Pramuka Surabaya Raih Tiga Rekor MURI Sekaligus, Libatkan Puluhan Ribu Peserta
Pramuka Surabaya berhasil memecahkan tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sekaligus, melibatkan puluhan ribu peserta dalam kegiatan Basuh Kaki Orang Tua, Pengukuhan Garuda, dan Demonstrasi Semaphore. Simak detailnya!
Pramuka Kota Surabaya mencatatkan sejarah baru dengan meraih tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sekaligus. Prestasi membanggakan ini diraih melalui serangkaian kegiatan yang melibatkan puluhan ribu peserta dari berbagai golongan Pramuka. Acara monumental ini berlangsung di Gelora Bung Tomo (GBT) dan beberapa lokasi lain di Surabaya pada Sabtu (20/6).
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kamabicab) Pramuka Kota Surabaya, menyatakan apresiasinya. Ia menekankan pentingnya kegiatan ini dalam menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila serta semangat penghormatan kepada orang tua. Inisiatif ini diharapkan mampu membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap kegiatan Pramuka.
Tiga rekor MURI yang berhasil dipecahkan meliputi kategori Basuh Kaki Orang Tua dengan peserta terbanyak, Pengukuhan Garuda terbanyak, dan Demonstrasi Semaphore terbanyak. Kegiatan ini merupakan upaya strategis untuk menjadikan Pramuka lebih relevan dan menarik bagi anak-anak serta remaja di Kota Pahlawan.
Detail Pencapaian Tiga Rekor MURI Pramuka Surabaya
Pramuka Surabaya menorehkan prestasi gemilang dengan memecahkan tiga rekor MURI dalam satu waktu. Rekor pertama adalah Basuh Kaki Orang Tua yang diikuti oleh 130.000 peserta, menunjukkan penghormatan mendalam terhadap orang tua. Kegiatan ini menjadi simbol penting dalam mengajarkan nilai-nilai moral dan etika kepada generasi muda.
Selain itu, rekor Pengukuhan Garuda juga berhasil dipecahkan dengan melibatkan 65.000 peserta. Peserta ini berasal dari berbagai golongan, yaitu Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega, yang menunjukkan regenerasi Pramuka yang kuat. Pengukuhan ini menegaskan komitmen para anggota Pramuka terhadap janji dan kode kehormatan mereka.
Rekor ketiga yang dicapai adalah Demonstrasi Semaphore dengan 41.337 peserta. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan kekompakan dan keterampilan anggota Pramuka, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri. Pelaksanaan pemecahan MURI ini tersebar di berbagai titik strategis di Kota Surabaya, seperti Stadion GBT, Monumen Tugu Pahlawan, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, SMK Negeri 5 Surabaya, Kebun Bibit, hingga di sekolah-sekolah, dengan GBT sebagai pusat kegiatan.
Apresiasi Wali Kota dan Visi Masa Depan Pramuka
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap keberhasilan Pramuka Surabaya dalam meraih rekor MURI, khususnya kegiatan Basuh Kaki Orang Tua. Menurutnya, kegiatan ini sangat relevan untuk mengingatkan anak-anak agar selalu menghormati orang tua mereka. Ia menegaskan bahwa ridho orang tua adalah kunci keberkahan, sejalan dengan ajaran agama apapun.
Eri Cahyadi juga mengungkapkan rencana kolaborasi antara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan Pramuka untuk menggerakkan program Kampung Pancasila. Pramuka diharapkan menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini kepada generasi muda. Ini sejalan dengan jiwa Pancasila yang telah dibacakan saat pengukuhan, membentuk karakter bangsa yang kuat.
Untuk menunjang kegiatan Pramuka ke depan, Pemkot Surabaya berkomitmen menyiapkan fasilitas bumi perkemahan. Lokasi yang telah disiapkan berada di Jeruk, Kecamatan Lakarsantri. Fasilitas ini diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan dan pengembangan Pramuka Kota Surabaya agar lebih optimal dan beragam di masa mendatang.
Strategi Membangkitkan Minat Generasi Muda pada Pramuka
Ketua Harian Kwarcab Pramuka Kota Surabaya, Siti Mariyam, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan pemecahan rekor MURI ini adalah untuk membangkitkan semangat dan menarik minat anak muda. Ia mengakui adanya keprihatinan terkait menurunnya peminat Pramuka di kalangan pelajar. Kegiatan masif ini diharapkan dapat mengubah persepsi bahwa Pramuka adalah kegiatan yang monoton.
Mariyam menyoroti bahwa sebagian anak sekolah, terutama di tingkat SLTA, merasa enggan mengikuti Pramuka meskipun diwajibkan memakai seragam. Mereka seringkali tidak memiliki kecintaan di hati terhadap Pramuka karena dianggap kurang variatif. Kondisi ini menjadi pemicu bagi Kwarcab Pramuka Surabaya untuk berinovasi dan menyelenggarakan kegiatan yang lebih menarik.
Melalui kegiatan berskala besar dan inspiratif seperti Basuh Kaki Orang Tua, Pengukuhan Garuda, dan Demonstrasi Semaphore, diharapkan citra Pramuka dapat diperbarui. Inisiatif ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa Pramuka adalah wadah yang dinamis, penuh makna, dan relevan bagi pengembangan karakter serta keterampilan generasi muda.
Sumber: AntaraNews