Kenali Tanda Anak Memendam Perasaan: Perubahan Perilaku dan Cara Mengatasinya
Anak yang memendam perasaan menunjukkan tanda-tanda perubahan perilaku seperti menarik diri, perubahan suasana hati drastis, dan kesulitan berkomunikasi.
Sebagai orang tua, kita tentu ingin memiliki hubungan yang terbuka dengan anak-anak, di mana mereka merasa nyaman untuk berbagi perasaan. Namun, terkadang sulit untuk membuat mereka terbuka. Dilansir dari Parents, Viviana McGovern, LMFT, CEO dan direktur klinis di Full Vida Therapy, menyampaikan bahwa salah satu hal yang paling sering didengar dari orang tua adalah, 'Saya hanya ingin anak saya berbicara kepada saya,' atau 'Saya ingin merasa lebih terhubung dengan anak saya.'
Anak-anak biasanya tidak serta merta berbagi hanya karena kita meminta mereka. Mereka perlu merasa aman secara emosional untuk melakukannya. Rasa aman ini dibangun dengan memastikan bahwa anak-anak merasa didengarkan, tidak dihakimi, dan tahu bahwa ketika mereka terbuka, mereka akan mendapatkan dukungan. Keamanan emosional dibangun dalam momen-momen kecil sehari-hari, bukan hanya selama 'pembicaraan besar,' kata McGovern.
Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang bagaimana membantu anak-anak merasa lebih aman secara emosional untuk terbuka kepada Anda, dan bagaimana mengidentifikasi tanda-tanda bahwa mereka mungkin sedang berjuang.
Tanda-Tanda Anak Tidak Merasa Aman untuk Terbuka
Lantas, bagaimana Anda bisa tahu bahwa anak Anda mungkin tidak merasa cukup aman untuk berkomunikasi secara bebas? Berikut adalah beberapa tanda yang mungkin muncul ketika anak tidak merasa aman untuk terbuka:
- Mereka sering menutup diri ketika Anda mengajukan pertanyaan, atau memberikan jawaban satu kata.
- Mereka mungkin tampak sangat gugup atau terlalu berhati-hati di sekitar Anda.
- Mereka mungkin hanya berbagi hal-hal dangkal tentang kehidupan mereka dan menghindari hal-hal yang lebih emosional.
- Mereka mungkin merasa lebih nyaman curhat kepada teman sebaya, guru, atau orang dewasa lainnya.
Victoria Grinman, PhD, LCSW-R, psikoterapis dan pendiri Growing Kind Minds LLC dan The Round Table Mentorship, mengatakan bahwa tanda-tanda anak Anda tidak merasa cukup aman untuk terbuka kepada Anda dapat dibagi menjadi dua kategori dasar: tanda-tanda yang lebih jelas dan yang lebih halus.
Tanda-Tanda yang Lebih Jelas
Beberapa tanda bahwa anak Anda tidak merasa aman untuk terbuka kepada Anda jauh lebih mudah dikenali. Menurut Grinman, ini termasuk:
- Menolak berkomunikasi
- Mengabaikan
- Berbohong
- Kurangnya keterlibatan
- Menghindari kontak mata
- Menangkis dengan sarkasme, humor, atau energi "Saya tidak peduli"
Tanda-tanda ini mungkin lebih mudah dikenali karena anak secara langsung menunjukkan penolakan atau penghindaran dalam berkomunikasi. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua anak menunjukkan tanda-tanda ini dengan cara yang sama.
Beberapa anak mungkin lebih pandai menyembunyikan perasaan mereka atau menemukan cara lain untuk menghindari pembicaraan yang sulit. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan tanda-tanda yang lebih halus juga.
Tanda-Tanda yang Lebih Halus
Tidak semua tanda penarikan emosional terlihat seperti menjauhkan diri, kata Grinman, tetapi mungkin terlihat sebaliknya. Beberapa anak justru menjadi:
- Terlalu patuh
- Perfeksionis
- Berusaha menyenangkan
Apa yang bisa kita simpulkan dari perilaku ini? Anak-anak sering bertindak seperti ini bukan karena mereka 'anak yang mudah,' tetapi karena mereka takut mengecewakan Anda, jelas Grinman.
Perilaku seperti ini bisa menjadi cara anak untuk menghindari konflik atau mendapatkan persetujuan dari orang tua. Mereka mungkin merasa bahwa dengan menjadi patuh dan menyenangkan, mereka akan terhindar dari kritik atau hukuman.
Mengapa Anak Tidak Merasa Aman untuk Terbuka?
Ketika anak-anak kita bertindak seperti ini, wajar jika kita dipenuhi dengan pertanyaan dan kekhawatiran. Misalnya, Anda mungkin bertanya-tanya: "Mengapa mereka bertindak seperti ini?" Dan, "Dari mana semua ini berasal?"
Hal ini sebagian dapat disebabkan oleh pola yang terbentuk ketika seorang anak masih kecil. Anak-anak belajar sejak dini apakah emosi mereka disambut dengan rasa ingin tahu atau koreksi, kata Grinman. Jika seorang anak merasakan bahwa kerentanan disambut dengan kritik, perbaikan, hukuman, atau bahkan rasa kewalahan orang tua, mereka mungkin secara tidak sadar memutuskan bahwa lebih aman untuk menyimpan semuanya.
McGovern setuju bahwa seberapa aman seorang anak merasa untuk terbuka seringkali berkaitan dengan bagaimana Anda bereaksi di lain waktu ketika mereka berbagi perasaan sulit dengan Anda. Anak-anak sering menahan diri karena mereka takut bagaimana orang tua mereka mungkin bereaksi, katanya. Mereka mungkin khawatir akan diabaikan, dihukum, atau disalahpahami.
McGovern menekankan bahwa ini bukan hanya ketika orang tua bereaksi dengan cara yang kasar atau meremehkan terhadap perasaan anak mereka. Bahkan respons yang bermaksud baik—seperti memberikan nasihat terlalu cepat atau mencoba memperbaiki masalah—dapat membuat mereka menutup diri, terutama jika itu bukan yang mereka butuhkan saat itu, jelasnya.
Terakhir, McGovern mengatakan, beberapa anak kesulitan berbagi perasaan mereka hanya karena mereka tidak memiliki kosakata emosional untuk menyebutkan perasaan mereka atau mengekspresikan perasaan mereka secara umum.
Cara Membuat Anak Terbuka
Jika Anda ingin anak Anda lebih terbuka kepada Anda, Grinman menyarankan untuk mengalihkan fokus Anda ke dalam diri. Jika seorang orang tua tidak teratur, seorang anak akan kesulitan untuk mengatur diri bersama, jelasnya. Seringkali orang tua dan anak-anak terlibat dalam eskalasi bersama daripada skenario pengaturan bersama, membuat semua orang terputus.
Sebelum Anda terlibat dengan anak Anda atau meminta mereka untuk terbuka, Grinman merekomendasikan untuk mencatat nada bicara, postur tubuh, dan napas Anda sendiri. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah Anda cukup tenang untuk menerima apa yang mungkin mereka katakan tanpa menghakimi atau panik?
Alat terbaik yang saya miliki untuk orang tua sebelum menawarkan tip atau strategi pengasuhan adalah wawasan bahwa berfokus pada pengalaman menjadi orang tua mereka dan kesadaran diri mereka sendiri adalah pembuka terbaik untuk tindakan pengasuhan yang sukses, kata Grinman.
Setelah Anda memusatkan diri, Grinman merekomendasikan tips berikut untuk membuat anak Anda terbuka:
- Ciptakan tradisi yang mendorong koneksi, seperti obrolan saat berkendara, ritual sebelum tidur, atau waktu kreatif yang tenang
- Berikan ruang untuk perasaan anak Anda tanpa menekan mereka untuk terbuka
- Pertimbangkan untuk mengatakan hal-hal seperti: "Aku tidak perlu kamu berbicara sebelum kamu siap. Aku hanya ingin kamu tahu aku ada di sini ketika kamu siap."
- Bantu anak Anda memberi label pada perasaan mereka tanpa rasa malu
- Validasi perasaan mereka tanpa menghakimi (misalnya, "Kedengarannya membuat frustrasi," atau "Aku juga akan sedih jika itu terjadi.")
- Akui kesalahan Anda; jika tanggapan Anda di masa lalu belum menciptakan ruang yang aman bagi anak Anda untuk berbagi, perbaiki dengan mengatakan sesuatu seperti: "Aku menyadari kadang-kadang aku berbicara terlalu banyak atau mencoba memperbaiki sesuatu terlalu cepat. Aku ingin melakukan yang lebih baik."
Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychology, anak-anak yang merasa didukung dan diterima oleh orang tua mereka lebih cenderung terbuka dan berbagi perasaan mereka. Studi tersebut juga menemukan bahwa orang tua yang secara aktif mendengarkan anak-anak mereka dan menunjukkan empati menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi anak-anak untuk berbagi.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Ingatlah bahwa Anda tidak harus melakukan ini sendirian, dan penting untuk mendapatkan bantuan untuk anak Anda jika mereka berjuang dengan kesehatan mental mereka. Jika anak Anda terus-menerus menarik diri, reaktif secara emosional, mati rasa, atau menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau depresi, ini adalah waktu yang tepat untuk membawa terapis, saran McGovern. Pihak ketiga yang netral dengan pengalaman di bidang ini dapat membantu anak-anak mengekspresikan emosi mereka dan memperkuat hubungan orang tua-anak.
Perlu diingat juga bahwa dalam hal komunikasi, ini adalah jalan dua arah, dan seringkali orang tua mendapat manfaat dari terapi sendiri. Ini terutama benar jika Anda merasa terpicu oleh kurangnya komunikasi atau gaya komunikasi anak Anda, atau jika Anda tidak tahu bagaimana merespons.
Terapi dapat membantu kedua belah pihak terhubung kembali dengan cara yang lebih sehat dan lebih bermakna, McGovern menyimpulkan.
Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa membangun hubungan yang terbuka dan aman dengan anak membutuhkan waktu dan kesabaran. Dengan menciptakan lingkungan yang mendukung dan responsif, Anda dapat membantu anak Anda merasa lebih nyaman untuk berbagi perasaan mereka dan membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih bermakna.