Tak Banyak yang Tahu, Marmot-Marmot Gemas Asal Lumajang Ini Jago Balapan
Hewan pengerat yang biasa jadi peliharaan ini justru dijadikan peserta lomba balap, dalam tradisi yang disebut karapan marmot.
Tak hanya sapi atau kerbau yang bisa adu cepat. Di Lumajang, Jawa Timur, ada tradisi unik yang melibatkan hewan kecil nan lucu yakni marmot. Ya, hewan pengerat yang biasa jadi peliharaan ini justru dijadikan peserta lomba balap, dalam tradisi yang disebut karapan marmot.
Setiap memasuki musim kemarau, warga Desa Tegal Bangsri, Kecamatan Ranuyoso, punya kebiasaan unik untuk merayakannya. Mereka menggelar karapan marmot yang tak kalah seru dengan pacuan kuda atau karapan sapi. Sorak-sorai warga yang memadati sisi lintasan jadi pemandangan rutin saat lomba ini digelar.
Berbeda dari karapan tradisional lainnya, karapan marmot tidak menggunakan joki. Pemilik hanya melepas hewannya di garis start, lalu menyemangatinya dari pinggir lintasan agar melaju hingga garis akhir. Lintasan balapnya pun sederhana, hanya sepanjang 50 meter, namun cukup untuk memicu semangat kompetisi dari para peserta kecil ini.
Marmot Balapan Bukan Sembarangan
Menariknya, marmot yang diikutkan dalam perlombaan bukan marmot sembarangan. Mereka mendapat perawatan khusus dari para pemilik, mulai dari pakan bergizi hingga ramuan jamu tradisional untuk menjaga stamina. Latihan rutin juga dilakukan agar marmot siap tampil prima di hari perlombaan.
“Sudah seminggu saya latih tiap sore. Dikasih makan wortel sama jamu supaya lincah,” ujar Rofik, salah satu peserta pada Senin (19/5).
“Senang bisa ikut lomba. Walau marmot saya belum juara, tapi suasananya seru banget,” tambah Bagas, peserta lainnya.
Tak sekadar hiburan, karapan marmot juga dianggap sebagai bagian dari tradisi warga untuk menyambut musim kemarau. Bahkan, hewan yang keluar sebagai juara biasanya akan punya nilai jual lebih tinggi dibanding marmot biasa.
“Biasanya kalau sudah juara, banyak yang mau beli. Harganya bisa 2 kali lipat,” jelas Afandi, panitia lomba.
Tradisi karapan marmot ini menjadi bukti bahwa kreativitas masyarakat lokal tak pernah habis. Dari hewan kecil dan sederhana, lahirlah tradisi yang membawa keceriaan sekaligus kekayaan budaya tersendiri bagi Lumajang.