Begini Jadinya kalau Wisuda Pakai AI
Dalam sebuah video yang viral di media sosial, mahasiswa terlihat memindai QR code dari HP sebelum nama mereka diumumkan oleh suara AI.
Pace University di New York menjadi sorotan setelah menggunakan suara buatan kecerdasan buatan (AI) untuk membacakan nama para lulusan dalam upacara wisuda. Dalam sebuah video yang viral di media sosial, mahasiswa terlihat memindai QR code dari ponsel mereka sebelum nama mereka diumumkan oleh suara AI dari pengeras suara.
Mengutip NYPost, Sabtu (24/5), langkah ini langsung memicu perdebatan luas, dengan sebagian menyebutnya efisien dan modern, sementara lainnya menilai hal itu menghilangkan sentuhan emosional yang semestinya hadir dalam momen kelulusan.
Pihak universitas menyatakan bahwa penggunaan AI bertujuan meningkatkan akurasi pelafalan nama, terutama mengingat keragaman latar belakang budaya mahasiswa. Mahasiswa diminta mengisi ejaan fonetik nama mereka sebelumnya untuk membantu sistem mengenali dan menyuarakan nama secara tepat.
Namun, respons publik justru banyak yang bernada sinis. Salah satu komentar di media sosial menyebut, “Karena tak ada yang bilang ‘kami menghargaimu’ seperti suara sintetis yang salah menyebut namamu setelah empat tahun kuliah dan ribuan dolar biaya.” Ada pula yang menyoroti ironi bahwa kampus yang melarang mahasiswa menggunakan AI untuk tugas justru memakainya dalam momen penting seperti wisuda.
Beberapa warganet menyamakan proses pemindaian QR code di atas panggung dengan suasana antrean swalayan, menyebut atmosfer acara jadi canggung dan mekanis. “Kita semua tahu bagaimana sosis dibuat, tapi bukan berarti kita ingin melihat prosesnya,” tulis seorang pengguna di Threads.
Meski begitu, sejumlah pengguna media sosial membela keputusan kampus. Mereka menilai penggunaan AI membantu menghindari kesalahan pelafalan nama yang sering terjadi di acara wisuda berskala besar.
Praktik serupa diketahui juga telah diterapkan di Northeastern University, yang memungkinkan mahasiswa merekam suara mereka sendiri untuk dibacakan ulang oleh sistem AI.
Peristiwa ini memicu diskusi lebih luas tentang peran AI dalam dunia pendidikan. Survei terbaru oleh Harris Poll untuk Indeed mencatat bahwa hampir separuh pencari kerja dari generasi Z merasa gelar mereka makin tak relevan di tengah kemajuan teknologi AI.
Sebagian menganggap penggunaan AI dalam acara kelulusan sebagai simbol nyata dari pergeseran peran manusia dalam pendidikan tinggi.
Seorang alumni Pace University berkomentar, “Dulu pembaca nama kami berlatih menyebutkan nama satu per satu. Tidak butuh waktu lama, tapi sangat berkesan.” Banyak yang menyayangkan bahwa momen penting itu kini terdengar seperti instruksi otomatis dari mesin.
Meskipun teknologi menawarkan efisiensi dan akurasi, kejadian ini menunjukkan bahwa tidak semua aspek kehidupan bisa atau sebaiknya digantikan oleh AI. Di tengah upaya memperkenalkan otomatisasi, momen-momen sakral seperti kelulusan tetap membutuhkan sentuhan manusia.