Perayaan Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadhan di Singkawang: Momentum Kuatkan Toleransi Singkawang
Kota Singkawang kembali menunjukkan wajahnya sebagai kota tertoleran dengan harmonisasi perayaan Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadhan Fair. Momentum ini diharapkan memperkuat Toleransi Singkawang dan ekonomi lokal.
Kota Singkawang, Kalimantan Barat, siap menyelenggarakan rangkaian perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 yang istimewa. Tahun ini, kemeriahan tersebut akan beriringan dengan pelaksanaan Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, menciptakan sebuah momentum unik yang diharapkan dapat memperkuat nilai toleransi antarumat beragama. Panitia menegaskan komitmen mereka untuk menggelar seluruh kegiatan secara harmonis, mencerminkan keberagaman yang menjadi ciri khas kota ini.
Ketua Panitia Imlek dan Cap Go Meh Singkawang, Bun Cin Thong, menyoroti pentingnya sinkronisasi perayaan ini sebagai ajang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Singkawang adalah kota yang menjunjung tinggi keberagaman. “Rangkaian kegiatan Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadhan Fair akan berjalan beriringan,” kata Bun Cin Thong di Singkawang, Minggu. Ia menambahkan bahwa hal ini sekaligus mempertegas posisi Singkawang sebagai kota tertoleran di Indonesia.
Sinergi antara perayaan Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadhan Fair ini tidak hanya menjadi simbol kerukunan, tetapi juga diharapkan membawa dampak positif bagi perekonomian lokal. Panitia berharap perputaran ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha dan UMKM di Kota Singkawang, akan semakin meningkat. Ini adalah kesempatan emas bagi warga Singkawang untuk merayakan keberagaman sekaligus menggerakkan roda ekonomi daerah.
Persiapan Matang dan Dukungan Berbagai Pihak
Panitia Perayaan Imlek dan Cap Go Meh Singkawang telah melakukan berbagai persiapan matang untuk memastikan kelancaran seluruh rangkaian acara. Salah satu langkah awal adalah menggelar malam ramah tamah bersama para pengusaha dan tokoh masyarakat di Gedung Pavilion 78. Acara ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga dimanfaatkan untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan Imlek dan Cap Go Meh tahun sebelumnya, menunjukkan transparansi dan akuntabilitas panitia.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pengusaha dan tokoh masyarakat, terlihat jelas dari partisipasi aktif mereka dalam memberikan sumbangan serta sponsorship. Hingga saat ini, dana yang berhasil dihimpun panitia telah mencapai sekitar Rp1 miliar. “Kami sangat mengapresiasi dukungan semua pihak. Dana yang terkumpul ini akan digunakan untuk mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan,” ujar Bun Cin Thong.
Malam ramah tamah tersebut juga mendapat kehormatan dengan kehadiran tokoh nasional sekaligus mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko. Kehadiran beliau menambah semarak acara dan menunjukkan perhatian dari berbagai kalangan terhadap upaya Singkawang dalam memupuk toleransi. Moeldoko hadir karena tengah melaksanakan kegiatan di Kota Singkawang pada hari yang sama, memberikan nilai tambah bagi perhelatan tersebut.
Harmonisasi Perayaan dan Dampak Ekonomi Lokal
Dari sisi teknis, panitia telah memulai penataan kota dengan pemasangan lampion di sejumlah ruas jalan utama, menciptakan atmosfer perayaan yang meriah. Stadion Kridasana telah ditetapkan sebagai salah satu lokasi utama festival, yang akan dihiasi dengan berbagai ornamen dan dekorasi khas Imlek Tahun Kuda Api. Persiapan ini terus dilakukan untuk memastikan perayaan tahun ini berlangsung meriah dan tertata dengan baik.
Koordinasi yang erat juga telah dilakukan dengan panitia Ramadhan Fair. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan selaras dan harmonis tanpa saling mengganggu, mengingat waktu perayaan yang berdekatan. “Koordinasi ini penting agar seluruh kegiatan bisa berjalan harmonis dan saling mendukung, terutama karena waktunya berdekatan,” jelas Bun Cin Thong.
Ketua Umum Pelaksanaan Festival Imlek dan Cap Go Meh 2026 masih dijabat oleh Mimihetty Layani, yang terus memimpin upaya-upaya penyelenggaraan. Sinergi antara perayaan Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadhan Fair ini diharapkan tidak hanya memperkuat ikatan toleransi antarwarga, tetapi juga menjadi pendorong signifikan bagi perputaran ekonomi masyarakat. Ini adalah kesempatan bagi UMKM dan pelaku usaha lokal untuk meningkatkan pendapatan mereka, menjadikan Singkawang sebagai contoh harmoni budaya dan kemajuan ekonomi.
Sumber: AntaraNews