Membandingkan Kekuatan Militer Houthi Yaman Vs Amerika Serikat, Ada 1 'Senjata Dahsyat' yang Tak Dimiliki AS
Meskipun Houthi memiliki kemampuan serangan, kekuatan militer mereka jauh lebih lemah dibandingkan dengan Amerika Serikat.
Amerika Serikat menyerang wilayah Yaman yang dikuasai Houthi. Serangan langsung dikomandoi Presiden AS, Donald Trump.
Menurut TV Al-Masirah yang dikelola Houthi, pengeboman AS pada Sabtu (15/3) malam waktu setempat menewaskan sedikitnya 53 orang dan melukai 98 lainnya.
Bukannya takut, Houthi justru semakin bernyali melawan AS. Mereka berjanji akan melawan AS sekuat tenaga. Lantas seberapa kuat sebenarnya kekuatan militer Houthi?
Kekuatan militer Houthi di Yaman telah menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam konteks konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut.
Meskipun mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal, realitas menunjukkan bahwa kekuatan mereka tidak sebanding dengan militer Amerika Serikat yang terkenal canggih.
Dengan sekitar 20.000 pejuang, Houthi lebih berfungsi sebagai kelompok gerilya yang beroperasi di wilayah Yaman. Amerika Serikat, di sisi lain, memiliki keunggulan signifikan dalam hal teknologi militer dan jumlah personel.
Keberadaan Houthi sebagai kelompok yang mendapatkan dukungan dari Iran tidak serta merta menyamakan kekuatan mereka dengan militer Iran yang jauh lebih besar dan terorganisir.
Kekuatan Militer Houthi
Houthi telah menunjukkan kemampuan dalam melancarkan serangan menggunakan berbagai jenis senjata, termasuk drone dan rudal. Beberapa kemampuan yang mereka miliki antara lain:
- Penggunaan drone untuk serangan jarak jauh
- Rudal jelajah yang dapat menghantam target strategis
- Senjata anti-kapal yang mampu menyerang armada laut
Meskipun kemampuan ini cukup mengesankan, penting untuk dicatat bahwa Houthi tidak memiliki dukungan yang setara dengan militer konvensional. Seperti yang dinyatakan oleh beberapa analis, Houthi lebih merupakan kelompok gerilya yang beroperasi di dalam wilayah Yaman.
Perbandingan Kekuatan: Houthi vs Amerika Serikat
Dalam hal perbandingan kekuatan, jelas bahwa militer Amerika Serikat memiliki keunggulan yang sangat besar. Beberapa aspek yang menonjol antara keduanya adalah:
- Teknologi militer: AS memiliki sistem persenjataan yang lebih maju dan terintegrasi.
- Jumlah personel: AS memiliki lebih dari 1,3 juta personel aktif, jauh lebih banyak dibandingkan dengan 20.000 pejuang Houthi.
- Kekuatan global: AS memiliki kemampuan untuk mengerahkan kekuatan di seluruh dunia, sedangkan Houthi terbatas pada wilayah Yaman.
Dukungan Iran dan Implikasinya
Houthi mendapatkan dukungan dari Iran, yang memberikan mereka akses ke beberapa teknologi dan persenjataan. Namun, dukungan ini tidak menjadikan mereka setara dengan kekuatan militer Iran yang jauh lebih besar. Beberapa poin penting mengenai dukungan ini meliputi:
- Pengiriman senjata dan amunisi dari Iran ke Houthi.
- Pelatihan militer yang diberikan oleh Iran untuk meningkatkan kemampuan tempur Houthi.
- Strategi yang disusun untuk melawan musuh bersama, yaitu Arab Saudi dan sekutunya.
Meskipun dukungan ini meningkatkan kemampuan Houthi, tetap saja mereka beroperasi dalam batasan yang sangat ketat.
Strategi Houthi dalam Melawan AS
Strategi yang diterapkan oleh Houthi dalam melawan Amerika Serikat lebih bersifat taktis dan terfokus pada serangan terbatas. Mereka lebih memilih untuk menyerang aset-aset AS yang berada di dekat wilayah Yaman, seperti kapal-kapal di Laut Merah. Beberapa strategi yang diadopsi oleh Houthi antara lain:
- Melancarkan serangan mendadak dengan drone untuk mengejutkan musuh.
- Menargetkan kapal-kapal yang dianggap sebagai ancaman.
- Memanfaatkan informasi intelijen untuk merencanakan serangan.
Houthi Hanya Serang yang Terkait Israel, Agresi AS Tak Bisa Dibenarkan
Pejabat Houthi Yaman Mohammed Al-Bukhaiti menjawab isu serangan militer Amerika terhadap target-target Houthi di Yaman lewat wawancara yang dilakukan Al-Jazeera Network (Qatar) pada Sabtu (15/3) lalu.
Dalam keterangannya yang dikutip dari surat kabar Yaman MEMRI TV, Bukhaiti menilai serangan tersebut tidak dapat dibenarkan. Menurutnya seluruh operasi militer Houthi hanya ditujukan pada target-target Israel.
Mengetahui markas Houthi diserang AS, Al-Bukhaiti menyatakan bahwa Houthi akan membalas terhadap target-target Amerika, karena Amerika-lah yang memicu eskalasi tersebut.
"Operasi militer kami hanya menargetkan entitas Zionis, dan oleh karena itu, agresi Amerika ini tidak dapat dibenarkan. Kami akan menghadapi eskalasi dengan eskalasi dan tantangan dengan tantangan. Tidak diragukan lagi, akan ada pembalasan terhadap target-target Amerika, karena mereka memulainya dan kesalahan ada pada mereka," ucap Al-Bukhaiti.
'Senjata Dahsyat' Dimiliki Houthi: Hanya Takut pada Allah
Kekuatan militer Houthi banyak diragukan termasuk pembawa acara Al-Jazeera. Pembawa acara tersebut bahkan ragu dengan kemampuan Houthi untuk membalas serangan Amerika Serikat.
"Apakah kalian tidak takut kepada Donald Trump? Dia berbeda dengan para presiden AS sebelum ini. Dia mengancam Yaman dengan serangan militer. Dalam konteks ini apakah kalian tidak takut kepada AS yang dipimpin Trump?" ucap pembawa acara.
Al-Bukhaiti pun menjawab dengan tegas. Jawabannya mengungkap sebuah kekuatan dahsyat yang dimiliki Houthi tapi tidak dimiliki AS.
Dia mengungkap Houthi dan pasukannya tidak pernah takut dengan AS maupun Israel. Menurutnya, hanya Allah SWT yang layak untuk ditakuti.
"Kami hanya takut kepada Allah SWT. Dahulu kami juga ditakut-takuti dengan AS dan Israel. Namun kami tetap berperang hingga tercapainya gencatan senjata di Gaza. Benar bahwa dunia saat ini dikendalikan dengan kepentingan, ambisi dan ancaman. Sebab itu Yaman bangkit atas dasar agama, moral dan kemanusiaan," tegas Al-Bukhaiti.
Houthi Tak Berperang Demi Kemenangan tapi Demi Menunaikan Tugas Keagamaan, Moral & Kemanusiaan
Lebih lanjut, pembawa acara mengingatkan kekuatan militer Houthi yang tidak sebanding dengan AS. Namun pejabat Houthi meyakinkan bahwa pasukannya berperang bersama Allah SWT sehingga tidak bisa disandingkan secara materi.
"Dari sisi militer, kalian tidak bisa dibandingkan dengan AS," tanya pembawa acara.
"Tentu saja kalkulasi keimanan berbeda dengan kalkulasi materi. Sekuat apapun AS mereka tidak lebih kuat dari Allah SWT. Kita semua di bawah kuasa Allah baik itu AS atau seluruh dunia. Apa yang tidak bisa diwujudkan AS di masa Biden, juga tidak bisa diwujudkan di masa Trump," balas Al-Bukhaiti.
"Harus kami tegaskan bahwa kami tidak berperang demi kemenangan. Kami berperang demi menunaikan tugas keagamaan, moral dan kemanusiaan," kata Bukhaiti.
Pernyataannya seakan menyasar kebijakan banyak negara Arab yang lebih memilih berdamai dan menjalin hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, hal tersebut tak lebih dari sebuah pengkhianatan dan sikap menyerah.
"Jika kami tidak melakukannya, berarti kami melakukan perjudian. Berjudi dengan apa? Dengan kekekalan di neraka. Mana yang lebih mudah? Gugur di tangan musuh Allah dan umat Islam, serta meraih kemenangan dengan terhindar dari neraka atau menyerah, bungkam, berkhianat dan kemudian masuk ke neraka?" pungkasnya.