Bukan Singa, Ini Daftar Hewan Paling Berbahaya di Dunia, Nyawa Melayang jika Diserang
Crespo Scale mengukur bahaya hewan berdasarkan populasi dan angka kematian. Ini daftar hewan paling berbahaya di dunia.
Bumi dihuni beragam makhluk unik, mulai dari hewan laut misterius, serigala hitam, hingga serangga berukuran mungil. Sebagian dari mereka kerap berkonflik dengan manusia, entah lewat serangan langsung atau penyebaran penyakit. Untuk mengukur seberapa besar ancaman hewan-hewan tersebut, kini hadir metode baru bernama Crespo Scale.
Crespo Scale adalah skala yang mengklasifikasikan tingkat bahaya spesies hewan terhadap manusia di suatu negara. Metode ini dikembangkan oleh David Duarte Crespo dan dipublikasikan dalam penelitian terbarunya. Crespo Scale mengukur bahaya hewan berdasarkan dua faktor utama: Populasi Spesies (PS) dan Tingkat Kematian (MR).
Mengutip IFLScience, Jumat (28/2), PS mengukur seberapa besar peluang seseorang bertemu dengan hewan berbahaya di wilayah tertentu. Sementara MR dihitung dari pembagian populasi manusia global (8 miliar jiwa) dengan jumlah kematian akibat spesies tersebut per tahun.
Objektif dan Terukur
Menurut Crespo, pemilihan dua faktor ini karena bersifat universal dan terukur. “Kita bisa mengestimasi jumlah kematian atau populasi hewan, tapi sulit mengukur seberapa agresif atau teritorial mereka,” jelas Crespo.
Uniknya, hewan domestik dikecualikan dari skala ini. Alasannya, hewan peliharaan terlalu dekat dengan manusia dan cenderung bias dalam perhitungan. Manusia sendiri juga tidak dimasukkan dalam skala karena alasan etis yang jelas.
Tingkat Bahaya dari 1 hingga 5
Crespo Scale membagi tingkat bahaya ke dalam Degrees of Danger (DoDs), mulai dari 1 (Sangat Tidak Mungkin) hingga 5 (Sangat Mungkin).
Skor akhir dihasilkan dari pengalian antara PS dan MR, yang kemudian menentukan kategori bahaya setiap spesies.
Klasifikasi ini terbagi menjadi 5 kategori, di mana kategori 5 adalah paling berbahaya. Spesies yang masuk kategori 3 hingga 5 dianggap ancaman serius bagi manusia.
Dari hasil penelitian, spesies paling mematikan umumnya ditemukan di negara berpenghasilan rendah hingga menengah. Sebagian besar hewan berbahaya adalah pembawa penyakit atau parasit, kecuali ular berbisa Russell’s Viper (Daboia russelii).
Crespo mengakui, keterbatasan data di beberapa negara membuat tidak semua hewan bisa masuk daftar. Salah satu contohnya adalah buaya Nil, yang data serangan dan kematiannya di Afrika masih belum lengkap.
Menariknya, tingkat bahaya spesies bisa berbeda-beda tergantung negara. Misalnya, nyamuk Anopheles gambiae masuk kategori 5 di Nigeria, tetapi hanya kategori 4 di Mozambik.
Fakta Tak Terduga
Selain nyamuk, ular Russell’s Viper, cacing darah (blood flukes), dan anjing liar menduduki posisi teratas sebagai hewan paling mematikan. Ada pula kejutan: tawon raksasa Asia hanya masuk kategori 1, jauh lebih rendah dari ekspektasi. Padahal spesies ini hidup berkoloni, populasinya besar, dan tersebar di negara padat penduduk seperti Jepang.
Kesimpulannya, Crespo Scale memberikan gambaran baru tentang ancaman hewan liar di berbagai belahan dunia. Tingkat bahaya bukan semata soal racun atau gigi tajam, tetapi juga dipengaruhi populasi spesies, distribusi geografis, hingga faktor sosial-ekonomi di wilayah tersebut.