Penyebab Mengapa Anak Suka Berteriak, Penting Diketahui oleh Orangtua
Berteriak merupakan salah satu kebiasaan yang dimiliki anak. Ketahui penyebab mengapa anak melakukannya.
Bagi para orang tua, suara teriakan anak mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di taman bermain, di rumah, bahkan di supermarket, teriakan dengan nada tinggi sering kali menjadi pengiring aktivitas anak-anak. Meski terkadang membuat kepala pusing, memahami alasan di balik perilaku ini bisa membantu kita lebih bijak dalam menanggapinya.
Teriakan pada anak-anak ternyata memiliki banyak penyebab. Dilansir dari Romper, Adina Mahalli, MSW, seorang ahli kesehatan mental bersertifikasi, dan Sherrie MacLean, pakar pendidikan anak usia dini, menjelaskan bahwa teriakan anak bukanlah sekadar kebiasaan mengganggu. “Teriakan adalah perilaku yang dipelajari, bukan respons otomatis. Anak-anak berteriak karena mereka bersenang-senang atau berpura-pura ketakutan saat sebenarnya mereka hanya berlari untuk kesenangan semata,” kata Mahalli.
Teriakan Sebagai Bentuk Ekspresi dan Kesenangan
Menurut MacLean, teriakan pada anak-anak sering kali menjadi cara mereka mengekspresikan diri. Bayi, misalnya, cenderung menjerit karena mereka belum memiliki kata-kata untuk menyampaikan emosi mereka. Sementara itu, balita berteriak untuk menarik perhatian atau mengomunikasikan sesuatu. Anak-anak yang lebih besar biasanya melakukannya karena mereka merasa senang atau sedang dikuasai oleh emosi yang besar.
“Anak-anak dari usia muda menikmati suara dan sensasi menjadi keras,” jelas MacLean. Getaran di tenggorokan atau gema dari suara keras mereka sering kali dianggap menyenangkan. Bahkan, mereka terkadang mengajak orang dewasa untuk bergabung dalam “lomba” siapa yang bisa bersuara paling keras. Tidak hanya itu, teriakan juga berfungsi sebagai cara instan untuk menarik perhatian. “Orang-orang akan berhenti dan melihat ketika seorang anak berteriak, dan terkadang itulah yang diinginkan anak,” tambahnya.
Teriakan Sebagai Bentuk Frustrasi atau Kemarahan
Namun, tidak semua teriakan berasal dari kegembiraan. Ada kalanya anak-anak menjerit karena merasa marah atau frustrasi. Dalam situasi seperti ini, tugas orang tua adalah menawarkan solusi dan memberikan waktu serta ruang bagi anak untuk menenangkan diri.
Mahalli menekankan bahwa sebagai orang dewasa, kita harus memahami akar dari teriakan tersebut. Apakah itu bentuk kesenangan, keinginan untuk diperhatikan, atau respons terhadap perasaan tidak nyaman? “Teriakan adalah cara anak-anak mengomunikasikan sesuatu, dan penting bagi kita untuk mendengarkan dengan penuh perhatian sebelum masalahnya menjadi lebih besar,” jelasnya.
Bagaimana Mengatasi Kebiasaan Berteriak pada Anak?
Meski teriakan anak sering kali dianggap wajar secara perkembangan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak mengurangi kebiasaan ini, terutama jika teriakan tersebut sudah mulai mengganggu.
Ajarkan Cara Berkomunikasi yang Lebih Baik
Jika anak sering berteriak untuk menarik perhatian, coba ajarkan cara yang lebih tenang untuk mendapatkan respons dari orang tua. Misalnya, dengan meminta mereka menggunakan kata-kata sederhana atau gestur tertentu.
Berikan Perhatian Sebelum Anak Berteriak
Menurut Mahalli, memberikan perhatian penuh kepada anak sebelum mereka merasa perlu berteriak bisa menjadi langkah pencegahan yang efektif. Ketika anak merasa didengar, mereka cenderung tidak menggunakan suara keras untuk menarik perhatian.
Ciptakan Lingkungan yang Mendukung
Beberapa anak, terutama yang memiliki keterlambatan perkembangan, mungkin kesulitan memahami isyarat sosial dan lebih memilih berteriak daripada berbicara dengan nada normal. Dalam kasus ini, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi mereka tanpa tekanan berlebihan.
Latih Anak Mengenali Emosi
Mengajarkan anak untuk mengenali dan mengelola emosinya bisa membantu mereka mengekspresikan diri dengan lebih baik. Buku cerita atau permainan tentang emosi bisa menjadi alat yang berguna untuk memulai.
Berikan Contoh yang Baik
Anak-anak sering kali meniru perilaku orang di sekitarnya. Jika orang tua atau pengasuh berbicara dengan nada tenang, anak pun cenderung mengikuti.
Ketahui Batas Wajar Teriakan Anak
Teriakan pada anak-anak sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan mereka. Namun, jika teriakan terus-menerus terjadi dalam situasi yang tidak sesuai, seperti di tempat umum, orang tua mungkin merasa perlu untuk mengambil langkah lebih lanjut.
Mahalli menjelaskan, “Dalam kasus tertentu, teriakan bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius, seperti ketidakmampuan anak untuk berkomunikasi dengan cara lain.” Jika ini terjadi, berkonsultasilah dengan ahli untuk mendapatkan saran yang tepat.
Teriakan anak, meskipun sering kali membuat telinga “berdenging,” adalah bagian alami dari proses tumbuh kembang mereka. Teriakan bisa menjadi bentuk kesenangan, ekspresi emosi, atau cara untuk menarik perhatian. Dengan memahami penyebab di balik perilaku ini, orang tua dapat lebih bijaksana dalam merespons dan membantu anak mengelola kebiasaannya.