Prabowo: Indonesia Jadi Bangsa Terkaya Keempat, Kritik dan Koreksi Sangat Penting
Sehingga, Ketua Umum Partai Gerindra ini pun memiliki keinginan selalu mengajak agar bisa untuk bekerja sama dan bahu-membahu serta kompak.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia menempati posisi sebagai bangsa terkaya keempat di dunia, namun hal itu memiliki sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam sambutannya pada acara Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5/1) malam.
"Pakar-pakar geopolitik mengatakan bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa keempat terkaya di dunia. Tapi ada, ada syaratnya. Syaratnya apa? Syaratnya adalah apabila bangsa Indonesia bisa bersatu," kata Prabowo.
"Syaratnya apa? Terutama apabila elitnya bisa bekerja sama. Ini bukan Prabowo saja, begitu saya lihat baca itu berapa tahun yang lalu, saya semakin yakin," sambungnya.
Bahu Membahu
Sehingga, Ketua Umum Partai Gerindra ini pun memiliki keinginan selalu mengajak agar bisa untuk bekerja sama dan bahu-membahu serta kompak.
"Yang kuat tarik yang lemah, yang lemah berhimpun bekerja sama, bersaing baik, tapi begitu pertandingan selesai bersatu, bersatu. Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Lho, demokrasi silakan, koreksi silakan, kritik bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus," ujarnya.
"Semua agama tidak, tidak mengizinkan fitnah. Saya yakin di agama Kristen demikian juga: Thou shalt not lie. Kebohongan itu tidak baik, apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa merusak kita semua," sambungnya.
Bersyukur Jika Dikritik
Prabowo menegaskan, jika adanya sebuah kritik dan bukan fitnah harus bersyukur. Karena, kritik menurutnya bagian dari koreksi dan merasa dibantu.
"Jadi saudara-saudara, kalau di agama Islam ada itu ajarannya: Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Bayangkan. Jadi yang kita harus waspada sekarang, kalau kritik malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, kita tidak suka dikoreksi, tapi sesungguhnya itu mengamankan, iya kan?," ungkapnya.
Ia pun memberikan contoh, jika Prabowo lupa ada beberapa kancing yang belum terpasang pada pakaiannya. Kemudian, hal ini diingatkan oleh ajudannya yang dianggap sebagai suatu koreksi.
"Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian anak buah kita lari: 'Pak, seragam Bapak Pak, Bapak kancingnya...'. Lho, ini anak buah kok berani koreksi? Tapi dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan presiden muncul kancingnya tidak, iya kan?," paparnya.
"Jadi kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget nih. Tapi dia menjaga saya, dia menjaga saya. Berapa kali saya diselamatkan, iya kan?," sambungnya.
Prabowo pun juga pernah lupa memakai tanda kepangkatan waktu saat masih aktif sebagai prajurit TNI. Kemudian, anak buahnya pun memberitahunya akan hal itu.
"Ini cerita waktu saya masih aktif ya, saya keluar dari ruangan mau ambil apel enggak tahu saya sibuk atau apa saya lupa pakai tanda pangkat. Lari anak buah saya: 'Pak, Pak, jangan keluar Pak, tanda pangkat Bapak tidak lengkap'. Oh iya. Jadi apa? Dia mengamankan saya. Kritik, koreksi adalah menyelamatkan," ucapnya.
"Jadi saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak: 'Prabowo ini mau hidupkan lagi militerisme'. Wah, baru saya koreksi, apa bener? Oke baru kita lihat, panggil ahli hukum, panggil di mana, iya kan? Mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter," katanya.