Gubernur Maluku Rangkul Semua Pihak Atasi Konflik Arbes Ambon
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengambil langkah proaktif merangkul berbagai elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menuntaskan kembali Konflik Arbes Ambon yang berulang di sekitar Kampus UIN Abdul Muthalib Sangadji (UIN AMSA).
Gubernur Maluku Ajak Semua Pihak Atasi Konflik Arbes Ambon
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa secara sigap merespons konflik yang kembali pecah di kawasan Arbes, Kota Ambon, tepatnya di sekitar Kampus UIN Abdul Muthalib Sangadji (UIN AMSA). Ia menginisiasi pertemuan penting dengan berbagai pihak untuk mencari solusi komprehensif. Peristiwa ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan aparat keamanan.
Pertemuan tersebut dilaksanakan di Ambon pada hari Sabtu, melibatkan tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, serta unsur pengamanan dari Polda Maluku dan Kodam XV/Pattimura. Bupati Seram Bagian Timur dan Wali Kota Ambon turut hadir dalam diskusi strategis ini. Tujuannya adalah menyatukan visi dalam menghadapi situasi keamanan yang kembali memanas.
Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa penanganan konflik yang berulang di kawasan tersebut memerlukan pendekatan multidimensional. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara aspek keamanan, penegakan hukum, dan pendekatan sosial kemasyarakatan. Langkah ini diambil untuk memastikan situasi kondusif kembali tercipta di tengah masyarakat.
Langkah Komprehensif Gubernur Maluku Hadapi Konflik Arbes Ambon
Gubernur Hendrik Lewerissa menjelaskan bahwa pertemuan dengan para tokoh dan aparat keamanan bertujuan memberikan dukungan penuh kepada Polri. Dukungan ini esensial untuk memulihkan situasi keamanan di Arbes Ambon dan menegakkan langkah hukum secara tegas serta terukur. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas.
Beliau menyoroti bahwa konflik di kawasan Arbes merupakan insiden yang berulang, sehingga membutuhkan penanganan yang tidak hanya reaktif. Pendekatan komprehensif diperlukan, mencakup aspek keamanan untuk meredam kekerasan, aspek hukum untuk menindak pelaku, dan aspek sosial kemasyarakatan guna mencegah terulangnya kejadian serupa.
Dalam upaya penegakan hukum, Gubernur menekankan bahwa penetapan tersangka harus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini untuk memastikan proses hukum berjalan adil dan transparan. Kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum menjadi kunci dalam penyelesaian masalah ini.
Penegakan Hukum dan Kepercayaan Publik dalam Konflik Arbes Ambon
Hendrik Lewerissa menjelaskan bahwa penetapan tersangka memerlukan minimal dua alat bukti yang sah. Ia yakin kepolisian akan menetapkan tersangka jika bukti-bukti tersebut telah diperoleh. Sampai saat ini, aparat kepolisian masih terus memburu para pelaku yang terlibat dalam insiden tersebut.
Gubernur mengakui adanya harapan besar dari masyarakat agar pelaku segera diproses hukum. Namun, ia meminta publik untuk tetap mempercayakan seluruh proses tersebut kepada aparat kepolisian. Kepercayaan ini penting agar kepolisian dapat bekerja optimal tanpa intervensi atau tekanan yang tidak perlu.
“Kami memahami harapan publik. Karena itu, mari kita percayakan sepenuhnya proses penegakan hukum kepada pihak kepolisian,” tegas Hendrik Lewerissa. Pernyataan ini bertujuan menenangkan masyarakat dan mengarahkan fokus pada jalur hukum yang resmi. Ini juga menegaskan peran sentral kepolisian dalam penyelesaian konflik.
Imbauan Damai dan Fakta Insiden Konflik Arbes Ambon
Selain penegakan hukum, Gubernur juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Berita hoaks atau informasi yang menyesatkan dapat memperkeruh suasana dan memicu konflik lebih lanjut. Kewaspadaan terhadap informasi menjadi sangat penting.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terhasut oleh berita yang tidak faktual. Sumber informasi resmi yang menjadi rujukan adalah dari Polda Maluku,” ujarnya. Himbauan ini menekankan pentingnya merujuk pada sumber resmi untuk mendapatkan informasi yang akurat dan terverifikasi mengenai Konflik Arbes Ambon.
Sebelumnya, insiden tawuran antarkelompok pemuda di kawasan Arbes, Negeri Batu Merah, Kota Ambon, menyebabkan sedikitnya dua orang dilarikan ke rumah sakit. Korban mengalami luka akibat terkena panah di bagian dada, sementara seorang mahasiswa UIN AMSA Ambon juga menderita luka bacokan parang di pergelangan tangan kiri.
Berdasarkan pantauan di lapangan, bentrokan dimulai dengan saling lempar batu dan penggunaan senjata tajam antar dua kelompok pemuda di pertigaan Kampus UIN AMSA. Konflik ini kemudian meluas hingga ke ruas jalan pertigaan Air Besar (Arbes), tepat di depan salah satu gerai swalayan.
Sumber: AntaraNews