JPO Terminal Rambutan Rusak Parah, Warga Keluhkan Bahaya dan Keresahan Sosial

Kondisi JPO Terminal Rambutan rusak parah selama bertahun-tahun, menimbulkan kekhawatiran keselamatan dan keresahan sosial bagi warga sekitar yang berharap adanya perbaikan mendesak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
JPO Terminal Rambutan Rusak Parah, Warga Keluhkan Bahaya dan Keresahan Sosial
Kondisi JPO Terminal Rambutan rusak parah selama bertahun-tahun, menimbulkan kekhawatiran keselamatan dan keresahan sosial bagi warga sekitar yang berharap adanya perbaikan mendesak. (AntaraNews)

Warga Jakarta Timur mengeluhkan kondisi jembatan penyeberangan orang (JPO) di Terminal Kampung Rambutan yang memprihatinkan. JPO ini telah rusak parah selama bertahun-tahun tanpa perbaikan yang berarti. Kerusakan ini menimbulkan kekhawatiran serius akan keselamatan para pejalan kaki yang melintas.

Menurut kesaksian warga sekitar, Sarah (29), kerusakan JPO tersebut sudah berlangsung sangat lama, diperkirakan antara dua hingga tiga tahun. Bahkan, ia menduga kerusakan telah terjadi lebih dari tiga tahun. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat JPO adalah fasilitas publik vital untuk menunjang keselamatan pejalan kaki.

Keresahan masyarakat semakin meningkat karena fasilitas yang seharusnya aman justru dibiarkan terbengkalai. Warga berharap adanya tindakan cepat dari pihak berwenang. Perbaikan JPO ini menjadi prioritas agar tidak membahayakan pengguna dan mengembalikan fungsi utamanya.

Kondisi fisik JPO Terminal Rambutan saat ini sangat mengkhawatirkan dan jauh dari kata layak. Bagian alas jembatan dilaporkan sudah amblas di beberapa titik. Struktur jembatan juga mulai goyah, menimbulkan rasa takut bagi siapa saja yang mencoba melintasinya.

Sarah, seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa banyak orang kini enggan menggunakan JPO tersebut karena kondisinya. "Lihat aja seperti itu kondisinya. Orang sudah takut lewat situ. Alasnya juga sudah amblas. Saya saja ngeri," ujarnya. Hal ini menunjukkan tingkat keparahan kerusakan yang ada.

Selain kerusakan pada alas dan struktur, bagian atap JPO juga mengalami kerusakan parah. Banyak bagian atap yang hilang, membuat jembatan terlihat tidak terawat dan kotor. JPO yang dulunya memiliki atap kini tampak terbengkalai dan kumuh.

Kerusakan atap ini tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga mempercepat kerusakan material JPO akibat paparan cuaca. Kondisi ini semakin memperparah kesan kumuh dan tidak terawat pada fasilitas publik penting ini.

Selain masalah keselamatan fisik, JPO Terminal Rambutan juga diduga menjadi lokasi aktivitas sosial yang meresahkan masyarakat sekitar. Jembatan ini kerap digunakan sebagai tempat berkumpul dan bahkan tidur oleh sejumlah individu. Aktivitas ini terjadi hampir setiap hari, terutama pada sore hingga malam hari.

Sarah menjelaskan bahwa orang-orang yang berkumpul di JPO tersebut seringkali tidak jelas identitasnya. Ia juga menyaksikan adanya perilaku yang mengganggu ketertiban umum. "Kalau sore sampai malam, banyak orang nongkrong, tidur di situ. Orang-orang yang tidak jelas siapa-siapanya," ungkapnya.

Keresahan warga semakin bertambah dengan adanya indikasi aktivitas mabuk-mabukan di area JPO. Sarah menyebutkan, "Terus kalau saya lihat hampir tiap malam ada saja yang kaya orang mabuk di situ." Kondisi ini tentu saja menimbulkan rasa tidak aman bagi warga yang terpaksa melintas.

Situasi ini tidak hanya mengancam keselamatan fisik akibat kerusakan JPO, tetapi juga menciptakan lingkungan yang tidak kondusif. Warga merasa terganggu dan khawatir akan dampak negatif dari aktivitas meresahkan tersebut.

Warga lain, Heru (44), menyoroti desain awal JPO yang kurang mempertimbangkan kebutuhan semua lapisan masyarakat. Ia menilai keberadaan tangga yang tinggi menjadi hambatan, khususnya bagi pengguna lanjut usia dan penyandang disabilitas. "Orang sudah malas naik tangga. Apalagi yang tua-tua, tidak mau sudah ga kuat," kata Heru.

Permasalahan aksesibilitas ini menambah daftar keluhan terhadap JPO tersebut, di samping kondisi fisiknya yang rusak parah. Desain yang tidak ramah pengguna membuat JPO ini kurang efektif dalam memenuhi fungsinya sebagai fasilitas penyeberangan yang aman dan nyaman.

Menanggapi keluhan warga, Kepala Terminal Bus Kampung Rambutan, Revi Zulkarnain, menjelaskan bahwa pengelolaan JPO tersebut bukan berada di bawah kewenangannya. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab perbaikan dan pemeliharaan JPO berada di bawah Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta. "Itu (JPO) bukan ranah kami, tapi Bina Marga," kata Revi.

Pernyataan ini memperjelas pembagian tugas dan tanggung jawab antar instansi pemerintah. Diharapkan Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta dapat segera mengambil tindakan konkret untuk memperbaiki JPO Terminal Rambutan. Perbaikan menyeluruh sangat dibutuhkan demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi