Asal-usul Panai, Kerajaan Kecil dan Kurang Dikenal tapi Banyak Peninggalannya
Asal-usul Panai, kerajaan kecil dengan banyak peninggalannya.
Kerajaan Panai bercorak agama Buddha ini sebagai kerajaan kecil namun banyak peninggalannya.
Asal-usul Panai, Kerajaan Kecil dan Kurang Dikenal tapi Banyak Peninggalannya
Dalam peninggalan Prasasti Tanjore peninggalan Rajendra I, Dinasti Colamandala yang berada di India Selatan ini terdapat kata "Panai" yang di deskripsikan "dialiri sungai".
Selain itu, kata "Panai" juga tersemat dalam catatan Kerajaan Majapahit pada kitab Nagarakertagama yang tertulis wajib memberikan upeti kepada Majapahit.
Dalam sumber yang masih tergolong baru, Panai atau Pane pernah tertulis pada naskah berbahasa Armenia yang menyebut keberadaan nama daerah tersebut.
Bercorak Buddha
Kerajaan Panai berdiri pada abad ke-11 sampai ke-14 di bagian pesisir Timur Sumatra Utara. Tepatnya di dekat lembah Sungai Panai dan Barumun yang mengalir di Kabupaten Labuhanbatu dan Kabupaten Tapanuli Selatan.
Meski kerajaan ini tergolong kecil, sumber-sumber keberadaan Kerajaan Panai masih sulit untuk diketahui secara pasti. Kemungkinan besar, kerajaan ini berada dibawah kepemimpinan Kerajaan Sriwijaya dan Dharmasraya.
Secara corak, Kerajaan Panai merupakan kerajaan beraliran Buddha Tantrayana ini begitu kurang dikenal. Tetapi, di beberapa kawasan Padanglawas telah ditemukan beragam candi-candi yang diduga peninggalan dari Kerajaan Panai sebanyak 16 bangunan.
Pencarian Jejak Sejarah
Dalam mencari jejak sejarah Kerajaan Panai, para peneliti terus berusaha mencarinya. Kesulitan yang dihadapi para peneliti masih terkait keberadaan lokasi persisnya.
(Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Penamaan Panai pun juga merujuk pada Sungai Panai dan Sungai Barumun yang terletak di sebelah Timur Pantai Sumatra Utara yang menghadap langsung ke perairan Selat Malaka.
Pada 1846, seorang ahli geologi Hindia Timur bernama Franz Junghuhn, telah melaporkan temuan sebuah kompleks di daerah Padang Lawas yang masih berada di kawasan hulu Sungai Barumun. Lokasi tersebut diduga menjadi pusat keagamaan Kerajaan Panai.
Candi Bahal
Ada beberapa peninggalan Kerajaan Panai yang ditemukan di daerah Padang Lawas, seperti Candi Bahal atau disebut dengan Biaro Bahal. Pada kompleks Candi Bahal, terdapat beberapa bangunan yang diberi nama Bahal I, Bahal II, dan Bahal III.
Ciri khas dari seluruh bangunan yang ada di kompleks Candi Bahal itu terbuat dari bata merah, kecuali arca yang terbuat dari bebatuan keras. Di sekelilingnya terdapat pagar setinggi 1 meter yang juga terbuat dari susunan bata merah.
Mengutip beberapa sumber, ketiga bangunan Candi Bahal tersebut saling berhubungan dan terdiri dalam satu garis lurus. Sampai saat ini, tidak diketahui pasti maksud dan makna dari penataan bangunan di kompleks Candi Bahal ini.