90 Tahun GPM: Momentum Perkuat Perdamaian, Ini Peran Penting Gereja di Maluku
Perayaan HUT ke-90 GPM menjadi momentum penting untuk GPM perkuat perdamaian di Maluku, menegaskan peran gereja dalam menjaga harmoni dan persaudaraan lintas agama.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-90 Gereja Protestan Maluku (GPM) harus dimaknai sebagai momentum penting. Perayaan ini bertujuan untuk memperkuat semangat persaudaraan dan merawat perdamaian yang telah terjalin di bumi Maluku.
Pernyataan ini disampaikan Gubernur saat membuka ibadah syukur HUT GPM di Gereja Betsaida, Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan, baru-baru ini. Ia menekankan bahwa gereja memiliki peran krusial tidak hanya dalam melayani umat, tetapi juga menjaga harmoni.
Menurutnya, GPM telah berkontribusi besar dalam sejarah Maluku, bukan hanya lewat pelayanan rohani. Kontribusi tersebut juga mencakup upaya merawat kerukunan masyarakat lintas agama dan budaya secara berkelanjutan.
Peran GPM dalam Merawat Kerukunan dan Harmoni
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa GPM adalah mitra strategis pemerintah dalam membangun daerah. Melalui ajaran dan pelayanan yang konstruktif, GPM secara aktif mendukung terciptanya masyarakat yang rukun, damai, dan bermartabat di Maluku. Kemitraan ini sangat penting untuk stabilitas sosial.
Kemitraan antara gereja dan pemerintah terwujud nyata dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. GPM tidak hanya fokus pada pengajaran firman Tuhan, tetapi juga secara proaktif menggerakkan jemaatnya. Mereka didorong untuk menjadi agen perdamaian, membangun dialog lintas iman, serta meredam potensi konflik sosial yang mungkin muncul di Maluku.
Di sektor pendidikan, GPM melalui lembaga-lembaga yang dikelolanya, berperan membentuk generasi muda yang berkualitas. Mereka dididik untuk menjauhi kekerasan dan tumbuh dalam semangat kasih sayang. Selain itu, gereja juga aktif dalam pelayanan sosial dan kemanusiaan, seperti mendampingi masyarakat saat bencana dan menumbuhkan solidaritas lintas agama serta budaya.
Gereja Protestan Maluku (GPM) juga menanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan etos kerja melalui khotbah serta pembinaan keluarga. Nilai-nilai ini sejalan dengan upaya pembangunan daerah. Bahkan, GPM sering menjadi mitra pemerintah dalam program pemberdayaan masyarakat, kesehatan, hingga penguatan ekonomi di pulau-pulau kecil.
GPM dan Fondasi Pembangunan Maluku yang Damai
Gubernur Hendrik Lewerissa menekankan bahwa GPM bukan sekadar tempat ibadah semata. Lebih dari itu, GPM merupakan pusat pembinaan iman, karakter, dan persaudaraan yang krusial. Hal ini sangat sejalan dengan misi pemerintah daerah untuk membangun Maluku yang damai dan bermartabat bagi seluruh warganya.
Sementara itu, Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Pdt. Elifas Maispaitella, dalam khotbahnya mengingatkan jemaat tentang dasar gereja. Ia menegaskan bahwa dasar gereja adalah Kristus, dan setiap benih iman yang ditabur dalam kesetiaan akan tumbuh serta berbuah bagi kemuliaan Tuhan yang Maha Esa.
Pdt. Elifas Maispaitella juga menegaskan bahwa perdamaian adalah fondasi utama bagi setiap pembangunan yang berkelanjutan. "Karena itu, saya berharap GPM terus hadir sebagai penabur kasih dan penjaga harmoni," ujarnya. Harapan ini bertujuan agar Maluku dapat tetap menjadi rumah yang damai dan penuh persaudaraan bagi semua lapisan masyarakat.
Kontribusi GPM dalam menjaga kerukunan dan membangun masyarakat yang harmonis telah diakui secara luas. Peran GPM dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari spiritual hingga sosial-ekonomi, menjadikannya pilar penting dalam mewujudkan Maluku yang sejahtera dan damai. Ini menunjukkan bahwa GPM adalah entitas yang multifungsi.
Sumber: AntaraNews