Keceriaan Anak Penyintas Bencana Agam di Hunian Sementara, Lupakan Duka Banjir Bandang

Anak-anak penyintas bencana banjir bandang di Kayu Pasak, Agam, menunjukkan keceriaan luar biasa di hunian sementara, meski masih teringat rumah yang hilang dan berharap hunian tetap segera terwujud.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Keceriaan Anak Penyintas Bencana Agam di Hunian Sementara, Lupakan Duka Banjir Bandang
Anak-anak penyintas bencana di Kayu Pasak, Agam, menunjukkan keceriaan luar biasa di hunian sementara (huntara). Meskipun kehilangan rumah akibat banjir bandang, mereka tetap aktif bermain dan belajar, mencari harapan baru di tengah keterbatasan. (AntaraNews)

Anak-anak penyintas bencana banjir bandang di Kayu Pasak, Agam, Sumatera Barat, kini mulai menemukan kembali keceriaan mereka. Setelah dua bulan menumpang di ruang kelas sekolah, mereka kini menempati hunian sementara (huntara) dan mengisi waktu luang dengan berbagai permainan.

Setiap sore, sepulang sekolah, area sekitar hunian sementara di SDN 05 Kayu Pasak, Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, menjadi saksi bisu tawa dan canda mereka. Mereka bermain ayunan, seluncuran, jungkitan, hingga boneka, seolah melupakan duka yang pernah dialami.

Kondisi ini memberikan secercah harapan bagi anak-anak yang terdampak, meskipun mereka masih menyimpan keinginan besar untuk memiliki rumah tetap. Kehadiran aparat kepolisian, TNI, dan pemerintah di sekitar huntara juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka.

Harapan di Tengah Keceriaan Anak Penyintas Bencana

Meskipun keceriaan terpancar dari wajah-wajah mungil mereka, ingatan akan rumah yang hilang akibat banjir bandang pada 27 November 2025 masih membekas. Salah seorang anak penyintas, Ayu (10), siswi kelas IV SDN 05 Kayu Pasak, mengungkapkan perasaannya. Ia berharap hunian tetap (huntap) dapat segera selesai dibangun agar mereka bisa kembali memiliki tempat tinggal permanen.

Ayu bersama teman-temannya baru menempati deretan huntara yang terbuat dari Glassfiber Reinforced Concrete (GRC) tersebut sejak Sabtu, 24 Januari 2026. Sebelumnya, mereka terpaksa tinggal di ruang kelas sekolah selama dua bulan pasca-bencana. Kondisi huntara, meski sementara, jauh lebih baik dan memberikan ruang bagi mereka untuk berinteraksi dan bermain.

Anak penyintas lainnya, Bulan (7), siswi kelas II SDN 05 Kayu Pasak, memilih bermain di dekat rumah Yahfidz Quran'Aisyiyah Kayu Pasak yang berada di sekitar huntara. Di lokasi tersebut, tersedia berbagai fasilitas permainan seperti seluncuran, ayunan, dan jungkitan yang menjadi daya tarik utama bagi anak-anak setelah pulang sekolah.

Dukungan dan Perhatian untuk Anak-anak di Huntara Agam

Orang tua penyintas, Suharmes (45), menyatakan bahwa anak-anaknya mulai terbiasa dan terlihat ceria setelah satu minggu menempati huntara. Sebagai orang tua, ia hanya menginginkan anak-anaknya sehat dan dapat menjalani pendidikan dengan baik, meskipun mereka masih dalam proses pemulihan dari duka bencana.

Suharmes menyampaikan rasa syukurnya atas kondisi yang ada, meskipun berat. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kelangsungan pendidikan bagi ketiga anaknya. Kondisi ini menunjukkan ketabahan para penyintas dalam menghadapi cobaan.

Kepala Jorong Kayu Pasak, Nofril Harman, mengonfirmasi bahwa kondisi 28 anak-anak yang tinggal di huntara tersebut sehat dan tidak ada masalah. Petugas kesehatan juga secara rutin melaksanakan pemeriksaan kesehatan di huntara untuk memastikan kesejahteraan mereka.

Lingkungan huntara dianggap aman bagi anak-anak untuk bermain dan beraktivitas. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk aparat kepolisian dan TNI, turut menciptakan suasana yang kondusif bagi tumbuh kembang anak-anak penyintas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi