Akademisi Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Fransina Sarah Latumahina, memperkenalkan kekayaan budaya Maluku melalui lini busana etnik. Inisiatif ini bertujuan menampilkan motif, simbol, dan nilai-nilai tradisional Maluku kepada khalayak yang lebih luas.
Melalui merek lokal Azael Collection, Fransina menggabungkan praktik akademik dengan ekonomi kreatif. Merek ini merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dijalankan oleh perempuan di Maluku.
Peluncuran merek Fashion Etnik Maluku ini menjadi bukti nyata komitmen Fransina. Ia berupaya mengangkat identitas budaya Maluku sekaligus memberdayakan komunitas lokal, terutama perempuan dan perajin daerah.
Advertisement
Advertisement
Mengkombinasikan Akademisi dan Ekonomi Kreatif
Sebagai seorang dosen di Fakultas Pertanian Unpatti, Fransina Sarah Latumahina melihat pentingnya peran perguruan tinggi. Ia meyakini adanya tanggung jawab moral untuk meningkatkan kesadaran kritis dan mendukung konteks lokal, termasuk kelompok terpinggirkan dan perempuan.
Pendekatan ini memungkinkan Fransina untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga secara aktif berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal. Ia memanfaatkan fashion sebagai medium efektif untuk memperkenalkan identitas budaya Maluku yang unik.
Melalui Azael Collection, ia berhasil memadukan pengetahuan akademisnya dengan praktik kewirausahaan. Hal ini menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi dapat berkolaborasi dengan sektor riil untuk dampak sosial yang lebih besar.
Advertisement
Advertisement
Azael Collection: Perpaduan Budaya dan Desain Modern
Azael Collection secara khusus memadukan motif, simbol, dan nilai budaya Maluku dengan desain modern yang inovatif. Setiap produk busana etnik yang dihasilkan tidak hanya menawarkan keunikan visual, tetapi juga menceritakan kisah mendalam.
Kisah-kisah ini meliputi identitas lokal, sejarah Maluku, serta peran penting perempuan dalam melestarikan warisan budaya. Koleksi ini menjadi jembatan antara tradisi dan tren kontemporer, menarik perhatian pasar yang lebih luas.
Produk Fashion Etnik Maluku dari Azael Collection telah menjangkau kota-kota besar di Indonesia. Bahkan, koleksi ini telah dipamerkan secara internasional, termasuk rencana pameran di Darwin, Australia, pada tahun 2025 mendatang.
Advertisement
Advertisement
Pemberdayaan Komunitas dan Potensi Ekonomi Berkelanjutan
Fransina memandang UMKM bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan strategi budaya dan sosial yang krusial. Tujuannya adalah menjadikan budaya Maluku sebagai aset ekonomi yang berkelanjutan dan kompetitif.
Proses produksi Azael Collection melibatkan perajin lokal, khususnya perempuan, yang secara langsung mendapatkan manfaat ekonomi. Ini menciptakan lingkaran positif di mana fashion menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus pemberdayaan.
Ketika perempuan dan perajin lokal diberikan kesempatan, ekonomi lokal akan tumbuh dan berkembang. Ini membuktikan bahwa budaya Maluku tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi sumber daya ekonomi yang bersaing secara nasional dan global.
Advertisement
Advertisement
Visi Masa Depan untuk Budaya Maluku
Ke depan, Fransina berkomitmen untuk terus mengembangkan desain, memperluas jaringan pasar, dan melestarikan nilai-nilai budaya sebagai identitas inti merek Azael Collection. Inovasi berkelanjutan menjadi kunci untuk mencapai tujuan ini.
Harapan sederhana Fransina adalah agar merek ini terus menjembatani budaya Maluku dengan dunia. Ia juga berharap dapat menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi komunitas lokal di seluruh Maluku.
Melalui upaya ini, Fashion Etnik Maluku diharapkan tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi juga gerakan jangka panjang yang membawa dampak positif bagi masyarakat dan pelestarian budaya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews