Misteri Hilangnya Air di Mars Terungkap
Perubahan musim di Mars mempengaruhi hilangnya air ke luar angkasa, menurut studi Hubble dan MAVEN.
Perubahan musim di Mars memiliki dampak signifikan terhadap laju hilangnya air planet ini ke luar angkasa, demikian hasil studi gabungan Teleskop Luar Angkasa Hubble dan misi Mars Atmosphere and Volatile Evolution (MAVEN) NASA. Mars, yang lebih dari tiga miliar tahun lalu memiliki iklim hangat dan basah, kini menjadi planet kering dan dingin.
Menurut John Clarke dari Universitas Boston, air di Mars dapat membeku di bawah tanah atau terpecah menjadi atom-atom yang kemudian melarikan diri ke luar angkasa.
“Hanya ada dua tempat dimana air bisa mengalir. Ia bisa membeku di dalam tanah, atau molekul air bisa pecah menjadi atom, dan atom bisa lepas dari puncak atmosfer ke luar angkasa,” kata dia dikutip Space, Minggu (8/9).
Studi terbaru mengungkap bahwa air di Mars sebagian besar masih tersimpan di bawah permukaan hingga kedalaman 20 km, cukup untuk membentuk lapisan air global setebal 1-2 km. Namun, sebagian kecil air tersebut menguap dan terurai di atmosfer Mars, menyebabkan hidrogen dan deuterium (varian berat hidrogen) lepas ke luar angkasa.
Pengamatan Hubble dan MAVEN menunjukkan bahwa laju kehilangan hidrogen meningkat secara signifikan selama perihelion, titik terdekat Mars dengan matahari, seiring dengan peningkatan penguapan air dan pemanasan atmosfer akibat badai debu.
Pada perihelion, kadar hidrogen dan deuterium di atmosfer bagian atas meningkat drastis hingga 100 kali lipat dibandingkan dengan aphelion, titik terjauh Mars dari matahari. Penemuan ini memperlihatkan kompleksitas baru dalam hilangnya air di Mars dan pentingnya pengamatan lebih lanjut untuk memahami sejarah air di planet merah ini.
Sementara itu, para ilmuwan masih mencari tahu penyebab utama hilangnya deuterium, yang memerlukan injeksi energi ekstra untuk mempercepat pelariannya ke luar angkasa, kemungkinan melalui interaksi dengan angin matahari atau reaksi kimia akibat sinar ultraviolet matahari.