Disebut Jalur Gaza, Tokoh Masyarakat dan Pemerintah Desa Minta Terminal Majalaya Dikembalikan Fungsinya
Masyarakat meminta agar terminal Majalaya dikembalikan ke fungsi asalnya.
Terminal Majalaya di Kabupaten Bandung terbengkalai dan disebut mirip seperti jalur Gaza. Masyarakat dan pemerintah desa meminta agar terminal yang banyak dipakai oleh pedagang kaki lima bisa dikembalikan sesuai dengan fungsi awalnya.
Pemerintah desa dan karang taruna mengadakan pertemuan dengan berbagai pihak terkait. Pertemuan itu dihadiri oleh perwakilan dari PT. KAI, Dishub Kabupaten Bandung, Disperindag, Camat Majalaya, Kades Majalaya, dan para tokoh masyarakat.
Hal itu dilakukan agar fasilitas umum di Majalaya yang kini sudah beralih fungsi menjadi pasar dan pembuangan sampah sementara bisa kembali dimanfaatkan oleh masyarakat yang telah membayar pajak. Simak ulasannya.
Masyarakat Minta Terminal Majalaya Dikembalikan Fungsinya
Ketua Karang Taruna, Sunsun Nugraha mengaku mendapatkan dukungan dari kepala Desa Majalaya, H. Ate Saepudin untuk berjuang mengembalikan fungsi fasilitas umum terminal Majalaya untuk masyarakat.
Dari pertemuan yang dihadiri oleh pihak terkait, rencananya permohonan ini akan dibawa ke pemerintah daerah Kabupaten Bandung, sehingga bisa ditindaklanjuti oleh kepala dinas masing-masing.
“Harapan dari kita agar masyarakat pengguna fasilitas umum bisa benar benar merasakan fasilitas yang memang seharusnya mereka dapatkan,” ucapnya.
"Kami terus mendorong bagaimana caranya agar apa yang kami rencanakan bisa ter realisasi. Karena terminal adalah salah satu fasilitas umum yang dimana masyarakat sudah membayarkan pajaknya untuk dapat menikamati fasilitas publik yang layak," Sunsun menambahkan.
Sementara itu, Kepala Desa Majalaya, H. Ate Saepudin mengatakan jika pemilik tanah, yaitu PT KAI DAOP 2 Bandung akan mempelajari terlebih dahulu dan mencari solusi.
“Akhirnya sama orang yang punya tempatnya (terminal) KAI nanti dipelajari dulu,” ucapnya.
Selain itu, kades juga menyampaikan jika Bupati Bandung akan turun tangan untuk menertibkan. “Nanti akan ditertibkan sama bapak Bupati,” lanjutnya.
Terminal Tidak Terurus Sejak Lama
Menurut keterangan dari Kades, kondisi kumuh yang terjadi di Terminal Majalaya dimulai ketika ada oknum yang berjualan di tempat tersebut. Hal itu membuat masyarakat lain juga ikut terjun berjualan.
Kapolsek Majalaya meminta kepada kepala desa dan masyarakat untuk selalu waspada jika ada orang tidak bertanggung jawab yang mengaku dari KAI datang. Kapolsek mengimbau agar tidak mengindahkan permintaan apapun dari mereka.
Hal itu karena pada tahun 2017 dan 2018 yang lalu pernah datang seorang tidak bertanggung jawab mengaku dari KAI meminta (uang) kepada semua pengguna lahan di terminal Majalaya.
Di sisi lain, para pedagang kaki lima yang berjualan di terminal Majalaya siap untuk dipindahkan jika memang diperlukan. Pihak desa memohon agar pasar tersebut tersebut dikembalikan fungsinya dan dibangun seperti paskal-paskal untuk berjualan.
“Pedagang kaki lima dibantu pemerintahan UMKM kami siap pindah bila mana relokasi pasar yang sudah A1,” ungkap Ate Saepudin.
“Saya pribadi yang sering main ke Bandung harusnya Majalaya itu seperti paskal,” lanjutnya.
Ketika ditanya perihal pengembalian fungsi terminal Majalaya, ia mengatakan jika keputusan itu berada di tangan Dishub, pemerintah daerah dan PT. KAI, sebagai pemilik lahan dan pemegang kuasa atas wilayah tersebut.
“Itu tergantung antara dishub, kabupaten dan PT KAI, kalau dari desa itu seharunya ada penghijaun terus di bangun ruko-ruko seperti paskal aja,” pungkasnya.