Tanda Remaja Tidak Menstruasi yang Perlu Penanganan Medis
Menstruasi biasanya dimulai pada usia 10 hingga 16 tahun. Penting untuk mengetahui kapan saatnya berkonsultasi dengan dokter terkait kesehatan reproduksi.
Menstruasi adalah bagian dari proses perkembangan alami yang dialami oleh remaja putri.
Jika seorang remaja putri belum mengalami menstruasi pada usia 14 tahun, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.
"Kalau dia (remaja putri) belum menstruasi itu harus konsultasi pada dokter, maksimal usia 14 tahun kalau anak tidak ada tanda seks sekunder," ungkap Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Dinda Derdameisya.
Selain menstruasi, ada beberapa tanda fisik lain yang juga perlu diperhatikan, seperti tidak tumbuhnya payudara dan bulu halus di beberapa bagian tubuh.
Apabila seorang anak sudah menunjukkan perubahan fisik tetapi belum mengalami menstruasi hingga usia 16 tahun, hal ini juga perlu diperhatikan.
"Tapi kita juga perlu melihat juga tinggi badannya, apakah masuk (sesuai) ke pertumbuhan kurva anak (atau tidak). Jadi minimal menstruasi itu pada usia sekitar 10-11 tahun, kemudian maksimalnya nanti 16 tahun," jelas Dinda.
Menstruasi sendiri ditandai dengan keluarnya darah dari kemaluan, yang merupakan indikasi bahwa hormon reproduksi dalam tubuh sudah matang dengan baik.
Anak perempuan dilahirkan dengan indung telur, tetapi pada anak di bawah usia 11 tahun, hormon tersebut masih belum matang dan jumlahnya sangat rendah.
"Ketika dia (hormon) sudah mencapai satu level, akan terjadi pematangan sel telur, dinding rahim menebal dan ketika sudah sampai level itu tidak ada pembuahan, darah menstruasi akan turun," ungkapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa proses menstruasi adalah hasil dari interaksi kompleks antara berbagai hormon dalam tubuh yang berkembang seiring bertambahnya usia.
Dengan demikian, perhatian terhadap perkembangan fisik dan konsultasi medis yang tepat sangat penting bagi remaja putri dalam menghadapi fase ini.
Proses Komunikasi Harus Terbuka
Dinda menginginkan agar proses komunikasi terkait kesehatan dapat dilakukan dengan lebih terbuka antara anak perempuan dan orangtua.
Hal ini penting agar setiap anak mendapatkan informasi yang akurat dan kesehatan mereka tetap terjaga dengan baik.
Keluarga, menurutnya, merupakan tempat pertama di mana anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang tepat, sehingga mereka dapat lebih memahami perubahan yang terjadi pada tubuh mereka.
"Jadi jangan sampai si anak juga kebingungan, karena orangtuanya tidak mengerti," pesan Dinda.
Dengan cara ini, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan dan perubahan yang mereka alami.