Mi Pakai Nasi Nikmatnya Cuma Sesaat, Ternyata Ada Bahaya Mengintai
Konsumsi nasi dan mi secara bersamaan dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas dan kolesterol tinggi.
Bagi banyak orang Indonesia, mi dan nasi sering dianggap pasangan serasi di atas meja makan. Kehadiran nasi sebagai pendamping mi bahkan kerap dilihat sebagai tanda hidangan yang “lengkap”.
Kombinasi dua sumber karbohidrat ini memang memberi sensasi kenyang dan rasa nikmat tersendiri.
Namun, jika porsinya berlebihan, pola ini berlawanan dengan prinsip gizi seimbang Isi Piringku.
“Kombinasi ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan gizi dan berpotensi memicu gangguan kesehatan jika tidak diimbangi dengan asupan gizi lain,” ujar Rosyda Dianah, SKM, MKM, dosen Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University.
Rosyda menjelaskan, mengonsumsi mi bersama nasi dapat membuat asupan kalori dan karbohidrat melonjak tajam. Dampaknya, porsi gizi penting lain seperti vitamin dan mineral dari sayuran, serta protein dari lauk, menjadi sangat minim.
“Jika nasi dan mi dimakan dalam jumlah yang sama, kandungan karbohidratnya bisa mencapai 80 persen dari total energi, sementara protein dan lemak menjadi sangat rendah,” tegasnya dikutip dari laman IPB, Rabu (13/8).
Kombinasi mi dan nasi tidak sesuai dengan konsep isi piring
Dalam konteks gizi seimbang, Indonesia mengadopsi konsep yang dikenal sebagai Isi Piringku. Konsep ini memberikan panduan visual yang mudah dipahami dan diterapkan mengenai porsi makanan sehat yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.
Menurut konsep Isi Piringku, piring harus terdiri dari 50 persen sayur dan buah, sementara 50 persen sisanya merupakan kombinasi karbohidrat dan protein. Jika seseorang hanya mengonsumsi nasi dan mi saat makan, maka pola makan tersebut tidak memenuhi prinsip Isi Piringku.
"Kandungan ini tidak seimbang dan jauh dari konsep Isi Piringku," kata Rosdya.
Bahaya Kesehatan yang Dapat Timbul
Mengkonsumsi nasi dan mi secara bersamaan dalam waktu yang lama dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan metabolik, termasuk obesitas, resistensi insulin, dislipidemia, dan inflamasi kronis.
"Kelebihan karbohidrat sederhana dari nasi putih dan mi instan dapat meningkatkan indeks glikemik dan mempercepat lonjakan gula darah. Jika tidak dibarengi asupan protein dan serat yang cukup, efeknya bisa jangka panjang," ujar Rosdya.
Selain itu, kurangnya asupan protein dan lemak sehat dapat menurunkan kadar hormon yang mengatur nafsu makan, seperti leptin dan peptida YY. Akibatnya, rasa lapar akan terus muncul, yang dapat menyebabkan peningkatan konsumsi kalori berlebihan, terutama dari karbohidrat sederhana.
Terapkan pola makan seimbang, bukan hanya mengandalkan karbohidrat
Untuk mencapai kesehatan yang lebih baik, penting untuk mengikuti prinsip gizi seimbang yang berpedoman pada Isi Piringku saat menyantap makanan.
Dalam prinsip ini, tidak diperbolehkan adanya penumpukan karbohidrat di piring. Sebagai tambahan, piring makan juga harus mengandung protein, lemak sehat, serta serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan.
"Prinsipnya adalah menyeimbangkan piring makan sesuai dengan pedoman Isi Piringku. Pastikan karbohidrat tidak lebih dari seperempat bagian piring dan lengkapi dengan protein, lemak sehat, serta serat dari sayuran dan buah," saran Rosdya.
Dengan menerapkan prinsip gizi seimbang, kita dapat memastikan asupan nutrisi yang tepat untuk tubuh. Hal ini membantu dalam menjaga kesehatan dan mencegah berbagai penyakit.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan komposisi makanan yang kita konsumsi setiap hari agar sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Mengatur porsi karbohidrat, protein, lemak sehat, serta serat dengan baik akan memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan kita.