Harmoni Cap Go Meh Ramadan Singkawang: Toleransi Berbalut Cahaya Lampion dan Syahdunya Tarawih

Kota Singkawang kembali menunjukkan wajah toleransinya saat perayaan Cap Go Meh 2026 beriringan dengan bulan suci Ramadan, menciptakan harmoni Cap Go Meh Ramadan Singkawang yang unik dan penuh makna.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Harmoni Cap Go Meh Ramadan Singkawang: Toleransi Berbalut Cahaya Lampion dan Syahdunya Tarawih
Kota Singkawang kembali menjadi sorotan dengan perayaan Cap Go Meh dan bulan suci Ramadhan 2026 yang berjalan harmonis, menunjukkan toleransi beragama yang kuat dan menjadi contoh Harmoni Imlek Ramadhan Singkawang yang menginspirasi. (AntaraNews)

Malam perlahan menyelimuti Kota Singkawang, mengubah langit jingga menjadi gelap, dihiasi gemerlap cahaya yang menggantung rapi di sepanjang ruas jalan utama. Lampion-lampion merah khas Imlek berderet memanjang, bergoyang pelan tertiup angin laut, memantulkan cahaya lembut ke wajah ribuan warga yang memadati sudut-sudut kota. Suasana ini menjadi latar belakang perayaan Cap Go Meh 2026 yang istimewa.

Namun, pemandangan di Singkawang malam itu berbeda dari biasanya. Di antara lampion merah, tampak pula ornamen berbentuk bintang dan anyaman ketupat, simbol yang sangat lekat dengan nuansa Islam. Perpaduan simbol dua tradisi ini menciptakan lanskap cahaya unik: merah keemasan berdampingan dengan hijau lembut, menyiratkan pesan kebersamaan tanpa kata.

Pada awal Maret 2026, ribuan warga lokal dan wisatawan tumpah ruah di sejumlah ruas jalan protokol, sabar menanti dimulainya Pawai Lampion Cap Go Meh. Di saat yang sama, dari kejauhan terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun syahdu dari masjid-masjid, menandakan umat Muslim tengah menunaikan salat Tarawih, khusyuk dalam ibadah Ramadan.

Penyelenggaraan Cap Go Meh 2026 di Singkawang menjadi bukti nyata toleransi. Panitia secara sigap menunda sejenak perayaan pawai lampion, menunggu umat Muslim menuntaskan ibadah Tarawih mereka. Warga pun memahami situasi ini sebagai bentuk penghormatan yang mendalam, menciptakan keheningan hangat sebelum festival kembali bergema.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Singkawang, Chantal Novyanti, memastikan rangkaian malam lampion berjalan lancar dengan partisipasi luas masyarakat. Ia menyebutkan bahwa sekitar 79 kelompok, terdiri dari berbagai kalangan seperti sekolah, perbankan, instansi pemerintah, hingga lembaga vertikal, turut terlibat dalam pawai tersebut. Penyesuaian jadwal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Muslim yang beribadah, dan semua berjalan baik.

Menurut Chantal Novyanti, tantangan terbesar bukan pada teknis penyelenggaraan, melainkan menjaga marwah Singkawang sebagai kota toleran. Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menegaskan bahwa Cap Go Meh bukan sekadar agenda tahunan, melainkan warisan budaya yang tumbuh dari keberagaman etnis dan agama. Tradisi ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama dan etnis, menunjukkan bagaimana masyarakat Singkawang hidup berdampingan secara damai.

Perayaan tahun ini terasa istimewa karena berlangsung dalam suasana Ramadan. Pemerintah kota berkolaborasi dengan panitia Imlek dan Ramadan Fair agar kedua momentum keagamaan berjalan harmonis, bahkan pawai obor menyambut Ramadan digelar bertepatan dengan malam Tahun Baru Imlek. Rangkaian Festival Cap Go Meh Singkawang dimulai sejak hari ke-13 Imlek melalui pawai lampion, diikuti ritual bersih kota serta prosesi tatung ke kelenteng, dan puncaknya pada hari ke-15 dengan ritual sakral serta parade tatung keliling kota.

Harmoni di Singkawang juga terasa hangat di halaman Masjid Raya Singkawang, tempat ribuan warga duduk bersila dalam buka puasa bersama akbar. Momen ini memperlihatkan tidak ada sekat identitas maupun jarak keyakinan, dengan kehadiran warga lintas agama yang menunjukkan toleransi yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, menyebut momen tersebut sebagai simbol kuat kebersamaan masyarakat. Menurutnya, buka puasa bersama ini bukan sekadar momentum Ramadan, tetapi wujud nyata persaudaraan masyarakat Singkawang. Ia menambahkan, di tengah berbagai perbedaan, masyarakat tetap bersatu dengan semangat kebersamaan dan saling menghormati.

Nilai-nilai Ramadan seperti keikhlasan dan kepedulian, menurut Muhammadin, menjadi inspirasi bersama untuk memperkuat solidaritas sosial. Ini menunjukkan bagaimana perayaan keagamaan dapat menjadi jembatan untuk mempererat tali persaudaraan di antara berbagai kelompok masyarakat.

Dari panggung utama Festival Cap Go Meh Singkawang, pesan tentang persatuan menggema lebih luas dari sekadar perayaan budaya. Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menilai pertemuan dua tradisi besar Imlek dan Ramadan sebagai gambaran harmonisasi yang telah lama mengakar di daerahnya.

Di hadapan ribuan warga dan tamu undangan, Norsan menggambarkan suasana Singkawang sebagai potret kebersamaan yang hidup, di mana lampion Imlek berpadu dengan semangat Ramadan dalam suasana saling menghormati. Ia menegaskan bahwa keharmonisan sosial bukan hanya nilai kultural, melainkan fondasi strategis pembangunan daerah.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengapresiasi Singkawang sebagai “melting pot” tempat berbagai etnis hidup berdampingan dalam harmoni. Baginya, Festival Cap Go Meh ini bukan hanya ekspresi tradisi, tetapi juga bukti bahwa keberagaman harus dijadikan kekuatan.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Singkawang, Baharuddin, menegaskan bahwa pihaknya rutin mempertemukan tokoh agama dan budaya dalam forum musyawarah untuk merawat kepercayaan sosial. Singkawang telah tiga kali dinobatkan sebagai kota tertoleran di Indonesia, sebuah predikat yang menjadi motivasi untuk terus membumikan nilai-nilai Pancasila.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi