Terungkap! 11 Bahaya Menggunakan G-string atau Thong Setiap Hari yang Jarang Diketahui
Meskipun dianggap seksi, penggunaan G-string atau thong menyimpan bahaya tersembunyi bagi kesehatan intim.
Pakaian dalam, khususnya G-string atau thong, telah menjadi pilihan populer bagi banyak wanita karena alasan estetika dan kenyamanan saat mengenakan pakaian ketat. Namun, di balik daya tariknya, terdapat potensi risiko kesehatan yang signifikan dan sering kali tidak disadari. Apa saja bahaya yang mengintai di balik sehelai kain tipis ini, dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan organ intim wanita?
Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai efek samping yang mungkin timbul akibat penggunaan G-string atau thong secara rutin. Dari iritasi kulit hingga infeksi serius, pemahaman akan risiko ini menjadi krusial. Informasi ini bersumber dari ahli kesehatan dan penelitian terkini, memberikan perspektif komprehensif mengenai pilihan pakaian dalam yang sehat.
Lantas, bagaimana G-string dapat memengaruhi kesehatan Anda, dan tindakan pencegahan apa yang bisa diambil? Simak penjelasan lengkapnya untuk memahami mengapa pemilihan pakaian dalam yang tepat memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan dan kenyamanan organ intim Anda sehari-hari.
Risiko Infeksi dan Gangguan Keseimbangan pH
Salah satu bahaya utama penggunaan G-string adalah potensi peningkatan risiko infeksi. Desainnya yang minim dan tali tipis dapat memfasilitasi perpindahan bakteri dari area anus ke vagina atau uretra. Dr. Mary Jane Minkin, M.D., seorang OB-GYN dan profesor klinis di Universitas Yale, menjelaskan bahwa G-string dengan bahan tidak bernapas dapat menyebabkan kelembapan terjebak di vagina, menciptakan lingkungan ideal bagi jamur untuk berkembang biak.
Perpindahan bakteri E. coli, yang umum ditemukan di usus besar, merupakan salah satu kekhawatiran terbesar. Kondisi ini dapat memicu infeksi saluran kemih (ISK) dan vaginosis bakteri. Lingkungan lembap yang tercipta juga sangat kondusif untuk pertumbuhan jamur dan ragi, yang berujung pada infeksi jamur vagina.
Selain itu, penggunaan G-string, terutama yang berbahan sutra atau sintetis, dapat memengaruhi keseimbangan pH vagina. Dr. Vanessa MacKay, seorang OB/GYN dan mitra Vagisil, menyatakan bahwa “kain apa pun yang tidak bernapas dapat menyebabkan penumpukan kelembapan berlebih, dan hal itu dapat menyebabkan perubahan pH vulva dan vagina, yang menyebabkan potensi pertumbuhan bakteri dan/atau jamur berlebih.” Perubahan pH ini dapat memicu kondisi seperti vaginitis, yang ditandai dengan nyeri, keputihan, dan gatal.
Penumpukan kelembapan dari G-string juga dapat menyebabkan perubahan pada bau vulva atau vagina. Jika tercium bau yang tidak biasa, hal tersebut mungkin disebabkan oleh infeksi jamur atau jenis pertumbuhan bakteri lain yang terkait dengan perubahan bau.
Iritasi Kulit dan Reaksi Alergi
Tali G-string yang tipis dan gesekan terus-menerus dapat menyebabkan iritasi serius pada kulit sensitif di area intim. Dr. MacKay menjelaskan bahwa tidak seperti celana dalam biasa, tali tipis G-string cenderung bergeser dan bergerak, menyebabkan lecet dan iritasi. Gejala yang muncul bisa berupa memar, kemerahan, dan gatal.
Kondisi ini dapat berkembang menjadi dermatitis kontak, terutama jika kulit sensitif terhadap iritan yang menempel pada kain, seperti deterjen atau pelembut kain. Krystal Thomas-White, Ph.D., seorang ilmuwan senior di Evvy, menekankan bahwa “vulva adalah kulit. Beberapa bahan mungkin mengiritasi dan bahkan menyebabkan dermatitis kontak, jadi perhatikan apa yang terasa nyaman bagi Anda.”
Gesekan yang terjadi juga bisa menyebabkan benjolan atau jerawat. Dr. Angelo Landriscina, M.D., FAAD, seorang dermatologis bersertifikat, menjelaskan bahwa “ketika memikirkan kemungkinan masalah kulit akibat memakai thong, sebagian besar berkaitan dengan ukuran dan gesekan.” Celana dalam yang terlalu ketat dapat menyumbat pori-pori atau folikel rambut, menyebabkan benjolan serupa dengan maskne. Memilih G-string dengan ukuran yang tepat sangat penting untuk menghindari masalah ini.
Bagi individu dengan kondisi medis seperti wasir, penggunaan G-string dapat memperburuk gejala yang sudah ada. Gesekan dan tekanan yang terus-menerus dapat meningkatkan ketidaknyamanan dan peradangan pada area tersebut.
Dampak pada Aktivitas Fisik dan Pemilihan Bahan
Penggunaan G-string saat berolahraga dapat memperparah iritasi dan gesekan. Katie Fritts, pendiri dan CEO Underclub, menyatakan bahwa “thong dapat menyebabkan ruam pada atlet yang banyak melakukan latihan di lantai yang menciptakan gesekan antara bokong dan pakaian dalam mereka, seperti sit-up atau latihan apa pun di mana Anda telentang dan di bokong.” Gesekan ini juga dapat menyebabkan lecet yang tidak nyaman saat berlari atau melakukan latihan fokus pada kaki.
Dr. Charles E. Crutchfield III, M.D., seorang dermatologis bersertifikat, menambahkan bahwa “memakai celana dalam thong dapat menyebabkan tingkat gesekan yang lebih besar antara kulit dan kain, yang dapat menyebabkan lecet, terjepit, dan gesekan yang tidak nyaman.” Oleh karena itu, G-string umumnya bukan pilihan yang baik untuk dikenakan saat berolahraga.
Pemilihan bahan pakaian dalam sangat krusial. G-string yang terbuat dari serat sintetis cenderung tidak bernapas, menciptakan lingkungan lembap yang mendukung pertumbuhan bakteri. Dr. MacKay menyarankan untuk memilih G-string yang terbuat dari katun. “Penggunaan merek katun yang bernapas akan mengurangi risiko iritasi,” ujarnya. Sebuah studi tahun 2019 yang dilakukan di National Library of Medicine menemukan bahwa celana dalam katun adalah yang terbaik dalam meminimalkan infeksi vagina dan iritasi lainnya.
Meskipun G-string mungkin terlihat menarik, risiko kesehatan yang terkait dengan penggunaannya cukup signifikan. Untuk menjaga kesehatan organ intim, disarankan untuk memilih celana dalam berbahan katun yang nyaman dan bernapas, serta menghindari penggunaan G-string setiap hari. Jika mengalami iritasi, gatal, atau gejala infeksi lainnya setelah menggunakan G-string, segera konsultasikan dengan dokter. Penggunaan sesekali mungkin tidak menimbulkan masalah bagi sebagian orang, tetapi penggunaan rutin meningkatkan risiko masalah kesehatan.