SDA Jakbar Respons Penolakan Sodetan Meruya: Upaya Antisipasi Genangan di Komplek DPA dan DPR
Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat menanggapi penolakan warga terkait rencana pengalihan sodetan di Meruya, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan langkah antisipasi genangan di Komplek DPA dan DPR, meskipun warga khawatir akan potensi banjir. Isu P
Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat memberikan tanggapan terkait penolakan warga terhadap rencana pengalihan sodetan di wilayah Meruya Selatan, Kembangan. Proyek sodetan ini, yang berasal dari sebuah pembangunan perumahan, disebut sebagai upaya penting untuk mengantisipasi genangan air. Khususnya, genangan tersebut berpotensi terjadi di Komplek DPA dan DPR di area tersebut.
Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, menjelaskan bahwa pembuatan sodetan ini merupakan salah satu jalur alternatif. Tujuannya adalah untuk mengatasi genangan yang kerap melanda Komplek DPA dan DPR.
Purwanti menambahkan, genangan tersebut berpotensi muncul akibat pembangunan perumahan yang berlokasi di hilir komplek. Oleh karena itu, diperlukan solusi seperti sodetan untuk mengelola aliran air.
Latar Belakang Proyek Sodetan dan Kekhawatiran Warga
Rencana pembuatan sodetan ini menjadi sorotan utama di kalangan warga. Mereka khawatir bahwa pengalihan aliran air akan membawa dampak negatif bagi lingkungan permukiman mereka. Warga di kawasan Kavling DKI, Kelurahan Meruya Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, secara tegas menolak rencana pengalihan sodetan tersebut.
Kekhawatiran utama warga adalah potensi banjir yang dapat ditimbulkan oleh sodetan. Ketua RT 04 RW 06 Meruya Selatan, Fajar Aridwianto, menjelaskan bahwa lokasi perumahan besar yang sedang dibangun memiliki ketinggian tanah lebih dari satu meter dibandingkan Kavling DKI.
Menurut Fajar, jika aliran air dari perumahan tersebut dialihkan ke saluran RT 04, wilayah mereka berisiko berubah dari kawasan yang kering menjadi seperti embung. Hal ini karena air secara alami akan mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Fajar menegaskan bahwa warga pada dasarnya tidak mempermasalahkan adanya pembangunan perumahan di sekitar wilayah mereka. Namun, rencana pengalihan sodetan inilah yang menjadi pemicu keberatan dan penolakan sodetan Meruya dari masyarakat.
Upaya Suku Dinas SDA Jakarta Barat dalam Penanganan Sodetan
Menanggapi penolakan warga dan untuk memastikan solusi yang tepat, Suku Dinas SDA Jakarta Barat terus melakukan langkah-langkah teknis. Purwanti Suryandari menyatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap pengukuran elevasi saluran yang ada. Pengukuran ini bertujuan untuk menyesuaikan rancangan sodetan agar sesuai dengan kondisi lapangan.
Proses pengukuran elevasi saluran ini krusial untuk memastikan bahwa desain sodetan dapat berfungsi optimal tanpa menimbulkan masalah baru. Suku Dinas SDA Jakarta Barat berupaya mencari titik temu antara kebutuhan antisipasi genangan dan kekhawatiran warga. Hal ini dilakukan demi mencapai solusi terbaik bagi semua pihak yang terdampak.
SDA Jakarta Barat berkomitmen untuk terus berkoordinasi dan mencari data akurat. Mereka memastikan bahwa setiap keputusan terkait proyek sodetan ini didasarkan pada analisis teknis yang mendalam. Tujuannya adalah untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan manfaat dari proyek tersebut, sembari memperhatikan aspirasi masyarakat.
Sumber: AntaraNews