Seorang pemilik ilmu Jawa tingkat tinggi, yaitu ajian pancasona meninggalkan sebuah rumah unik yang terletak di Blitar, Jawa Timur. Ia adalah Eyang Djojodigdo. Seorang yang hidup di zaman penjajahan dan dianggap oleh masyarakat punya kesaktian yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa.
Sampai saat ini, rumah tua tersebut masih berdiri kokoh dengan bentuknya yang khas.. Di rumah itu juga terdapat beberapa ornamen atau hiasan yang mencerminkan usianya. Di depan rumah terdapat sebuah arca lembu dan arca macan yang berdiri samping kiri dan kanan pintu teras.
Rumah tersebut berlokasi tepat di pinggir jalan raya, dengan tanah pekarangan yang sangat luas. Bagaimana penampakan rumah unik milik Eyang Djojodigdo? Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.
Advertisement
Penampakan rumah Eyang Djojodigdo diunggah dalam sebuah video di channel HM Adventure. Rumah eyang memiliki tiga pintu yang dicat dengan warna hijau. Sedangkan semua temboknya berwarna putih.
Rumah tersebut dijaga oleh pasangan suami istri yang sudah berusia lanjut. Mereka berdua tinggal di rumah yang terletak tepat di belakang rumah eyang.
Dari dalam, rumah Eyang Digdo tampak cukup luas. Terdapat beberapa ruangan mulai dari ruang tamu, kamar, hingga mushola tempat eyang melaksanakan ibadah sehari-hari. Selain itu, beberapa peninggalan seperti lemari kayu, meja, dan kursi pun masih terjaga dengan baik.
Selain itu, tepat di ruang tengah juga terdapat foto Eyang Digdo yang dipajang dengan menggunakan pigura besar. Dari foto tersebut, eyang tampak sangat tampan dan gagah dengan pakaian khas Jawa.
Tidak jauh dari foto eyang, terdapat beberapa foto keluarga yang dikatakan sebagai foto keturunan Eyang Digdo.
“Wah tampan sekali ya. Kelihatan ya teman-teman. Tampan sekali,” ucap pria yang merekam video.
“Dan di sini, ada foto-foto keluarga keturunan dari Eyang Djojodigdo,” lanjutnya.
Menurut penuturan nenek penjaga rumah, Eyang Djojodigdo sudah memiliki 5 turunan. Dalam bahasa Jawa, turunan ke-5 disebut sebagai wareng. Meski begitu, ia pernah didatangi oleh orang yang mengaku keturunan ke-7 dari Eyang Djojodigdo.
“Wareng itu anak, cucu, buyut, canggah, wareng. Wareng itu keturunan kelima,” ucap penjaga rumah.
“Tapi ada yang pernah ke sini, aku keturunan dari eyang sudah nomor tujuh. Wah ini, saya bilang, aku ndak paham,” lanjutnya.
Advertisement
Eyang Djojodigdo merupakan tokoh sejarah yang memiliki nama asli Raden Ngabehi (R.Ng.) Bawadiman Djojodigdo. Menurut catatan, ia adalah seorang Patih Blitar masa lalu yang memiliki kesaktian tingkat tinggi bernama ilmu Pancasona.
Ilmu Pancasona merupakan ilmu yang konon dipercaya dapat membuat seseorang hidup kembali setelah ia meninggal dunia.
Eyang lahir pada 29 Juli 1827 di Kulonprogo saat berkecamuk Perang Diponegoro. Sepanjang hidupnya, eyang memiliki 4 istri dan 30 anak. Eyang Digdo dilantik menjadi Patih Blitar pada 8 September 1877. Jabatan itu bertugas sebagai pelaksana administratur tertinggi di bawah bupati.
Salah satu warisan budaya dari Eyang Digdo adalah ritual Rampokan Macan yang digelar setiap Hari Raya Ketupat di Alun-Alun Kota Blitar. Tujuannya adalah untuk menolak bala, terutama dari amukan lahar Gunung Kelud.
Eyang Digdo juga memiliki hubungan dengan tokoh penting sejarah lainnya. Salah satunya adalah R.A. Kartini. Eyang merupakan mertua dari Kartini, karena anak dari Eyang Digdo, yaitu Singgih merupakan suami dari R.A. Kartini.
Menurut penuturan penjaga rumah, Eyang Digdo juga kemungkinan masih memiliki hubungan dengan Ir. Soekarno.
“Bung Karno itu eyangnya mungkin masih kerabatnya eyang sini. Tempo hari ada fotonya di sini. Pak Karno dengan keluarga sepuh-sepuh ada. Mungkin dari eyangnya masih sambung sama eyang sini,” jelasnya.
Sampai sekarang, rumah peninggalan Eyang Digdo masih dijaga dengan sangat rapi, termasuk perabotan rumah yang digunakan oleh Eyang Digdo. Hal itu dilakukan karena rumah tersebut merupakan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi.