Tari Samrah Maluku: Menjaga Tradisi dan Mempererat Persaudaraan di Tengah Arus Modernisasi
Di tengah gempuran modernisasi, Tari Samrah Maluku terus menggema, menjadi simbol kebersamaan dan ekspresi positif pemuda, menjaga warisan budaya Islam di Tanah Air.
Di pelataran Masjid Raya Alfatah Ambon, dentuman rebana dan lantunan shalawat mengiringi senja Ramadhan, menjadi penanda waktu berbuka puasa. Puluhan pemuda Maluku dengan serempak menampilkan Tari Samrah, sebuah tradisi bernuansa Islam yang kaya makna. Tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan identitas budaya yang terus dijaga di tengah perubahan zaman.
Tari Samrah, yang berakar dari tradisi Timur Tengah, telah berbaur dengan budaya lokal Maluku, menciptakan bentuk seni pertunjukan yang khas. Kesenian ini dimainkan secara berkelompok, biasanya oleh pemuda yang mengenakan baju koko putih dan sarung. Gerakan kompak dan nyanyian religi menjadi ciri utama dari tarian ini.
Setiap Ramadhan, menjelang Idul Fitri, dan perayaan keagamaan lainnya, Tari Samrah kembali hadir di ruang-ruang publik, menarik perhatian warga dari berbagai usia. Tradisi ini menjadi wadah ekspresi bagi generasi muda, sekaligus simbol kuat kebersamaan masyarakat Muslim Maluku. Kehadirannya juga menjadi upaya melestarikan warisan budaya leluhur.
Asal-usul dan Ciri Khas Tari Samrah Maluku
Jejak Tari Samrah di Maluku diyakini berasal dari pengaruh pedagang Arab dan ulama yang membawa tradisi Timur Tengah ke Nusantara. Seiring waktu, kesenian ini beradaptasi dengan kearifan lokal, membentuk identitas unik yang dikenal masyarakat Maluku. Perpaduan budaya ini menjadikan Samrah sebagai warisan berharga.
Secara visual, Tari Samrah dibawakan oleh puluhan pemuda yang mengenakan busana muslim, seperti baju koko putih dan sarung. Mereka menari mengikuti irama rebana yang dinamis, diiringi nyanyian bernuansa religi yang syahdu. Kekompakan gerakan dan semangat para penari selalu memukau penonton.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Samrah memiliki nilai-nilai spiritual dan sosial yang mendalam. Setiap gerakan dan lantunan syairnya mengandung pesan keagamaan dan kebersamaan. Tradisi ini menjadi medium penting untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.
Peran Pemerintah dan Komunitas dalam Pelestarian Tari Samrah
Pemerintah Provinsi Maluku, melalui Wakil Gubernur Abdullah Vanath, melihat Tari Samrah sebagai sarana positif bagi generasi muda untuk berekspresi. Kegiatan ini diharapkan dapat mengalihkan pemuda dari aktivitas negatif seperti konvoi atau balap liar saat perayaan hari besar. Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam pembinaan karakter.
Rencana pemerintah daerah untuk memperluas skala kegiatan ini mencakup pelibatan sekolah-sekolah di bawah naungan Kementerian Agama. Harapannya, lebih banyak siswa dapat membentuk kelompok Tari Samrah dan tampil di jalan protokol. Ini akan menjadi motivasi serta kompetisi sehat bagi para pelajar.
Komunitas seperti Wandan Kultur dari Kepulauan Kei juga aktif melestarikan Samrah, bahkan melibatkan pemuda lintas iman dalam pertunjukan mereka. Muhammad Taher Salamun, pegiat Wandan Kultur, menyatakan bahwa Samrah menjadi sarana mengasah kreativitas dan mendukung kegiatan sosial. Ini menunjukkan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak.
Saweran yang diberikan penonton saat pertunjukan Samrah seringkali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial, seperti penggalangan dana pembangunan masjid atau kegiatan kepemudaan. Hal ini memperkuat fungsi sosial Samrah sebagai jembatan kebaikan. Interaksi ini juga mencerminkan apresiasi masyarakat terhadap pelestarian budaya.
Tari Samrah sebagai Pemersatu dan Simbol Toleransi Maluku
Tari Samrah tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya Islam, tetapi juga simbol persaudaraan di Maluku. Abdullah Vanath berharap Samrah dapat mempererat silaturahim masyarakat yang hidup dalam keberagaman, terutama saat momentum Idul Fitri. Ini menunjukkan potensi Samrah sebagai perekat sosial.
Semangat kebersamaan ini terlihat jelas dalam Festival Ramadhan 1447 Hijriah di Ambon, di mana pemuda gereja dan remaja masjid berkolaborasi. Remaja masjid membawakan Samrah diiringi alunan terompet dari pemuda gereja. Harmoni ini menjadi viral di media sosial, menuai pujian atas gambaran nyata toleransi.
Momen kolaborasi lintas iman tersebut menegaskan identitas Ambon sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama. Nilai Pela Gandong, ikatan persaudaraan yang diwariskan leluhur Maluku, terus hidup dan terwujud dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Samrah menjadi salah satu medium yang merefleksikan nilai-nilai luhur ini.
Di tengah derasnya arus budaya populer, Tari Samrah tetap menemukan tempat di hati generasi muda Maluku. Melalui tabuhan rebana, nyanyian religi, dan gerakan serempak, mereka menyampaikan pesan penting. Pesan tersebut adalah bahwa merawat tradisi berarti menjaga warisan budaya agar terus hidup dan relevan di masa depan.
Sumber: AntaraNews