Waspadai Ancaman Penyebaran Intoleransi Terhadap Anak di Ruang Digital
Orangtua bisa proaktif mengadukan konten-konten yang bermuatan ujaran kebencian hingga kekerasan
Terbukanya ruang digital bagi generasi muda untuk bertukar informasi tidak hanya memberikan manfaat, namun juga menyimpan dampak negatif jika keliru menggunakannya.
Pengamat media sosial, Enda Nasution mencontohkan bahayanya doktrin intoleransi dan radikalisme di media sosial. Hal ini sangat berbahaya, karena platform yang dipilih menyiratkan bahwa anak-anak dan remaja menjadi sasaran empuk.
"Dengan pemahaman kebangsaan dan toleransi yang aplikatif dan dapat dicerna oleh generasi muda, mereka tidak akan terinfeksi dengan narasi-narasi kebencian dan kekerasan," kata Enda dalam keterangannya, Rabu (8/10).
Dirinya juga menekankan pentingnya orangtua menjalin komunikasi yang baik dengan anak, sehingga bisa mengawasi bagaimana anak menggunakan gadget-nya. Enda juga mengimbau agar orangtua bisa proaktif mengadukan konten-konten yang bermuatan ujaran kebencian hingga kekerasan.
Menurut Enda, sebenarnya cara untuk menangkal sebaran konten radikal cukup mudah. Orangtua hanya perlu memfasilitasi dan mendorong anak-anak untuk memperbanyak interaksi secara langsung dengan teman-teman mereka di dunia nyata.
"Kalau anak punya kegiatan langsung di dunia nyata, berinteraksi langsung dengan teman yang sebaya akan lebih sehat bagi perkembangan fisik dan mental anak," tuturnya.
Enda juga menyoroti pentingnya menanamkan imunitas terhadap ideologi transnasional kepada anak. Dalam hal ini, Enda berharap agar negara bisa menyediakan support sistem bagi orangtua dan anak ketika menghadapi sebaran konten negatif. Dukungan ini bisa berupa pendidikan, konseling, ataupun yang lainnya.
"Penanaman imunitas terhadap anak jelas menjadi tanggung jawab semua, tidak hanya orangtua ataupun pakar pendidik, namun negara secara keseluruhan. Semakin besar capaian teknologi dalam memberikan manfaatnya bagi perkembangan peradaban manusia, semakin besar juga kebutuhan untuk mendidik anak-anak kita agar mereka bisa bertahan dalam potensi bahaya konten dengan muatan intoleransi, radikalisme, hingga terorisme yang juga ikut semakin besar," jelasnya.
Enda yang juga berperan sebagai Founder dan Chief Operating Officer (COO) dari Suvarna.ID, menambahkan bahwa orang tua perlu memberikan pemahaman akan potensi bahaya yang mengancam ruang maya secara terus menerus kepada anak.
"Sebenarnya ruang maya ini sama atau bahkan bisa lebih berbahaya ketimbang dunia nyata. Kalau kita tidak ingin membiarkan anak kita tersesat sendirian di dunia nyata, jangan juga kita biarkan anak kita tersesat sendirian di dunia maya," tandasnya.