Sultan HB X Ungkap Pelajaran Reformasi 98, Ingatkan Pejabat Pentingnya Dialog Antargenerasi dengan Pemuda
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pentingnya Dialog Antargenerasi, mengingatkan pejabat untuk mendengar dan berdialog dengan generasi muda demi menghindari kesenjangan dan kesalahpahaman.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan pesan penting kepada para pejabat di seluruh Indonesia. Beliau mengingatkan agar para pemangku kebijakan mau membuka ruang dialog dan mendengarkan aspirasi generasi muda, bukan sekadar memberikan perintah tanpa memahami konteks.
Pernyataan ini disampaikan Sultan HB X saat menghadiri acara Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai yang berlangsung di Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-alun Selatan, Kota Yogyakarta. Acara tersebut menjadi wadah bagi Sultan untuk menyoroti urgensi komunikasi dua arah antara generasi tua dan muda.
Menurut Raja Keraton Yogyakarta tersebut, perbedaan cara pandang antara generasi merupakan hal yang lumrah dan wajar. Namun, tanpa adanya dialog yang mendalam, perbedaan ini berpotensi menimbulkan kesenjangan pemahaman yang dapat berujung pada konflik sosial.
Pentingnya Memahami Perbedaan Generasi
Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa perbedaan pola pikir antara generasi tua dan muda merupakan konsekuensi alami dari latar belakang pengalaman dan zaman yang berbeda. Oleh karena itu, para pejabat atau generasi yang lebih tua memiliki tanggung jawab untuk mencoba memahami perspektif generasi muda.
Beliau mencontohkan pengalamannya sendiri, "Usia saya terlalu berbeda banyak dengan anak-anak muda yang ada sekarang. Saya mencoba belajar untuk menyelami keinginan anak-anak muda, bukan anak-anak muda yang mengikuti pola pikir saya." Pendekatan ini menunjukkan pentingnya adaptasi dan empati dalam Dialog Antargenerasi.
Tanpa adanya Dialog Antargenerasi yang terbuka dan setara, perbedaan pandangan dapat dengan mudah berkembang menjadi kesalahpahaman. Kondisi ini pada akhirnya berisiko merusak kebersamaan sosial dan menciptakan ketegangan yang tidak perlu di masyarakat.
Sultan berharap agar generasi yang lebih tua bersedia mendengarkan dan, jika memungkinkan, menyesuaikan pola pikirnya dengan generasi muda. Hal ini karena generasi muda tidak memiliki pengalaman yang sama dengan generasi tua, sehingga tidak dapat dipaksa untuk mengikuti pola pikir yang sudah ada.
Belajar dari Sejarah: Reformasi 1998
Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga menyinggung peristiwa Reformasi 1998 sebagai sebuah pelajaran berharga bagi bangsa. Menurutnya, peristiwa besar tersebut seharusnya tidak perlu terjadi jika komunikasi antara generasi tua dan muda pada saat itu terjalin dengan baik dan efektif.
Beliau mengidentifikasi akar masalah Reformasi 1998 sebagai "gap pola pikir yang tua sama yang muda, tapi tidak pernah dikomunikasikan dengan baik, sehingga tidak nyambung." Kutipan ini menyoroti dampak fatal dari kegagalan Dialog Antargenerasi dalam skala nasional.
Pengalaman Reformasi 1998 menjadi pengingat yang kuat akan bahaya kesenjangan komunikasi. Ketika aspirasi dan pemahaman generasi muda tidak didengar atau diakomodasi, hal itu dapat memicu ketidakpuasan dan gerakan sosial yang masif.
Membangun Komunikasi Setara untuk Demokrasi
Untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa depan, Sultan HB X mengajak seluruh pejabat untuk mampu membangun komunikasi yang setara. Komunikasi semacam ini akan memastikan bahwa perbedaan pandangan justru dapat memperkuat kehidupan demokrasi, alih-alih menimbulkan ketegangan.
Meskipun perbedaan dalam kebijakan mungkin akan selalu ada, hal terpenting adalah mencegah terjadinya "gap" atau kesenjangan yang terlalu lebar. "Mungkin dalam kebijakan akan ada perbedaan, yang penting jangan sampai terjadi gap. Nanti kalau ada demonstrasi baru kaget, kan gitu?" ujar Sri Sultan.
Pesan ini menekankan bahwa Dialog Antargenerasi bukan hanya tentang mendengarkan, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan di mana setiap suara dihargai. Dengan demikian, kebijakan yang diambil dapat lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda.
Sumber: AntaraNews