Pela Gandong: Modal Sosial Maluku Perkuat Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama
Gubernur Maluku menegaskan nilai kearifan lokal Pela Gandong sebagai modal sosial yang sangat kuat untuk memperkokoh toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Maluku, menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa baru-baru ini menekankan pentingnya nilai kearifan lokal Pela Gandong. Nilai ini menjadi modal sosial yang sangat kuat dalam memperkokoh toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Provinsi Maluku. Pernyataan ini disampaikan Gubernur Hendrik di Ambon, menyoroti peran Pela Gandong dalam menjaga keharmonisan masyarakat.
Pela Gandong dan semangat hidup orang basudara telah lama menjadi fondasi persaudaraan masyarakat Maluku. Ini mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya yang ada di wilayah tersebut. Gubernur Lewerissa menegaskan bahwa nilai ini bukan sekadar warisan budaya, melainkan modal sosial yang harus terus dirawat dan diaktualisasikan.
Penegasan ini disampaikan Gubernur Maluku dalam kunjungan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kota Ambon. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dan pusat dalam mempromosikan nilai-nilai persatuan. Tujuannya untuk mencegah potensi konflik sosial dan memperkuat ikatan masyarakat Maluku yang majemuk.
Pela Gandong: Fondasi Persaudaraan Maluku
Pela Gandong merupakan kearifan lokal masyarakat Maluku yang merepresentasikan ikatan persaudaraan sejati antarnegeri atau desa. Ikatan ini melampaui perbedaan agama, suku, dan latar belakang sosial yang ada. Nilai luhur ini dibangun atas kesepakatan leluhur dan diwariskan secara turun-temurun.
Sebagai komitmen, Pela Gandong bertujuan untuk saling melindungi, menolong, dan menjaga kehormatan satu sama lain. Dalam nilai Pela Gandong, setiap warga dipandang sebagai orang basudara, atau saudara sekandung dalam ikatan moral dan budaya. Prinsip ini menempatkan perdamaian, solidaritas, dan rasa tanggung jawab kolektif sebagai landasan hidup bersama.
Jika satu negeri mengalami kesulitan, maka negeri gandong atau pela berkewajiban hadir memberi dukungan. Bantuan ini diberikan tanpa memandang perbedaan keyakinan atau latar belakang lainnya. Ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial yang dibangun melalui tradisi Pela Gandong di Maluku.
Peran Pela Gandong dalam Merawat Toleransi
Di tengah masyarakat Maluku yang majemuk, Pela Gandong berfungsi sebagai modal sosial yang sangat efektif. Ini berperan besar dalam merawat toleransi dan mencegah konflik sosial. Nilai ini secara tegas menyatakan bahwa perbedaan bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan.
Kekuatan ini digunakan untuk membangun kehidupan yang harmonis, adil, dan bermartabat bagi seluruh elemen masyarakat. Pela Gandong mengajarkan pentingnya saling menghargai dan menerima perbedaan sebagai bagian dari kekayaan budaya. Ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kerukunan antarumat beragama.
Melalui praktik Pela Gandong, masyarakat Maluku secara aktif memelihara jalinan persaudaraan. Mereka memastikan bahwa setiap individu merasa aman dan dihormati dalam keberagaman. Ini adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi benteng pertahanan terhadap potensi perpecahan.
Strategi Pemerintah Provinsi Maluku Perkuat Kerukunan
Berkaitan dengan hal itu, Gubernur Maluku menekankan pentingnya komunikasi yang intensif dan keterbukaan antarumat beragama. Tujuannya adalah meminimalisir salah persepsi atau misperception yang berpotensi memicu gesekan sosial. Langkah ini krusial untuk menjaga stabilitas dan kedamaian di provinsi tersebut.
Pemerintah Provinsi Maluku juga menggencarkan temu tokoh lintas agama sebagai wadah strategis. Pertemuan ini bertujuan untuk membangun rasa saling percaya serta menjaga stabilitas sosial daerah. Inisiatif ini menciptakan dialog konstruktif antar pemuka agama dan komunitas.
Pemerintah Provinsi Maluku memandang tokoh agama sebagai pilar utama dalam menjaga kedamaian. Mereka juga merupakan teladan persaudaraan sejati bagi generasi muda. Melalui pertemuan ini, diharapkan lahir gagasan-gagasan konstruktif untuk memperkokoh toleransi. Selain itu, upaya ini juga mencegah potensi konflik sejak dini melalui deteksi awal, serta menciptakan ekosistem kehidupan beragama yang inklusif dan harmonis.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan kunjungan kerjanya di Maluku bertujuan untuk memperkuat dialog lintas iman dan kerukunan umat beragama. Ini menunjukkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan masyarakat yang damai dan toleran.
Sumber: AntaraNews