Pesantren Al Bayan Pidie Jaya Berjuang Keras Keruk Lumpur Banjir dengan Biaya Sendiri
Pesantren Al Bayan di Pidie Jaya terpaksa mengeruk timbunan lumpur sisa banjir bandang menggunakan biaya sendiri, demi mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengajar dan menyediakan air bersih.
Banda Aceh – Pesantren Al Bayan, yang berlokasi di Gampong Mayang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, kini menghadapi tantangan berat pasca-banjir bandang. Lembaga pendidikan Islam ini berupaya keras membersihkan timbunan lumpur yang menutupi seluruh kompleks bangunan mereka. Ironisnya, proses pengerukan lumpur tersebut harus dilakukan dengan mengandalkan biaya sendiri, tanpa bantuan signifikan dari pihak lain.
Peristiwa banjir bandang yang melanda wilayah tersebut terjadi pada akhir November 2025, menyebabkan Jembatan Meureudu putus dan meluapnya Krueng Meureudu. Akibatnya, seluruh bangunan di kompleks Pesantren Al Bayan tertimbun lumpur dengan ketinggian mencapai satu hingga dua meter lebih. Kondisi ini memaksa pesantren untuk menghentikan seluruh aktivitas belajar mengajar, menimbulkan kekhawatiran akan masa depan pendidikan santri di sana.
Koordinator Kebencanaan Pesantren Al Bayan, Meurah Johan, mengungkapkan bahwa pihaknya terpaksa menanggung sendiri biaya operasional untuk membersihkan area pesantren. "Kami terpaksa menggunakan biaya diri untuk mengeruk timbunan lumpur banjir bandang," ujarnya, menekankan beratnya beban yang harus ditanggung pesantren demi memulihkan kondisi dan melanjutkan kegiatan pendidikan.
Upaya Mandiri di Tengah Keterbatasan Biaya
Pesantren Al Bayan berjuang keras membersihkan sisa-sisa banjir bandang dengan sumber daya terbatas. Mereka berhasil meminjam ekskavator berukuran kecil dari dinas di Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya. Namun, pinjaman alat berat ini tidak termasuk biaya operasionalnya, sehingga pesantren harus menanggung sendiri pengeluaran untuk bahan bakar minyak dan biaya operasional harian.
Meurah Johan menjelaskan bahwa biaya yang dihabiskan untuk operasional alat berat tersebut tidak sedikit. "Alat beratnya kami pinjam. Namun, untuk bahan bakar minyak dan biaya operasional harus kami tanggung sendiri. Paling sedikit biaya yang dihabiskan mencapai Rp1 juta per hari," katanya. Angka ini menjadi beban besar bagi pesantren yang mengandalkan donasi dan iuran.
Kondisi ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan bantuan, mengingat skala kerusakan yang parah. Pesantren Al Bayan berharap ada uluran tangan dari pemerintah atau pihak lain agar proses pembersihan bisa berjalan lebih cepat dan efisien, sehingga santri dapat segera kembali belajar.
Prioritas Pemulihan dan Kebutuhan Mendesak Air Bersih
Dalam tahap awal pengerukan, pihak Pesantren Al Bayan memprioritaskan pembersihan sumur bor yang tertimbun lumpur setinggi dua meter. Sumur bor ini sangat vital karena akan difungsikan kembali untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi pesantren dan masyarakat sekitar yang masih mengungsi. Ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak pasca-bencana.
"Air bersih ini merupakan kebutuhan mendesak bagi korban banjir di daerah ini. Oleh karena itu, kami memfokuskan pengerukan timbunan lumpur di area sumur bor atau mengaktifkan kembali sumber air bersih tersebut," jelas Meurah Johan. Langkah ini menunjukkan fokus pesantren pada pemenuhan kebutuhan dasar yang krusial bagi kelangsungan hidup komunitas.
Setelah sumur bor, pengerukan akan dilanjutkan ke bangunan utama pesantren. Bangunan ini direncanakan akan dijadikan mushalla dan tempat mengaji bagi anak-anak. Pemulihan fungsi bangunan utama ini penting untuk mengembalikan suasana belajar mengajar dan kegiatan keagamaan yang sempat terhenti.
Dampak pada Santri dan Harapan Bantuan Pemerintah
Pesantren Al Bayan memiliki 139 santri yang saat ini tidak dapat melanjutkan kegiatan belajar mengajar akibat kondisi pasca-banjir. Saat banjir bandang melanda, terdapat empat santri dan enam guru yang tinggal di pesantren. Mereka semua menghadapi situasi sulit dengan kompleks yang tertimbun lumpur.
Meurah Johan menegaskan bahwa proses pengerukan lumpur di kompleks pesantren ini sangat berat jika hanya mengandalkan biaya sendiri. "Pengerukan lumpur di kompleks ini agak berat kalau dengan biaya sendiri. Akan tetapi, ini kami harus kami lakukan untuk mengaktifkan kembali proses belajar mengajar di pesantren ini," ujarnya, menunjukkan tekad kuat meskipun menghadapi keterbatasan.
Pihak pesantren sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk mempercepat proses pembersihan. "Dengan kondisi timbunan lumpur seperti ini, kami harus menghentikan aktivitas belajar mengajar. Kami berharap ada bantuan pemerintah mengeruk timbunan lumpur banjir bandang yang tingginya mencapai lebih dari dua meter," pungkas Meurah Johan, menyuarakan harapan agar pendidikan di Pesantren Al Bayan dapat segera pulih.
Sumber: AntaraNews