Senyuman Anak Gaza Dapat Kaki Prostetik dari Startup Pakistan
Startup asal Pakistan mengirimkan prostetik berupa kaki dan lengan palsu untuk anak-anak Gaza yang menjadi korban serangan Israel.
Konflik di Gaza, Palestina, masih berlangsung dengan intensitas tinggi. Banyak korban yang jatuh, termasuk orang dewasa, anak-anak, dan balita. Meskipun bantuan kemanusiaan terus dikirimkan, proses penyalurannya tidaklah mudah.
Salah satu startup dari Pakistan, Bioniks, berinisiatif mengirimkan bantuan berupa prostetik untuk anak-anak yang menjadi korban serangan brutal Israel.
Menurut laporan dari Reuters pada Senin (7/7), Bioniks berlokasi di Karachi, Pakistan, yang berjarak sekitar 4.000 km dari Gaza.
Meskipun jauh, mereka menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak konflik tersebut. Startup ini memanfaatkan aplikasi smartphone untuk mengambil foto dari berbagai sudut dan membuat model 3D untuk lengan atau kaki prostetik yang disesuaikan.
CEO Bioniks, Anaz Nias, menyatakan bahwa startup sosial ini telah berhasil memproduksi lebih dari 1.000 kaki dan lengan prostetik khusus di Pakistan sejak tahun 2021.
Pendanaan untuk startup ini berasal dari kontribusi pasien, sponsor perusahaan, dan sumbangan dari berbagai pihak. Namun, ini adalah pertama kalinya Bioniks memproduksi prostetik untuk anak-anak yang terkena dampak konflik.
Sidra Al Bordeeni, seorang anak Gaza yang menjadi korban serangan, adalah salah satu penerima bantuan. Bocah berusia 8 tahun ini baru saja pulang dari klinik dengan lengan palsu yang baru dipasangkan.
Dengan penuh kegembiraan, ia melompat ke sepeda di kamp pengungsian Yordania, tempat tinggalnya saat ini. Berkat bantuan tersebut, Sidra dapat kembali bersepeda untuk pertama kalinya setelah serangan rudal Israel yang merenggut lengannya tahun lalu.
Sidra mengalami luka saat berlindung di sebuah sekolah, yang merupakan salah satu dari beberapa sekolah di Gaza yang berfungsi sebagai tempat perlindungan sementara dari serangan.
Ibu Sidra, Sabreen Al Bordeeni, menjelaskan bahwa saat itu layanan kesehatan di Gaza mengalami lumpuh total. Keluarganya tidak dapat pergi ke tempat yang lebih aman, sehingga lengan anaknya tidak dapat diselamatkan.
"Ia senang bermain, semua teman dan saudaranya pun terpesona dengan lengan baru itu. Saya tak bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya saya," ungkap sang ibu melalui telepon.
Konsultasi secara daring
Sidra tidak sendirian; anak lain bernama Habebat juga menerima bantuan yang sama. Habebat yang baru berusia tiga tahun harus kehilangan kedua lengan dan kakinya akibat konflik di Gaza.
Dia kemudian menjalani serangkaian konsultasi jarak jauh dan pemasangan virtual yang berlangsung selama beberapa hari. Niaz, CEO Bioniks, terbang dari Karachi ke Amman, Yordania, untuk bertemu dengan kedua gadis kecil tersebut. Dalam kunjungannya, ia juga melakukan pengiriman luar negeri pertama untuk startup yang baru dirintisnya tersebut.
Perlu diketahui, lengan prostetik yang diterima Sidra didanai oleh Klinik Mafaz yang berada di Amman. Sementara itu, dana untuk Habebat berasal dari sumbangan masyarakat Pakistan.
CEO Klinik Mafaz, Entesar Asaker, menjelaskan bahwa mereka bekerja sama dengan Bioniks karena biaya pembuatan lengan dan kaki palsu yang lebih terjangkau. Selain itu, kemampuan perusahaan dalam memberikan solusi secara virtual dan jarak jauh juga menjadi alasan penting dalam kerja sama ini.
Biaya Lebih Murah
Menurut Niaz, harga setiap lengan prostetik mencapai USD 2.500, yang jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan lengan buatan Amerika Serikat yang berkisar antara USD 10.000 hingga USD 20.000.
Meskipun tidak sekompleks produk dari AS, lengan prostetik ini tetap menawarkan fungsionalitas yang tinggi bagi anak-anak. Proses pembuatan yang dilakukan secara jarak jauh menjadikan aksesibilitasnya lebih baik dibandingkan dengan lengan prostetik yang diproduksi di Turki atau Korea Selatan.
"Selain Gaza, kami berencana menyediakan anggota tubuh bagi mereka yang berada di zona konflik, seperti Ukraina. Kami juga ingin menjadi perusahaan global," kata Niaz.
Perlu diketahui, sebagian besar prostetik dirancang untuk orang dewasa dan jarang tersedia untuk anak-anak di daerah konflik. Hal ini menjadi masalah, karena anak-anak yang menjadi korban perang sangat membutuhkan anggota tubuh yang lebih ringan dan penggantian setiap 12 hingga 18 bulan sesuai dengan pertumbuhan mereka.
Niaz juga menyatakan bahwa saat ini ia sedang mencari opsi pendanaan untuk lengan pengganti bagi Sidra dan Habebat di masa depan, dan berharap biayanya tidak terlalu membebani. "Hanya beberapa komponen yang perlu diganti, sisanya bisa dipakai kembali untuk membantu anak lain," ungkapnya.