Tahukah Anda, Pemkab Bekasi Gembleng 40 Mahasantri Jadi Ulama Berbasis Digital? Ini Tujuannya!
Pemerintah Kabupaten Bekasi melatih 40 mahasantri menjadi Ulama Berbasis Digital, menyiapkan pemimpin agama yang adaptif di era disrupsi. Apa peran strategis mereka?
Pemerintah Kabupaten Bekasi bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat kembali menggelar Pendidikan Kader Ulama (PKU). Program ini bertujuan mencetak ulama muda yang adaptif dengan perkembangan era digital. Sebanyak 40 mahasantri dari daerah tersebut kini digembleng di Kantor Sekretariat MUI Kabupaten Bekasi.
Pembukaan PKU angkatan ketiga ini berlangsung pada Sabtu, 18 Oktober, menandai keberlanjutan inisiatif strategis. Para peserta akan dibekali wawasan keagamaan mendalam serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Inisiatif ini merupakan langkah nyata Pemkab Bekasi dalam mempersiapkan pemimpin agama masa depan.
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Ida Farida, menegaskan pentingnya program ini. Tujuannya adalah melahirkan ulama yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu bersinergi dengan pemerintah daerah. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Mencetak Ulama Adaptif di Era Digital
Program Pendidikan Kader Ulama (PKU) ini dirancang khusus untuk menciptakan ulama yang relevan dengan tantangan zaman. Pemkab Bekasi menyadari bahwa peran ulama tidak hanya terbatas pada penyampaian ilmu agama semata. Mereka juga diharapkan menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan program pemerintah daerah.
Ida Farida, Pj Sekda Kabupaten Bekasi, menekankan pentingnya ulama yang memiliki wawasan komprehensif. "Kita mencetak ulama-ulama muda yang punya wawasan komprehensif, bukan hanya ilmu dunia, tetapi juga ukhrawi yang bisa diimplementasikan di tengah masyarakat," ujarnya. Hal ini untuk memastikan masyarakat terus bangkit, maju, dan sejahtera.
Ketua MUI Kabupaten Bekasi, KH. Mahmud, menjelaskan bahwa PKU ini merupakan respons terhadap perubahan sosial. Era industri dan disrupsi digital menuntut pendekatan yang berbeda dalam pembinaan ulama. Oleh karena itu, PKU diselenggarakan dengan fokus pada pengembangan Ulama Berbasis Digital.
Pendekatan konvensional dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi dinamika saat ini. "Kalau kita membina kader ulama dengan pendekatan konvensional, mereka akan tertinggal," kata KH. Mahmud. Tujuannya agar ulama yang lahir dari PKU mampu menjawab kebutuhan zaman dengan pendekatan relevan di masa depan.
Kurikulum Komprehensif untuk Ulama Masa Depan
Kurikulum PKU dirancang secara matang untuk menghasilkan ulama yang memiliki tiga fondasi utama. Fondasi tersebut meliputi moderasi beragama, penguatan kebangsaan, serta pemahaman mendalam terhadap kearifan lokal Bekasi. Ini memastikan ulama muda selaras dengan arah pembangunan daerah.
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 2015-2023 itu menjelaskan bahwa ulama muda harus menguasai lebih dari sekadar tafsir dan hadits. Mereka juga perlu memahami konteks sosial masyarakat. Pemahaman ini krusial untuk menghadirkan stabilitas dan kecerdasan publik.
Kolaborasi antara ulama dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Dengan kurikulum ini, diharapkan para Ulama Berbasis Digital mampu menjembatani berbagai kepentingan. Mereka akan menjadi pilar penting dalam memajukan Kabupaten Bekasi.
Meskipun baru 40 mahasantri dari total 3,5 juta penduduk, inisiatif ini merupakan langkah awal yang signifikan. "Insya Allah, 30 tahun ke depan di setiap desa akan lahir ulama-ulama hebat," ucap Ida Farida. Mereka diharapkan mampu mencerdaskan dan menenteramkan masyarakat, serta mendukung pembangunan daerah.
Sumber: AntaraNews