Obsesi Manusia Hidup Abadi: Dari Ramuan Ajaib hingga Teknologi Modern
Manusia terus mencari cara untuk memperpanjang hidup, dari ramuan kuno hingga teknologi modern. Namun, hanya sedikit yang benar-benar berhasil.
Manusia telah mencoba “menipu” takdir kematian selama ribuan tahun. Dari mitos tentang eliksir yang menjanjikan keabadian hingga ramuan nyata yang sering kali berbahaya. Maka tak heran jika pencarian formula ajaib untuk hidup abadi selalu menggoda berbagai peradaban.
Salah satu upaya paling keliru terjadi hampir dua milenium lalu, ketika Kaisar pertama Tiongkok, Qin Shi Huang, mengonsumsi pil merkuri yang diyakininya bisa memberinya kehidupan abadi. Alih-alih mendapatkan umur panjang, ia justru meninggal di usia 49 tahun akibat keracunan.
Mengutip Popular Mechanics, Jumat (13/9), baru-baru ini, para arkeolog menemukan ramuan keabadian berusia 2.000 tahun dalam sebuah makam bangsawan Dinasti Han di Henan, China. Awalnya dianggap sebagai anggur, cairan dalam pot perunggu ini ternyata mengandung kalium nitrat dan alunit, yang dalam teks Tao kuno disebut sebagai bahan ramuan keabadian.
Meskipun tidak terbukti memperpanjang umur, temuan ini merupakan bukti pertama tentang "obat keabadian" dalam sejarah China. Keinginan untuk hidup selamanya atau setidaknya memperlambat penuaan adalah impian universal.
Kendati begitu, formula ajaib sebenar-benarnya belum ditemukan, usaha ini menghasilkan manfaat: penelitian tentang umur panjang terus berkembang. Namun, ada risiko bahwa akses ke perawatan ini hanya dimiliki oleh kalangan kaya.
Misalnya, pengusaha Bryan Johnson menghabiskan sekitar USD2 juta per tahun untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap seperti usia 18 tahun. Ini menunjukkan bahwa seperti di masa lalu, hanya kalangan elit yang dapat mengakses metode perpanjangan umur yang lebih canggih.
Johnson dibantu oleh 30 dokter dan ahli kesehatan untuk menjaga usia biologisnya tetap muda. Dia pernah mencoba transfusi plasma darah dari putranya yang lebih muda, namun menghentikannya setelah tidak menemukan manfaat signifikan.
"Tidak ada gunanya hidup 100 tahun jika Anda merasa menderita," ujar Johnson.
Brian Patrick Green, Ph.D., dari Markkula Center for Applied Ethics di Santa Clara University, menilai eksperimen-eksperimen ini tidak selalu buruk karena sering kali dilakukan secara sukarela dan berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat.
Namun, ia juga memperingatkan bahwa perpanjangan usia bisa membawa masalah jika hanya bisa diakses oleh orang kaya atau membuat orang menjadi terlalu takut mengambil risiko. Sementara itu, Joao Pedro de Magalhães, Ph.D., ilmuwan asal University of Birmingham, menyarankan agar manusia fokus pada hidup seimbang daripada mencari cara untuk menghindari kematian.
“Tidak ada gunanya memaksakan kebiasaan yang tidak disukai hanya demi kesehatan karena itu hanya akan menimbulkan stres—yang justru mengurangi umur panjang,” katanya.