Mengapa Pria Biasanya Lebih Tinggi dari Wanita? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Penelitian menunjukkan sekitar 80 persen variasi tinggi badan dipengaruhi faktor genetik.
Perbedaan tinggi badan antara pria dan wanita menjadi perhatian para peneliti selama puluhan tahun. Secara global, pria rata-rata lebih tinggi sekitar 13 sentimeter dari wanita. Namun, penyebab pastinya bukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi rumit genetik, hormonal, dan lingkungan.
Mengutip LiveScience, Selasa (8/7), penelitian menunjukkan sekitar 80 persen variasi tinggi badan dipengaruhi faktor genetik. Salah satu gen yang paling disorot adalah SHOX, yang terdapat pada kromosom seks X dan Y. Menurut studi yang diterbitkan di Nature, gen ini berperan penting dalam pertumbuhan tulang panjang dan menjelaskan sebagian dari selisih rata-rata tinggi pria dan wanita.
Alexander Berry dari Geisinger College of Health Sciences mengungkap bahwa mutasi pada SHOX bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan seperti Léri-Weill dyschondrosteosis. Selain itu, analisis terhadap lebih dari 928 ribu orang, termasuk individu dengan kelainan jumlah kromosom seks, menunjukkan dosis gen tambahan pada kromosom Y cenderung berdampak lebih besar pada peningkatan tinggi.
Hormon: Faktor Penentu yang Kompleks
Hormon juga memegang peran penting. Testosteron dikenal mendorong ciri khas laki-laki, termasuk pertumbuhan tulang lebih panjang. Namun, para ahli menegaskan hormon estrogen justru menjadi kunci dalam mengatur kapan pertumbuhan berhenti.
Estrogen mendorong penutupan lempeng pertumbuhan tulang lebih cepat pada perempuan, membuat mereka berhenti tumbuh lebih awal.
“Estrogen adalah bintang di sini,” kata Holly Dunsworth, profesor antropologi di University of Rhode Island.
Alhasil, meski laki-laki dan perempuan sama-sama mengalami lonjakan pertumbuhan saat pubertas, pria cenderung punya waktu lebih lama untuk tumbuh.
Pandangan lama menyebut laki-laki berevolusi lebih tinggi untuk bersaing secara fisik atau menunjukkan dominasi. Namun Dunsworth menilai penjelasan ini terlalu sederhana.
Dalam makalah di Evolutionary Anthropology, ia menegaskan faktor biologis seperti peran estrogen memberikan gambaran yang lebih akurat.
Meski genetika mendominasi, faktor lingkungan tidak bisa diabaikan. Nutrisi, kesehatan masa kanak-kanak, dan kondisi sosial ekonomi menyumbang sekitar 20% variasi tinggi badan.
Anak dengan asupan gizi buruk atau yang sering sakit cenderung memiliki tinggi lebih pendek dibandingkan anak dengan lingkungan lebih mendukung.
Ilmuwan seperti Berry menekankan bahwa faktor lain seperti ekspresi gen—seberapa aktif gen tertentu bekerja—juga berpengaruh pada variasi tinggi, bahkan di antara individu dengan profil genetik serupa.