Apa Saja Serangga yang Boleh Dikonsumsi Menurut Penelitian? Guna Wacana Terbaru Makan Bergizi Gratis
Serangga dianggap sebagai sumber protein alternatif yang aman dalam program Makan Bergizi Gratis. Berikut adalah daftar serangga yang dapat dikonsumsi.
Serangga kini mulai diperhatikan sebagai sumber protein alternatif dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan oleh pemerintah. Wacana ini diungkapkan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang mengemukakan bahwa serangga bisa menjadi bagian dari menu MBG, terutama di wilayah yang sudah terbiasa mengonsumsinya.
Gagasan ini mendapatkan perhatian yang besar, baik dari ahli gizi maupun masyarakat luas. Beberapa pakar berpendapat bahwa konsumsi serangga dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan protein yang terjangkau dan berkelanjutan. Namun, ada juga yang menekankan pentingnya proses pengolahan yang higienis agar aman untuk dikonsumsi.
Dokter Spesialis Gizi Klinik di RS Universitas Indonesia (RSUI), Anna Maurina Singal, menegaskan bahwa serangga bisa menjadi sumber protein yang baik jika diolah dengan benar. "Perlu diperhatikan berbagai metode khusus dalam mengolah serangga menjadi makanan," ungkap Anna, melansir dari Merdeka.com.
Meskipun demikian, penerapan serangga sebagai makanan di tingkat nasional masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Preferensi budaya dan kebiasaan makan anak-anak juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, kebijakan MBG harus tetap mempertimbangkan habitus gizi anak, mengingat belum semua daerah di Indonesia terbiasa dengan makanan berbasis serangga.
Daftar Serangga yang Aman Dikonsumsi
Tidak semua jenis serangga dapat dimakan. Berdasarkan berbagai penelitian, lebih dari 2.100 spesies serangga di seluruh dunia telah diidentifikasi sebagai aman untuk dikonsumsi. Di Indonesia, beberapa jenis serangga telah menjadi bagian integral dari kuliner lokal di berbagai daerah. Berikut adalah beberapa spesies serangga yang dianggap aman dan kaya nutrisi:
- Jangkrik (Acheta domesticus) - Kaya akan protein dan mengandung asam lemak yang bermanfaat untuk kesehatan.
- Belalang (Locusta migratoria) - Merupakan sumber protein yang tinggi dengan kadar lemak yang rendah.
- Ulat Hongkong (Tenebrio molitor) - Mengandung protein, lemak sehat, serta serat chitin yang baik untuk sistem pencernaan.
- Ulat Sagu (Rhynchophorus ferrugineus) - Memiliki kandungan energi yang tinggi, sering disantap dalam keadaan mentah atau setelah dipanggang.
- Kumbang Kelapa (Oryctes rhinoceros) - Sangat populer di kawasan Asia Tenggara dan dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi.
Selain di Indonesia, praktik mengonsumsi serangga juga umum di beberapa negara lain. Meksiko terkenal dengan taco belalang, sementara di Thailand dan Kamboja, terdapat menu jangkrik dan tarantula goreng. Bahkan, Badan Pangan Singapura (SFA) telah memberikan persetujuan terhadap 16 jenis serangga untuk dikonsumsi, termasuk belalang sembah, ulat hongkong, dan beberapa spesies kumbang lainnya.
Bagaimana Cara Mengolah Serangga agar Aman Dikonsumsi?
Walaupun serangga memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, penting untuk melakukan proses pengolahan dengan hati-hati agar keamanan pangan tetap terjaga. Serangga yang akan dikonsumsi sebaiknya berasal dari sumber yang terjamin, tidak dari alam liar, untuk mencegah risiko terpapar pestisida, logam berat, atau mikroba berbahaya. Beberapa metode pengolahan yang disarankan meliputi:
- Pengeringan: Proses ini dapat memperpanjang umur simpan dan membuat serangga dapat diolah menjadi tepung protein.
- Penggorengan: Metode ini memberikan tekstur renyah, meskipun dapat meningkatkan kandungan lemak.
- Panggang atau Rebus: Cara ini efektif untuk membunuh bakteri tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi.
Dalam beberapa sektor industri makanan, serangga bahkan diolah menjadi produk inovatif seperti protein bar dan biskuit yang berbahan dasar jangkrik.
Tantangan Penerapan Serangga dalam Program Makan Bergizi Gratis
Meskipun serangga memiliki potensi gizi yang tinggi, penerapan makanan berbasis serangga dalam Menu Berbasis Gizi (MBG) masih menghadapi sejumlah tantangan. Menurut pakar gizi Idham Cholid, banyak anak di Indonesia yang belum terbiasa dengan konsumsi makanan yang berasal dari serangga.
Selain itu, penting untuk memperhatikan kandungan protein yang ada dalam serangga. Dr. Anna Maurina Singal menekankan bahwa asupan protein harus memenuhi kebutuhan harian anak. Misalnya, jika seorang anak membutuhkan 40 gram protein setiap hari, tetapi hanya mendapatkan 5 gram dari serangga tanpa adanya sumber protein tambahan lainnya, maka konsumsi serangga tersebut menjadi tidak efektif.
"Saran saya diperlukan penelitian komprehensif untuk berbagai jenis serangga-serangga di Indonesia sebagai bahan makanan sumber protein untuk bisa masuk ke dalam database Daftar Bahan Makanan Penukar di Indonesia. Di dalamnya akan terdiri atas jenis serangga dan sejumlah berapa banyak dari satu jenis serangga tersebut untuk memberikan jumlah protein, lemak, mikronutrien tertentu," ujarnya.
Apakah Konsumsi Serangga Aman untuk Semua Orang?
Meskipun serangga kaya akan nutrisi, ada beberapa risiko yang harus diperhatikan, terutama terkait dengan alergi. Orang-orang yang memiliki alergi terhadap makanan laut, seperti udang dan kepiting, mungkin juga berisiko mengalami reaksi alergi saat mengonsumsi serangga. Selain itu, beberapa jenis serangga dapat mengandung toksin alami yang berbahaya, sehingga pemilihannya perlu dilakukan dengan cermat.
Untuk itu, dokter gizi klinik Anna Maurina Singal merekomendasikan agar penelitian lebih lanjut dilakukan sebelum serangga dimasukkan dalam daftar bahan makanan utama.
Bagaimana Regulasi Konsumsi Serangga di Negara Lain?
Sejumlah negara telah menerapkan peraturan mengenai konsumsi serangga sebagai alternatif pangan. Contohnya, Badan Pangan Singapura (SFA) telah memberikan persetujuan terhadap 16 spesies serangga yang dapat dikonsumsi, dengan syarat ketat yang mencakup kewajiban untuk membudidayakan serangga tersebut dalam lingkungan yang higienis.
Di sisi lain, Uni Eropa telah mengizinkan beberapa jenis serangga untuk dijual sebagai bahan pangan sejak tahun 2021, dengan menerapkan standar ketat terkait keamanan serta proses pengolahannya. Sementara itu, di Indonesia, regulasi mengenai konsumsi serangga masih dalam tahap kajian lebih lanjut.
1. Apakah serangga benar-benar sehat untuk dikonsumsi?
Ya, serangga mengandung protein tinggi, lemak sehat, serta vitamin dan mineral esensial.
2. Apa saja jenis serangga yang paling banyak dikonsumsi?
Dalam dunia serangga, terdapat berbagai jenis yang menarik perhatian, seperti jangkrik, belalang, ulat sagu, ulat hongkong, dan kumbang kelapa.
3. Bagaimana cara memastikan serangga aman untuk dimakan?
Serangga yang digunakan harus berasal dari budidaya yang dilakukan secara terkontrol. Selain itu, proses pengolahan serangga juga harus dilakukan dengan metode yang tepat, seperti pengeringan, penggorengan, atau pemanggangan.
4. Apakah semua orang bisa makan serangga?
Tidak. Individu yang memiliki alergi terhadap makanan laut berisiko mengalami reaksi alergi terhadap serangga.