Indonesia Punya Potensi Bikin Bandara Antariksa Sendiri, Berikut Lokasi Ideal Pembangunannya
ASSI menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk dijadikan sebagai lokasi peluncuran satelit atau bandara antariksa.
Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) mengingatkan kepada pelaku industri satelit nasional agar segera mengamankan "lahan" di ruang angkasa dengan mendaftarkan frekuensi ke International Telecommunication Union (ITU). Langkah ini sangat penting karena proses birokrasi dan koordinasi teknis di tingkat internasional dapat memakan waktu hingga lima tahun.
Ketua Umum ASSI, Risdianto Yuli Hermansyah menyatakan bahwa pendaftaran lisensi merupakan langkah awal yang tidak bisa ditunda untuk membangun konstelasi satelit LEO. Beberapa entitas di Indonesia, seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pasifik Satelit Nusantara (PSN), dan Telkomsat, telah mulai mendaftarkan parameter orbit dan frekuensi mereka.
"Prosesnya panjang. Evaluasi bisa memakan waktu 6 hingga 12 bulan, lalu koordinasi satelit bisa memakan waktu 4 sampai 5 tahun tergantung kompleksitasnya. Semakin cepat kita mendaftar dan mendefinisikan desain dengan presisi, semakin minim potensi interferensi dengan satelit negara lain," kata Risdianto.
Di samping permasalahan orbit, ASSI juga menyoroti potensi besar Indonesia sebagai lokasi peluncuran satelit, yang sering disebut sebagai bandara antariksa (spaceport). Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dianggap sangat strategis dan ekonomis bagi penyedia jasa peluncuran roket, karena efisiensi bahan bakar yang lebih baik.
Risdianto menegaskan, Indonesia itu strategis untuk spaceport. Kami merekomendasikan lokasi yang dekat dengan lautan luas dan jauh dari pemukiman untuk keamanan trajektori peluncuran. Jika Indonesia punya akses atau bahkan memiliki teknologi peluncuran sendiri, fleksibilitas industri kita akan meningkat tajam.
Dengan demikian, langkah-langkah ini sangat penting untuk memastikan keberhasilan peluncuran satelit dan pengembangan industri antariksa di Indonesia.
BRIN Berencana Bangun Spaceport di Biak
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memilih Biak, Papua, sebagai lokasi strategis untuk pengembangan infrastruktur peluncuran satelit. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Biak yang berada di garis ekuator. Purwa Manggala, selaku Kepala Komunikasi dan Hubungan Pemangku Kepentingan Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), menjelaskan bahwa pemilihan Biak didasarkan pada alasan teknis yang kuat. "Alasan memilih Biak karena memang di daerah ekuatorial, sehingga untuk peluncurannya itu lebih efisien, baik secara bahan bakar maupun waktu," ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Mengenai skema pembiayaan proyek ini, ASSI menyerahkan sepenuhnya mekanismenya kepada pemerintah, dalam hal ini BRIN. Purwa menyatakan bahwa kemungkinan untuk menggunakan skema Public-Private Partnership (PPP) atau kerja sama antara pemerintah dan badan usaha masih terbuka, tergantung pada kebijakan anggaran serta organisasi di internal BRIN. Sebagai asosiasi, ASSI berperan sebagai "orkestrator" yang menghubungkan kebutuhan industri satelit dengan kebijakan pemerintah. "Jika BRIN membutuhkan solusi atau masukan mengenai kebutuhan operator, kami memberikan advokasi. Namun, untuk proses kemitraan dan birokrasi, itu wilayah pemerintah. Fokus kami adalah pada vokasi dan pemberian advice detail jika sewaktu-waktu diminta," tambahnya.
Proyek Tahap Awal
Walaupun rencana ini terbilang ambisius, Purwa menegaskan bahwa proyek tersebut masih berada pada tahap yang sangat awal. Saat ini, belum ada informasi detail mengenai proses pemilihan mitra maupun tenggat waktu pasti untuk pembangunan. "Membangun sebuah spaceport bukanlah perkara mudah. Setidaknya dibutuhkan waktu dua hingga tiga tahun hanya untuk membangun infrastruktur dasarnya, belum termasuk urusan perizinan dan pengembangan ekosistem pendukung," jelasnya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Purwa adalah menemukan klien atau pengguna jasa peluncuran. Ia berpendapat bahwa memiliki peluncur (launcher) tanpa adanya klien akan menjadi sia-sia. "Walaupun kita ada launcher, kalau tidak ada kliennya, siapa yang mau meluncurkan? Harapannya, dengan adanya spaceport ini, kita bisa mengembangkan konsistensi ekosistem antariksa di Indonesia," papar Purwa.