Tingkatkan Ketahanan Energi, Prabowo Dorong Pembangunan Storage BBM Baru
Untuk itu, Prabowo menekankan pentingnya fasilitas penyimpanan tambahan agar cadangan BBM nasional bisa meningkat menjadi 3 bulan atau 90 hari.
Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran menterinya membangun fasilitas penyimpanan (storage) baru untuk meningkatkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Pasalnya, kapasitas daya tampung cadangan BBM Indonesia hanya mampu untuk 25 hari.
"Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal di 25 hari, maksimal. Sehingga cadangan nasional kita itu minimal 20 sampai 23 hari. Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional yang sebagaimana lazimnya," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai rapat bersama Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/3/).
Menurut dia, keterbatasan kapasitas penyimpanan menjadi salah satu tantangan yang harus segera diperbaiki. Untuk itu, Prabowo menekankan pentingnya fasilitas penyimpanan tambahan agar cadangan BBM nasional bisa meningkat menjadi 3 bulan atau 90 hari.
"Jadi kita tidak bisa katakan lah, teman-teman menganggap harus Pak kita stok 60 hari. Mau isi taruh di mana? Kita tidak punya storage. Makanya sekarang arahan Bapak Presiden segera kita membangun storage. Jadi bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak. Tapi sekarang mau taruh di mana?" tuturnya.
Alternatif Lokasi
Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan sejumlah alternatif lokasi untuk membangun storage cadangan BBBM nasional. Salah satunya, kata dia, di Pulau Sumatra.
"Kita rencana salah satu alternatif terbaiknya ada di wilayah Sumatra," ungkap Bahlil.
Disisi lain, dia memastikan bahwa hingga saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman. Kendati begitu, Bahlil tak memungkiri pasokan energi nasional dapat terganggu apabila eskalasi konflik di Timur Tengah semakin meningkat dan berlangsung lama.
"Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu. Tapi ke depan kan pasti kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Itu sudah pasti. Sampai dengan 1-2 bulan ke depan insyaallah kita masih clear. Insyaallah tidak ada masalah," jelas Bahlil.
Pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi gangguan pada jalur pasokan energi global. Salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah.
"Jadi kalau menyangkut LPG nggak ada masalah. Jadi relative clear lah. Kalau menyangkut BBM yang kita impor kan tinggal bensin. Dan itu kita belinya di Asia Tenggara, tidak ada di Middle East. Jadi relatif insya Allah clear," katanya.