Survei Ini Sebut Bahasa Inggris Masih Tetap Penting di Era AI, Begini Alasannya
Laporan TOEIC Global English Skills Report menunjukkan 81% perusahaan global menilai penggunaan AI justru meningkatkan kebutuhan kemampuan bahasa Inggris.
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) tidak serta-merta menggantikan kebutuhan keterampilan bahasa Inggris di dunia kerja. Sebaliknya, teknologi tersebut justru membuat kemampuan berbahasa Inggris semakin penting bagi tenaga kerja global.
Temuan tersebut terungkap dalam TOEIC Global English Skills Report yang dirilis oleh ETS, lembaga global yang mengembangkan tes kemampuan bahasa Inggris untuk dunia profesional.
Laporan ini didasarkan pada survei terhadap lebih dari 1.300 pengambil keputusan sumber daya manusia (HR) dari 17 negara.
Hasil survei menunjukkan bahwa 81% perusahaan global menyatakan integrasi AI dalam pekerjaan justru meningkatkan kebutuhan akan kemampuan bahasa Inggris di tempat kerja.
Bahkan, sekitar 90% perusahaan menyebut keterampilan bahasa Inggris menjadi faktor penting bagi keberhasilan organisasi, sementara 92% menyatakan kemampuan tersebut kini lebih penting dibanding lima tahun lalu.
AI Tak Dapat Gantikan Kemampuan Bahasa Inggris
Laporan tersebut juga menepis anggapan bahwa AI dapat menutup kekurangan kemampuan bahasa manusia.
Sekitar enam dari sepuluh perusahaan global menyatakan AI tidak dapat menggantikan kurangnya kemampuan bahasa Inggris dalam membaca, menulis, mendengar, maupun berbicara.
Selain itu, sembilan dari sepuluh perusahaan mengatakan kemampuan bahasa Inggris diperlukan untuk menggunakan antarmuka AI, membuat prompt yang efektif, serta mengevaluasi informasi yang dihasilkan AI.
Global General Manager of Institutional Products ETS, Ratnesh Jha, mengatakan AI bukanlah solusi untuk kesenjangan keterampilan komunikasi di dunia kerja.
“AI tidak menutup kesenjangan keterampilan. Manusialah yang melakukannya,” kata Jha.
Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris kini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan atau soft skill, melainkan kompetensi inti yang dibutuhkan pekerja modern.
Kemampuan ini memungkinkan karyawan berkolaborasi lintas negara, memaksimalkan pemanfaatan AI, serta tetap relevan di tengah perubahan ekonomi global yang cepat.
Selain itu, laporan tersebut juga menyoroti semakin pentingnya asesmen kemampuan bahasa Inggris dalam proses rekrutmen dan pengembangan karyawan.
78 Persen Perusahaan Gunakan Bahasa Inggris
Sebanyak 78% perusahaan menggunakan asesmen bahasa Inggris untuk proses perekrutan, 71% untuk evaluasi sebelum pelatihan, dan 66% untuk menilai kesiapan promosi jabatan.
Organisasi yang menggunakan asesmen bahasa Inggris terstandar juga dilaporkan memiliki kinerja lebih baik dalam berbagai aspek, seperti pertumbuhan bisnis, produktivitas karyawan, efisiensi kerja, hingga pengembangan profesional.
Sebanyak 86% perusahaan bahkan menilai organisasi tanpa penutur bahasa Inggris yang fasih berada pada posisi kompetitif yang lebih lemah.
Melihat tren tersebut, sekitar 84% perusahaan memprediksi dalam lima tahun ke depan organisasi di negara mereka akan meningkatkan investasi pada pendidikan dan asesmen bahasa Inggris.
Temuan ini menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan AI, keterampilan bahasa manusia tetap menjadi faktor penting dalam membangun daya saing tenaga kerja global.