TikTok Lagi-lagi Digugat, Bikin Seorang Remaja Tewas
Sejumlah orang tuamengajukan gugatan hukum terhadap TikTok setelah anak-anak mereka diduga tewas akibat mengikuti tantangan di platform itu.
Nasib TikTok di Amerika Serikat masih belum jelas, karena saat ini sedang menunggu keputusan terkait pihak mana yang akan mengakuisisi aplikasi tersebut.
Di sisi lain, kontroversi baru muncul di Inggris terkait aplikasi TikTok, yang berhubungan dengan kematian beberapa remaja dan anak-anak.
Kematian ini diduga disebabkan oleh tantangan yang ada di platform tersebut, yang dikenal sebagai TikTok challenge.
Akibatnya, sejumlah orang tua di Inggris mengambil langkah hukum dengan menggugat TikTok melalui sebuah organisasi yang berbasis di Amerika. Hal ini sebagaimana dilaporkan oleh Android Headlines, Senin (10/2).
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa terdapat beberapa kasus kematian remaja yang diduga berpartisipasi dalam tantangan TikTok.
Sesuai namanya, tantangan ini mengajak pengguna untuk melakukan aktivitas tertentu dan membagikannya kepada komunitas TikTok.
Namun, banyak dari aktivitas tersebut justru berpotensi membahayakan kesehatan, bahkan dapat berakibat fatal. Bahaya ini tidak semata-mata berasal dari TikTok, melainkan dari pengguna yang cenderung mengikuti tantangan berisiko tersebut.
Para orang tua korban merasa bahwa aplikasi TikTok telah berkontribusi pada masalah ini, karena algoritmanya dianggap merekomendasikan konten tantangan TikTok kepada anak-anak mereka.
Pusat Hukum Korban Media Sosial yang berlokasi di Amerika Serikat kini menuntut TikTok atas nama orang tua dari empat remaja asal Inggris, yang menjadi korban dari tantangan TikTok yang berujung pada insiden tragis.
Keempat remaja tersebut adalah Isaac Kenevan, Archie Battersbee, Julian Sweeney, dan Maia Walsh. Mereka diduga mengikuti "tantangan blackout," yang berpotensi menyebabkan kematian mereka.
Gugatan yang diajukan menyatakan bahwa ByteDance telah merancang TikTok sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan ketergantungan yang berbahaya pada anak-anak.
"Platform ini telah membanjiri anak-anak dengan aliran ancaman yang tampaknya tiada akhir. Ini bukanlah bahaya yang diinginkan atau dicari oleh anak-anak ketika mereka mulai menggunakan TikTok," demikian isi dari gugatan tersebut.
Di sisi lain, TikTok membantah klaim tersebut dengan menyatakan bahwa pencarian terkait "blackout challenge" telah diblokir sejak tahun 2020.
Perusahaan juga menegaskan bahwa mereka secara aktif melarang semua jenis konten yang berbahaya. TikTok bahkan mengarahkan pengguna yang mencari tren berbahaya ini menuju laman Safety Center untuk memberikan informasi dan perlindungan yang lebih baik.
Minta TikTok Buka Akses
Salah satu orang tua korban, Ellen Roome, sedang berusaha meminta akses dari TikTok untuk akun anaknya. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai penyebab kematian putranya.
Roome mencurigai bahwa insiden tersebut berkaitan dengan partisipasi Julian dalam tantangan TikTok yang sedang viral.
Meskipun demikian, TikTok belum memberikan izin kepada Ellen untuk mengakses akun anaknya. Ia juga berjuang agar pemerintah menetapkan regulasi yang memungkinkan orang tua mengakses profil media sosial anak mereka dalam situasi serupa.
Challenge TikTok yang Berbahaya
Tantangan berbahaya di TikTok memang muncul dari waktu ke waktu, meskipun saat ini tantangan tersebut jarang terlihat.
Pada masa lalu, ketika tren yang dianggap berisiko banyak bermunculan di platform sosial ini, perusahaan berusaha untuk meningkatkan deteksi terhadap tren berbahaya pada tahun 2021.
Langkah-langkah yang diambil termasuk pemblokiran semua pencarian yang berkaitan dengan tantangan tersebut. Seiring dengan itu, TikTok juga berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi penggunanya.