Warga Terdampak Banjir Aceh Tamiang Bersyukur Tempati Huntara Danantara, Bangkitkan Harapan Baru
Setelah dua bulan bertahan di tenda pengungsian, warga terdampak banjir di Aceh Tamiang kini bisa bernapas lega menempati hunian sementara (huntara) Danantara, membawa harapan baru untuk menata kembali hidup mereka.
Warga Kabupaten Aceh Tamiang yang terdampak bencana banjir kini dapat merasakan kelegaan. Mereka telah menempati hunian sementara (huntara) Danantara yang disiapkan pemerintah. Kebahagiaan ini datang setelah dua bulan lamanya mereka bertahan di tenda pengungsian yang serba terbatas.
Huntara ini berlokasi di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Salah satu penghuninya adalah Jubaidah (60) dari Sukajadi, Kecamatan Karang Baru. Ia mengaku sangat bersyukur bisa tinggal di tempat yang lebih layak dan aman.
Sebelumnya, Jubaidah dan ribuan warga lainnya terpaksa hidup di tenda darurat di pinggir sungai. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, terutama saat cuaca buruk melanda. Kini, huntara Danantara menjadi titik terang bagi mereka yang kehilangan segalanya akibat amukan banjir.
Kelegaan Setelah Bertahan di Tenda Pengungsian
Jubaidah menceritakan pengalaman pahitnya saat rumah papan miliknya lenyap tanpa sisa. Ia hanya memiliki pakaian yang melekat di badan, sementara seluruh perkakas rumah tangga ikut tersapu arus banjir. Selama hampir dua bulan, Jubaidah dan keluarganya harus bertahan di tenda pengungsian di tepi sungai.
Kondisi di tenda sangat sulit, minim penerangan dan perlindungan dari cuaca ekstrem. Banyak pengungsi yang menangis karena ketidaknyamanan dan rasa takut akan air sungai yang kembali meninggi. Kepindahan ke huntara ini difasilitasi oleh lurah dan aparat kelurahan setempat.
Meskipun bantuan yang diterima berupa bahan pokok dan perlengkapan sederhana, Jubaidah bersyukur. Ia kini memiliki tempat berteduh yang layak untuk dirinya, suami, dan cucunya. Huntara ini juga dilengkapi dapur umum, kamar mandi, dan toilet bersama yang memadai.
Kehilangan dan Harapan Baru di Huntara Danantara
Sitti Aisyah (51), warga Sukajadi lainnya, juga merasakan dampak parah banjir. Rumah panggungnya hanyut total, menyisakan tiang beton tanpa lantai atau dinding. Ia telah menempati huntara ini selama sekitar satu minggu bersama suami dan anaknya.
Banjir kali ini dianggap terparah sepanjang ingatannya, merobohkan rumah kayu yang sebelumnya tidak pernah terdampak. Sebelum menempati huntara, Sitti juga bertahan hampir dua bulan di tenda pengungsian. Ia menghadapi keterbatasan bantuan, cuaca, dan ketidakpastian ekonomi.
Sebagai pedagang, Sitti kehilangan sumber penghasilan utamanya akibat banjir. Seluruh harta benda, termasuk perlengkapan pesta pernikahan anak bungsunya, hanyut terbawa arus. Hal ini memaksa keluarga menunda rencana hajatan yang telah dipersiapkan.
Di huntara, Sitti merasa lebih nyaman dengan ketersediaan listrik dan jaringan internet. Untuk bertahan hidup, ia kembali berjualan mi sop di lingkungan huntara, melayani sesama penghuni. Meskipun pendapatannya jauh berkurang, ia berharap hunian tetap segera terwujud.
Fasilitas dan Adaptasi Remaja di Hunian Sementara
M. Fajar, seorang pelajar kelas satu SMA dari Sukajadi, juga tinggal di huntara bersama orang tuanya. Rumah keluarga mereka juga hanyut dan hilang diterjang banjir besar. Fajar adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara, dengan lima anggota keluarga kini bertahan di huntara.
Saat banjir melanda, Fajar dan keluarganya sempat mengungsi selama sekitar satu bulan. Kini, di huntara, Fajar merasa nyaman karena fasilitas dasar tersedia. Ini termasuk air bersih dan jaringan internet yang mendukung kegiatan sekolahnya.
"Tempatnya nyaman, ada jaringan internet juga di sini," kata Fajar. Setiap hari, Fajar tetap bersekolah menggunakan angkutan atau jemputan. Jarak tempuh ke sekolah relatif sama seperti sebelum rumahnya hanyut.
Di luar jam sekolah, Fajar mengisi waktu dengan bergaul bersama teman sebaya dan bermain sepak bola. Ia terus beradaptasi dengan lingkungan baru yang berubah drastis pascabencana. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah membangun 600 unit huntara di lokasi ini.
Sumber: AntaraNews