Sering Lemas? Bisa Jadi Kurang Darah, Ini 7 Tanda dan Cara Mengatasinya
Ketahui gejala kurang darah yang sering diabaikan, seperti kelelahan ekstrem dan kulit yang tampak pucat.
Kondisi yang dikenal sebagai anemia atau kurang darah merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di masyarakat, sering kali tanpa disadari oleh penderitanya.
Anemia muncul ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah atau hemoglobin (Hb), yaitu protein yang berfungsi untuk mengangkut oksigen.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda anemia sejak dini agar dapat mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.
Kekurangan oksigen yang terjadi pada jaringan otak dan otot akibat rendahnya kadar Hb dapat menimbulkan gangguan dalam konsentrasi dan kebugaran.
Sehingga, anemia bukan hanya sekadar penyakit, tetapi juga merupakan indikator dari adanya proses penyakit yang lebih serius. Menurut buku Anemia pada Remaja dan Cara Mengatasinya (Sri Yanniarti, Epti Yorita, Rolita Efriani, 2024), anemia didefinisikan sebagai kondisi di mana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah nilai normal.
Untuk mendiagnosis anemia, dilakukan pemeriksaan kadar Hb, di mana kadar di bawah 12 g/dL pada wanita usia subur (WUS) dan remaja putri menunjukkan adanya anemia.
Memahami Anemia: Pengertian dan Proses Kekurangan Oksigen
Anemia merupakan suatu kondisi kesehatan yang ditandai dengan jumlah sel darah merah (eritrosit) atau kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang berada di bawah level normal.
Hemoglobin memiliki peran penting dalam tubuh, yaitu mengikat oksigen dari paru-paru dan mendistribusikannya ke seluruh jaringan. Ketika kadar Hb menurun, kemampuan darah dalam mengangkut oksigen juga berkurang, sehingga jaringan tubuh tidak menerima cukup energi yang diperlukan.
Hemoglobin terbentuk dari kombinasi protein dan zat besi, yang keduanya sangat penting untuk kesehatan. Kekurangan zat besi, asam folat, dan vitamin B12 menjadi penyebab utama terjadinya anemia. Anemia dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kronis, yang berkembang secara bertahap dalam jangka panjang, dan akut, yang terjadi dengan cepat dan lebih parah.
Gejala anemia
Gejala anemia dapat bervariasi tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Anemia yang ringan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
Namun, seiring peningkatan keparahan anemia, gejala akan muncul dan memburuk seperti yang dijelaskan di Mayo Clinic.org. Berikut adalah tanda-tanda umum kurang darah yang sering dikeluhkan, seperti yang diuraikan dalam buku Anemia pada Remaja dan Cara Mengatasinya (Sri Yanniarti dkk, 2024):
1. Kelelahan dan Kelemahan
Gejala ini merupakan yang paling sering ditemui. Penderita merasa lemah, cepat lelah, dan cenderung ingin tidur terus-menerus akibat kekurangan oksigen yang dibawa ke otot.
2. Pucat (Kulit, Bibir, dan Kuku)
Pucat muncul karena rendahnya kadar hemoglobin yang memberikan warna merah pada darah. Kondisi ini terlihat jelas pada kulit (terutama di area pipi dan bibir), lapisan dalam kelopak mata (conjungtiva), serta bantalan kuku yang seharusnya berwarna merah muda.
3. Pusing, Sakit Kepala, dan Pingsan
Kurangnya oksigen yang sampai ke otak dapat mengakibatkan sakit kepala, pusing, dan dalam kasus yang parah, dapat menyebabkan pingsan.
4. Sesak Napas
Jantung dan paru-paru harus bekerja lebih keras untuk mengimbangi kekurangan oksigen dalam darah, yang menyebabkan sesak napas.
5. Detak Jantung Cepat (Palpitasi)
Detak jantung menjadi lebih cepat atau tidak teratur (aritmia) sebagai respons untuk memompa lebih banyak darah guna menggantikan kekurangan oksigen.
6. Tangan dan Kaki Dingin
Gangguan sirkulasi darah yang membawa oksigen membuat ekstremitas seperti tangan dan kaki terasa dingin.
7. Susah Konsentrasi dan Gampang Marah
Kekurangan oksigen yang diterima oleh jaringan otak dapat menyebabkan kesulitan dalam berkonsentrasi dan mudah marah, yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penyebab utama anemia adalah kurangnya nutrisi dan adanya penyakit kronis
Anemia adalah indikator dari adanya proses penyakit, sehingga sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya. Di Indonesia, sebagian besar kasus anemia disebabkan oleh kekurangan asupan gizi besi.
1. Defisiensi Zat Besi
Penyebab utama terjadinya anemia adalah kekurangan zat besi, yang diperlukan oleh sumsum tulang untuk memproduksi hemoglobin. Kehilangan darah yang signifikan, seperti menstruasi berat pada wanita yang sedang dalam masa subur, kehamilan, atau kehilangan darah secara perlahan akibat ulserasi dan polip, dapat menguras cadangan zat besi dalam tubuh (Mayo Clinic.org). Menurut Kementerian Kesehatan (2018), di Indonesia, mayoritas kasus anemia disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang kaya akan zat besi, terutama dari sumber pangan hewani (besi heme).
2. Defisiensi Vitamin Penting
Selain zat besi, tubuh juga memerlukan asam folat (Vitamin B9) dan Vitamin B12 untuk memproduksi sel darah merah yang cukup. Penurunan asupan vitamin ini dalam makanan, atau adanya gangguan dalam penyerapan vitamin B12, dapat mengakibatkan penurunan produksi sel darah merah, yang dikenal sebagai anemia defisiensi vitamin (Anemia pada Remaja dan Cara Mengatasinya, Sri Yanniarti dkk, 2024).
3. Penyakit Kronis dan Lainnya
Penyakit kronis seperti gagal ginjal, kanker, AIDS, dan kondisi inflamasi dapat mengganggu proses produksi sel darah merah. Selain itu, anemia juga bisa disebabkan oleh kelainan genetik yang memengaruhi sintesis hemoglobin (Anemia Hemolitik) atau kegagalan sumsum tulang dalam memproduksi sel darah (Anemia Aplastik) (Mayo Clinic.org).
Risiko dan komplikasi yang timbul akibat kurangnya darah jika tidak ditangani
Jika anemia tidak ditangani dan tanda-tanda kekurangan darah diabaikan, kondisi ini bisa memicu berbagai masalah kesehatan yang serius, bahkan dapat mengancam nyawa. Komplikasi yang mungkin timbul meliputi (Mayo Clinic.org):
- Kelelahan Parah (Severe Fatigue): Penderita anemia berat mungkin mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, yang dapat mengakibatkan penurunan produktivitas secara signifikan.
- Komplikasi Kehamilan: Wanita hamil yang mengalami anemia akibat defisiensi folat memiliki risiko lebih tinggi untuk menghadapi masalah, seperti kelahiran prematur.
- Masalah Jantung: Anemia membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah guna memenuhi kebutuhan oksigen, yang dapat menyebabkan detak jantung yang cepat atau tidak teratur (aritmia), pembesaran jantung, bahkan gagal jantung.
- Kematian: Beberapa jenis anemia yang bersifat genetik (seperti anemia sel sabit) atau kehilangan darah yang sangat banyak dan cepat dapat menyebabkan anemia berat yang berpotensi fatal.
Metode efektif untuk mengatasi dan mencegah anemia
Pendekatan Terhadap Penanganan Anemia
Penanganan anemia perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya dan harus fokus pada peningkatan kadar hemoglobin secara cepat. Dalam hal ini, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
1. Mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)
Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) adalah metode yang efektif untuk mengatasi anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi atau asam folat. TTD sebaiknya dikonsumsi secara rutin; misalnya, bagi Wanita Usia Subur (WUS), disarankan untuk mengonsumsi tablet seminggu sekali dan satu tablet setiap hari selama masa haid, serta setiap hari selama masa kehamilan bagi ibu hamil (Permenkes, 2014 dalam buku Anemia pada Remaja dan Cara Mengatasinya Sri Yanniarti dkk, 2024).
2. Meningkatkan Asupan Zat Besi Heme (Hewani)
Penting untuk meningkatkan asupan makanan yang kaya akan zat besi dengan menerapkan pola makan yang bergizi seimbang. Zat besi heme yang berasal dari sumber hewani lebih mudah diserap oleh tubuh (sekitar 20-30%), sehingga perlu ditingkatkan. Contoh makanan yang mengandung zat besi heme adalah hati, daging sapi, kambing, unggas, dan ikan.
3. Meningkatkan Penyerapan Nutrisi
Untuk meningkatkan penyerapan zat besi, terutama dari sumber nabati, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C, seperti jeruk, jambu, stroberi, dan brokoli, karena vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi. Di sisi lain, sebaiknya hindari konsumsi teh, kopi (yang mengandung tanin), kalsium, fosfor, serat, dan fitat (dari biji-bijian) dalam jangka pendek dan panjang saat makan, karena zat-zat tersebut dapat menghambat penyerapan zat besi.
Pilihan Makanan Terbaik untuk Menambah Darah
Pola makan yang tepat dan kaya nutrisi sangat penting untuk mengatasi serta mencegah gejala kurang darah. Makanan yang dapat meningkatkan kadar darah harus mengandung zat besi, asam folat, dan vitamin B12.
Zat Besi Heme (yang paling mudah diserap - American Red Cross):
- Daging dan Telur: Daging sapi, domba, hati, daging ayam, dan telur.
- Hidangan Laut: Udang, kerang, tiram, ikan tuna, dan ikan sarden.
Zat Besi Non-Heme (Nabati):
- Sayuran Berdaun Hijau: Bayam, daun bit, kangkung, sawi, dan brokoli.
- Kacang-kacangan: Kacang polong, kacang merah, kacang lentil, dan tahu.
- Buah-buahan Kering: Aprikot kering (yang merupakan sumber zat besi yang baik untuk mencegah kelelahan dan anemia - Makanan Sumber Tenaga, Janette Marshall, 2005), kismis, dan buah ara.
Sumber Folat (yang penting untuk pembentukan sel darah merah):
- Jeruk (sering kali tidak disangka memiliki folat yang memadai), jus buah, sayuran berdaun hijau tua, dan produk biji-bijian yang diperkaya (Mayo Clinic.org).
Silakan ajukan pertanyaan yang sering muncul
Apakah mendonorkan darah dapat memicu anemia?
Mendonorkan darah secara berlebihan tanpa diimbangi dengan konsumsi zat besi yang cukup dapat mengakibatkan penurunan kadar zat besi dalam tubuh. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko terjadinya defisiensi zat besi. Oleh karena itu, Mayo Clinic.org menyarankan agar individu dengan kadar hemoglobin rendah saat screening donor segera berkonsultasi dengan dokter.
Apa yang membedakan anemia defisiensi besi dengan kekurangan gizi besi?
Kekurangan gizi besi merupakan kondisi di mana cadangan zat besi dalam tubuh, yang diukur melalui serum ferritin, berada di bawah batas normal, meskipun kadar hemoglobin (Hb) mungkin masih dalam rentang normal. Di sisi lain, anemia defisiensi besi adalah kondisi yang lebih serius, di mana baik kadar Hb maupun serum ferritin berada di bawah normal, menunjukkan bahwa pembentukan sel darah merah telah terpengaruh.
Mengapa wanita lebih mudah mengalami anemia dibandingkan pria?
Wanita lebih rentan terhadap anemia, khususnya anemia defisiensi zat besi, karena kehilangan darah yang signifikan setiap bulan akibat menstruasi. Selain itu, kehamilan juga meningkatkan kebutuhan akan zat besi dan asam folat secara drastis, sehingga meningkatkan risiko anemia jika tidak diimbangi dengan suplemen dan pola makan yang sehat.
Apakah mengonsumsi teh atau kopi setelah makan dapat menyebabkan anemia?
Teh dan kopi mengandung zat yang dikenal sebagai tanin. Tanin berfungsi sebagai penghambat yang dapat mengikat zat besi non-heme dari makanan dan mengurangi penyerapannya di usus. Meskipun tidak secara langsung menyebabkan anemia, kebiasaan mengonsumsi teh atau kopi segera setelah makan, terutama bagi individu yang sudah memiliki pola makan rendah zat besi, dapat memperburuk risiko anemia.
Kapan seseorang perlu segera berkonsultasi dengan dokter terkait tanda-tanda kurang darah?
Jika Anda mengalami kelelahan atau sesak napas yang tidak diketahui penyebabnya, segera buat janji dengan penyedia layanan kesehatan. Pemeriksaan laboratorium untuk mengukur kadar hemoglobin dan ferritin sangat penting untuk menegakkan diagnosis dan menentukan jenis pengobatan yang sesuai.