Galak ke Iran, Kenapa Amerika Serikat Diam Saja soal Senjata Nuklir Israel?
Ketidakkonsistenan kebijakan luar negeri AS terkait senjata nuklir Iran dan Israel menimbulkan pertanyaan mendalam tentang politik global.
Amerika Serikat begitu galak kepada Iran dan Korea Utara soal program nuklir. AS bahkan berkali-kali menerapkan embargo hingga isolasi ekonomi kepada Iran dan Korut.
Iran bahkan diancam akan diserang secara militer oleh AS. Namun sikap berbeda justru diterapkan AS kepada Israel. Padahal, banyak laporan menyebut Israel memiliki ratusan senjata nuklir.
Tak tanggung-tanggung, Israel diduga memiliki 80 sampai 400 hulu ledak nuklir. Meski tak pernah mengakui atau membantah memiliki senjata nuklir, Israel diyakini memiliki senjata pemusnah massal itu.
Banyak badan intelijen dunia, termasuk CIA, menyakini fasilitas nuklir Israel berada di Dimona, Gurun Negev.
Ketidakkonsistenan kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) dalam menangani isu senjata nuklir ini menimbulkan pertanyaan tentang standar ganda dan motif politik yang mendasari kebijakan luar negeri AS.
Hubungan strategis yang terjalin antara AS dan Israel sangat kuat, didasarkan pada kepentingan bersama di timur tengah. Faktor politik dalam negeri AS juga turut berperan dalam ketidakkonsistenan ini.
Seperti diketahui, pengaruh lobi Israel di AS begitu besar. Kelompok lobi pro-Israel (seperti AIPAC) sangat kuat di Kongres dan Gedung Putih. Banyak politisi AS "berutang budi" atau didukung dana kampanye oleh kelompok ini. Hal inilah yang membuat para elite di AS mendukung Israel.
Berbeda dengan Iran. Negeri para Mullah ini bukanlah sekutu AS dan dianggap berbahaya bagi kepentingan AS dan Israel di timur tengah. Simak ulasan selengkapnya.
Persekutuan AS dan Israel
foto: Reuters/ Leah Millis Reuters/ Leah Millis
Amerika Serikat dan Israel memiliki hubungan yang kuat yang telah terjalin selama beberapa dekade. AS memandang Israel sebagai sekutu penting di Timur Tengah untuk menjaga kepentingan negeri Paman Sam.
Dukungan AS kepada Israel mencakup bantuan militer dan diplomatik yang signifikan. Menurut data, AS memberikan bantuan militer tahunan kepada Israel yang mencapai miliaran dolar, yang dianggap sebagai bagian integral dari strategi keamanan regional.
Israel adalah sekutu terdekat Amerika di Timur Tengah. Israel adalah "benteng" Amerika melawan musuh-musuhnya di kawasan Timur Tengah, terutama Iran dan kelompok anti-AS lainnya.
Amerika juga ingin hanya Israel yang memiliki kekuatan nuklir di Timur Tengah untuk menjaga kepentingannya. Negara lain, terutama Iran, dianggap ancaman langsung jika punya teknologi serupa.
Kebijakan "Strategic Ambiguity" Israel
foto: Reuters / Leah Millisis Reuters / Leah Millisis
Israel menerapkan kebijakan ambiguitas nuklir, di mana mereka tidak secara resmi mengonfirmasi atau menyangkal kepemilikan senjata nuklir. Hal ini tentu saja menguntungkan Amerika Serikat (AS).
Sebab dengan sikap Israel tersebut, AS akan bersikap pasif alias diam. AS juga tidak akan menekan Israel soal NPT (Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir).
Kebijakan ambiguitas ini memberikan Israel keleluasaan untuk mempertahankan posisinya tanpa tekanan internasional yang signifikan.
Beberapa keuntungan Israel tidak secara resmi mengakui nuklirnya:
- Tidak memancing perlombaan senjata di Timur Tengah secara terbuka.
- Tidak melanggar "resmi" aturan internasional.
- Tapi musuh-musuh Israel tetap takut.
- Win-win buat AS dan Israel.
Nuklir Iran Ancaman buat AS dan Israel
Kekhawatiran tentang proliferasi senjata nuklir di Timur Tengah menjadi salah satu alasan utama bagi AS untuk mengkritik program nuklir Iran. AS melihat program nuklir Iran sebagai ancaman serius terhadap kepentingannya di timur tengah dan kepada sekutunya Israel.
Selain itu, Iran bukanlah sekutu AS dan dekat dengan Iran dan China. Iran juga salah satu negara di timur tengah yang tidak bisa 'ditaklukan' menjadi 'anak buah' AS.
Bukannya jadi kawan, Iran justru dengan berani melawan Amerika dan tetap konsisten anti-Israel. Sikapnya yang tidak mau tunduk pada Barat membuat potensi nuklir Iran menjadi ancaman langsung ke Israel & AS.