Akankah AS Jadi Gabung Israel Ikut Perang Lawan Iran? Begini Analisis Pengamat
Trump sebelumnya mengisyaratkan bakal membantu Israel melawan Iran saat memerintahkan evakuasi penduduk Teheran.
Presiden Donald Trump belum memutuskan apakah Amerika Serikat (AS) akan membantu Israel dalam perang melawan Iran. Namun sebelumnya, Trump telah mengisyaratkan akan bergabung dengan Israel dalam perang melawan Iran ketika memerintahkan evakuasi penduduk Teheran.
"Iran seharusnya telah menandatangani "perjanjian" yang saya minta mereka tandatangani. Memalukan, dan menyia-nyiakan nyawa manusia. Singkat saja, IRAN TIDAK BISA MEMILIKI SENJATA NUKLIR. Saya sudah menyampaikan ini berkali-kali!" cetusnya dalam cuitannya di media sosial Truth Social.
"Siapa pun harus segera mengevakuasi Teheran!" lanjutnya.
AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, kendati belum ada bukti. Iran selalu menegaskan pengembangan nuklirnya untuk kepentingan sipil.
Akankah Trump pada akhirnya akan memutuskan AS akan bergabung dengan Israel untuk melawan Iran?
Menurut mantan diplomat Italia, Marco Carnelos, dalam opininya yang diterbitkan Middle East Eye pada Jumat (20/6), keputusan krusial ini tengah ditunggu komunitas internasional. Namun, lanjutnya, Trump juga punya masalah di dalam negeri yaitu bagaimana memenuhi janji kampanye kepada para pemilihnya.
"Konstituen Maga-nya (Make America Great Again), yang dia janjikan "America First" dan tidak ada lagi perang tak berkesudahan," tulis Carnelos.
Bahkan, lanjutnya, mantan penasihat strategis Trump, Steve Bannon telah mengeluarkan peringatan keras menentang AS ikut perang melawan Iran.
"... dan untuk mendapatkan gambaran tentang seberapa besar perubahan arah di antara basis Maga, saksikan saja wawancara komentator konservatif Tucker Carlson yang mengecam dengan Senator Ted Cruz, salah satu pendukung Israel yang paling bersemangat di Kongres," jelas Carnelos.
"Namun, elemen yang paling menyedihkan dari semua ini adalah perasaan deja vu yang sangat besar yang muncul dari babak terbaru keterlibatan AS di Timur Tengah."
Jika Trump menggunakan dalih Iran mengembangkan senjata nuklir sebagai alasan ikut perang, Carnelos mengatakan isu ini masih spekulatif. Bahkan, belum ada bukti bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir, seperti yang disampaikan Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, kepada Kongres pada Maret lalu.
Kepada Kongres AS, Gabbard mengatakan berdasarkan peninjauan komunitas intelijen, Iran tidak sedang membangun senjata nuklir dan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei belum mengesahkan program senjata nuklir yang dihentikannya pada tahun 2003.
"Dengan kata lain, tidak ada ancaman yang mengancam, bertentangan dengan pernyataan Israel," kata Carnelos.
"Pada tahun 2003, pemerintahan Bush mengklaim memiliki intelijen yang menunjukkan bukti senjata pemusnah massal untuk membenarkan invasinya ke Irak. Dalam beberapa bulan, klaim ini terbukti salah."
"Kali ini, badan intelijen AS telah mencapai kesimpulan bahwa Iran tidak sedang membangun senjata nuklir - tetapi tampaknya mengabaikan penilaian ini, presiden mungkin akan terjerumus ke dalam perang pilihan lainnya yang, dalam kata-kata Bannon sendiri, dapat "menghancurkan negara"," lanjutnya.
Carnelos mengatakan, dukungan Trump terhadap gelombang agresi terbaru Israel menunjukkan masalah sebenarnya bukanlah program nuklir Iran, tetapi Iran sendiri dalam konfigurasi politik saat ini.
"Aset militer AS sedang dipindahkan ke posisi yang memungkinkan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan, meskipun belum ada keputusan akhir yang diambil," catatnya.
"Dalam kasus seperti itu, tidak mengherankan jika terjadi operasi bendera palsu (false flag), yang dengan cepat dikaitkan dengan Iran melalui pemutarbalikan fakta yang cerdik oleh media yang berpuas diri, untuk mendorong para pemimpin yang tidak berpengalaman, bodoh, dan impulsif untuk mengambil keputusan yang "tepat". Sayangnya, Trump sangat cocok dengan deskripsi ini," tutupnya.