Yusril Ihza Mahendra Dorong Generasi Muda Pelajari Pemikiran Pendiri Bangsa
Yusril Ihza Mahendra menyerukan generasi muda untuk mendalami pemikiran pendiri bangsa, khususnya Mohammad Natsir, demi menjaga nilai kebangsaan dan demokrasi.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak As Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra baru-baru ini menyerukan kepada generasi muda Indonesia untuk mendalami pemikiran para pendiri bangsa. Pesan ini disampaikan di Jakarta pada Minggu (28/6), menekankan pentingnya warisan intelektual dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Menurut Yusril, mempelajari pemikiran tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir adalah kunci untuk mempertahankan nilai keislaman, demokrasi, dan kebangsaan di tengah dinamika kehidupan bernegara. Ia berharap generasi penerus dapat terus membaca dan menelaah gagasan-gagasan fundamental tersebut.
Seruan ini muncul menjelang ujian promosi doktor Yusril di Universitas Indonesia, di mana disertasinya juga berfokus pada pemikiran Mohammad Natsir. Sebelumnya, ia melakukan ziarah ke makam Natsir sebagai bentuk penghormatan dan refleksi pribadi atas pengaruh tokoh tersebut.
Mohammad Natsir: Sosok Inspiratif dan Pemikir Cerdas
Mohammad Natsir, Perdana Menteri ke-5 Indonesia, diakui oleh Yusril Ihza Mahendra sebagai salah satu pendiri bangsa yang sangat menginspirasi perjalanan intelektualnya. Sejak usia muda, Natsir telah aktif menulis dan menuangkan berbagai pemikirannya yang mendalam.
Berbagai tulisan dan gagasan Natsir, yang diwariskan hingga kini, dinilai masih sangat relevan dan mampu memberikan inspirasi bagi bangsa Indonesia. Yusril menekankan bahwa Natsir adalah pribadi yang cerdas dan memiliki integritas tinggi.
Sejarah mencatat bahwa Natsir terlibat dalam perdebatan intelektual yang sengit dengan Presiden Pertama RI Soekarno mengenai hubungan antara Islam dan negara. Meskipun demikian, perbedaan pandangan tersebut tidak pernah menghilangkan rasa hormat di antara keduanya maupun komitmen mereka terhadap persatuan Indonesia.
Yusril menyoroti bahwa politik masa kini sangat membutuhkan integritas dan kedewasaan yang dicontohkan oleh Natsir. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, namun menjaga persatuan bangsa dan mengutamakan kepentingan Indonesia harus tetap menjadi prioritas utama.
Relevansi Pemikiran Natsir dalam Konteks Kekinian
Bagi Yusril, sosok Mohammad Natsir bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan sumber inspirasi yang pemikirannya tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan Indonesia saat ini. Ia melihat Natsir sebagai bukti nyata bahwa Islam dan demokrasi dapat berjalan seiringan dalam menjaga keutuhan bangsa.
Warisan terbesar Natsir tidak hanya terletak pada gagasan-gagasan besarnya, tetapi juga pada keteladanan dalam berpolitik dan pengabdiannya kepada negara. Yusril sendiri memiliki interaksi panjang dengan Natsir sejak 1978 hingga wafatnya tokoh Masyumi tersebut pada 1993.
Kerinduan akan sosok Natsir mendorong Yusril untuk berziarah ke makamnya di TPU Karet Bivak pada Rabu (24/6), sebagai momen refleksi dan penghormatan. Ziarah ini diharapkan membawa hikmah dalam melanjutkan tradisi keilmuan, kajian filsafat, serta semangat pengabdian kepada bangsa, negara, dan umat.
Disertasi Yusril yang akan dipertahankan di Universitas Indonesia berjudul "Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial" menawarkan pembacaan ulang gagasan Natsir. Penelitian ini bertujuan memahami relevansi pemikiran Natsir dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini.
Sumber: AntaraNews