Warga Agam Mulai Tempati Huntara, Mimpi Pulih Pascabencana Makin Nyata
Sebanyak 117 unit huntara yang telah rampung tersebut kini mulai dihuni oleh warga yang sebelumnya kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang.
Warga terdampak banjir bandang yang melanda Kabupaten Agam kini mulai menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun pemerintah sebagai langkah awal pemulihan kehidupan pascabanjir. Perubahan suasana yang sebelumnya penuh duka kini mulai terlihat lebih hidup di kawasan huntara yang telah rampung dibangun.
Deretan rumah berukuran 3×6 meter berdinding papan dengan atap seng tampak berjajar rapi di Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan. Setiap unit telah dilengkapi dengan kebutuhan dasar seperti kasur, bantal, kipas angin, kompor gas, dan perlengkapan kebersihan. Bantuan makanan serta minuman juga disalurkan, sementara aliran listrik telah tersedia di seluruh kawasan huntara.
Sebanyak 117 unit huntara yang telah rampung tersebut kini mulai dihuni oleh warga yang sebelumnya kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang pada akhir November 2025. Aktivitas keseharian warga mulai terlihat kembali, menandai fase awal kebangkitan kehidupan masyarakat pascabanjir.
Kehidupan di kawasan huntara semakin terasa saat sejumlah warga terlihat berbincang di teras rumah, sementara yang lain sibuk membereskan perabotan dan menata perlengkapan dapur. Anak-anak pun kembali bermain, seperti kegiatan bermain miniatur rumah-rumahan, bulu tangkis, dan mobil-mobilan, menghadirkan tawa di lingkungan yang sebelumnya diliputi duka.
Penghuni Bersyukur
Ramalis, salah satu penghuni huntara, mengatakan bahwa keberadaan hunian sementara ini menjadi angin segar bagi dirinya dan keluarga. "Alhamdulillah sudah ada huntara. Tapi harapan saya ke depannya tentu ingin segera mendapatkan hunian tetap (huntap)," ujarnya, menunjukkan harapan warga untuk segera menata kehidupan mereka secara permanen.
Bagi banyak warga, huntara yang dilengkapi fasilitas dasar yang memadai ini tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan pascabanjir, membuka kesempatan untuk melanjutkan kehidupan yang sempat terhenti akibat bencana alam