin pengolah. Fasilitas serupa disebut telah tersebar di berbagai daerah guna meningkatkan kapasitas penyerapan gabah oleh Bulog.
“Tujuannya agar Bulog betul-betul mampu menyerap gabah dari petani, mengolah, dan memasarkannya. Ini sangat menggembirakan,” ujarnya.
Ia mengklaim, perintah presiden telah dilaksanakan dengan baik. Saat ini, cadangan beras Bulog disebut mencapai 3,7 juta ton, tertinggi dalam sejarah, bahkan melampaui rekor era Presiden Soeharto pada 1984.
“Waktu itu Presiden Soeharto dapat penghargaan swasembada beras dari FAO. Sekarang, kita sudah melampaui rekor itu secara kuantitas. Ini buah kerja keras semua pihak, terutama para petani kita,” tutup Wamentan Sudaryono.