Prabowo Siap Jadi Mediator Konflik Global, Menlu Sugiono Ingatkan Risiko Eskalasi
Pemerintah Indonesia melihat ada ancaman nyata yang bisa berdampak luas tidak hanya di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengingatkan adanya risiko buruk apabila konflik antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran terus berlanjut tanpa adanya upaya peredaman dari negara-negara terkait.
Pernyataan tersebut ia sampaikan usai menghadiri acara buka puasa bersama Partai Demokrat di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (4/3), seraya menegaskan pentingnya diplomasi dan langkah meredakan ketegangan di kawasan yang tengah memanas.
Menurut Sugiono, Presiden Prabowo Subianto telah memantau perkembangan ini dengan saksama. Pemerintah Indonesia melihat ada ancaman nyata yang bisa berdampak luas tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga bagi stabilitas dunia internasional jika ketegangan tidak segera dihentikan.
"Risiko paling buruk adalah terjadinya eskalasi yang lebih besar yang melibatkan lebih banyak negara gitu. Itu risikonya," kata Sugiono kepada wartawan di Jakarta, Rabu (4/3).
Konsisten
Menyikapi kondisi tersebut, Sugiono menegaskan, posisi Indonesia tetap konsisten pada jalur perdamaian. Indonesia secara aktif mendorong seluruh pihak untuk menurunkan tensi ketegangan agar situasi tidak semakin memburuk dan menimbulkan korban jiwa yang lebih besar.
"Kita menginginkan ada de-eskalasi. Kemudian situasi mereda, ya kan," tegasnya.
Sugiono juga menyayangkan terhambatnya proses dialog yang selama ini diupayakan oleh berbagai pihak. Kegagalan perundingan dinilai menjadi pemicu utama mengapa situasi di kawasan tersebut kembali membara dan sulit dikendalikan dalam waktu singkat.
"Dan juga kita sudah sampaikan bahwa kita menyesali gagalnya perundingan yang kemudian menyebabkan situasi yang terjadi," ujarnya.
Perdamaian
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menciptakan perdamaian dunia, Presiden Prabowo menyatakan kesiapannya untuk mengambil peran lebih aktif. Indonesia menawarkan diri sebagai penengah demi mengakhiri pertikaian yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar tersebut.
"Semua pihak kita berharap bisa menahan diri. Dan Presiden sendiri sudah menyampaikan keinginan beliau, menawarkan, kesediaan beliau untuk menjadi mediator jika kedua belah pihak menyepakati dan menyetujui ya," jelasnya.
Selain menawarkan mediasi, Sugiono juga mengingatkan seluruh negara untuk tetap patuh pada aturan hukum yang berlaku secara global. Tanpa kepatuhan terhadap hukum internasional, perdamaian yang permanen mustahil bisa dicapai.
"Ya intinya adalah bahwa ya, kita berharap agar prinsip-prinsip hukum-hukum internasional, piagam PBB itu tetap dihormati," katanya.